Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

Yudhistira Adityawardhana oleh Yudhistira Adityawardhana
29 Juli 2026
A A
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana mengajarkan saya banyak hal.

Saya manusia biasa yang alhamdulillah mendapat kesempatan kuliah pascasarjana S2 dan S3. Tidak pernah terbayang saya bakal menempuh pendidikan hingga S3. Saat menempuh S1 di sebuah PTN di Jawa Timur, saya hanya berpikir untuk segera lulus lalu bekerja. 

ADVERTISEMENT

Nasib berkata lain. Setelah lulus S1 Teknik Material, saya lanjut S2 Teknik Metalurgi dan Material di salah satu PTN di Jawa Barat. Setelahnya, saya menempuh S3 Teknik Mesin di salah satu kampus ternama di Taiwan.

Kaget dengan culture kuliah S2

Sesungguhnya saya senang selama studi S2. Secara SKS memang lebih sedikit dibanding ketika S1, tapi di S2 saya merasa lebih bisa fokus ke bidang tertentu yang saya senangi. 

Sebenarnya, secara keilmuan saya tidak perlu banyak penyesuaian. Pembahasan dan bahasanya masih sama. Hanya satu hal yang lumayan bikin deg-degan, penelitian saya untuk tesis mesti ada konferensinya dan diterbitkan di jurnal ilmiah. 

Awalnya saya santai saja. Saya belum tahu kalau publikasi jurnal ilmiah harus ditulis dalam bahasa Inggris dan publikasi ke jurnal terindeks Scopus Q2. 

Tanpa tahu betapa ribet menerbitkan jurnal ilmiah, saya memulai tesis di semester 3 dengan pola atau ritme mengerjakan skripsi. Saya ditegur pembimbing. Dibilang penulisannya buruk, serta belum mandiri dan teliti  dalam mengerjakan eksperimen. 

Saat itu 2021, pandemi sedang merajalela. Penerapan proteksi kesehatan begitu ketat di laboratorium, saya jadi tidak bisa luwes melakukan penelitian.  

Baca Juga:

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

Tugas Akhir Jurnal sebagai Pengganti Skripsi Bukan Solusi kalau Budaya Riset Kampus Masih Setengah Hati

Menjelang sidang, laboratorium tutup karena PPKM darurat. Eksperimen saya belum selesai dan terpaksa memasukan data sekunder dari literatur untuk menutupinya. Kemudian, saya masih bisa melakukan konferensi internasional dengan data seadanya. 

Konferensi internasional adalah tantangan lain. Itu pertama kalinya saya berbicara di depan publik menggunakan bahasa Inggris. Rasanya deg-degan, saya latihan mati-matian dengan teman S2  yang lain. 

Setelah itu saya sidang dan untung saja lulus. Namun, perjalanan studi S2 tidak hanya sampai di situ. Walau sudah lulus dan mengantongi ijazah, saya tetap harus melanjutkan eksperimen yang belum selesai karena penelitian itu harus dipublikasikan. Publikasi murni harus dari eksperimen. 

Pengalaman publikasi jurnal saat S2

Akhirnya, eksperimen penelitian saya selesai. Berdasar eksperimen itu, saya langsung menyusun tulisan untuk publikasi jurnal terindeks Scopus Q2. 

Ini bagian paling berat. Saya masih awam dan pembimbing sudah lepas tangan, berharap saya belajar sendiri. Ketika selesai menulis dan menyerahkan manuskrip ke pembimbing, tulisan saya hanya dapat sedikit komentar, tapi tajam. 

Sebenarnya bisa saja saya tidak publikasi jurnal, tapi saya harus mengembalikan dana hibah penelitian yang mahal itu. Uang dari mana coba? Maka satu-satunya pilihan saya adalah bertahan dan menerbitkan penelitian. 

Dua kali tulisan saya ditolak penerbit yang terindeks Scopus. Pembimbing mengkritik saya lagi. Saya hampir menyerah. Akhirnya saya menggunakan jasa proofreader agar tulisan bisa segera tembus. Alhamdulillah, akhirnya saat percobaan ketiga berhasil diterima meskipun saat diterima indeks jurnal saya turun menjadi Q3.

Punya bekal pengalaman publikasi jurnal saat S3

Saya kuliah S3 di Teknik Mesin di Taiwan. Untuk lulus, saya harus punya dua publikasi Q1 standar web of science (WOS). Bagi saya, standar ini lebih sulit dibanding Scopus. Untung saja saya sudah punya pengalaman publikasi jurnal saat S2, saya jadi lebih siap. 

Sebelum dan saat berjalannya penelitian, saya jadi lebih banyak membaca penelitian yang terindeks Q1. Saya pelajari topik-topiknya, penyajian konten, dan penyampaian dalam bahasa Inggris. 

Alhamdulillah, publikasi pertama saya di Q1 diterima dan terbit. Perjalanan berlanjut di artikel publikasi ilmiah yang kedua. Ini lebih menantang karena saya harus ganti judul sebanyak dua kali. Judul ke-3 baru bisa tembus. Kemudian, akhirnya dengan dua publikasi Q1 saya bisa lulus S3.

Jujur, pengalaman menerbitkan publikasi jurnal selama pascasarjana mengajarkan banyak sekali hal. Tidak hanya mengasah ilmu yang selama ini saya dalami dan pelajari, pengalaman ini juga mengasah saya jadi pribadi lebih tangguh. 

Poin ke-2 benar-benar saya rasakan. Bagaimana untuk tidak menyerah setelah ditolak berkali-kali bukanlah hal yang mudah. Selain itu, saya jadi lebih tekun dan teliti dalam megerjakan segala sesuatu. 

Tidak lupa, saya juga belajar untuk tetap berintegritas. Menunggu dalam ketidakpastian benar-benar menggoncang iman untuk melakukan segala cara sekalipun menyalahi etika penelitian. Untung saja saya tidak tergoda. 

Penulis: Yudhistira Adityawardhana
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: jurnalpascasarjanapublikasipublikasi jurnalS2S3
Yudhistira Adityawardhana

Yudhistira Adityawardhana

Saya Yudhistira Adityawardhana, lulusan S3 Teknik Mesin dari National Taiwan University of Science and Technology. Saat ini saya memiliki minat menulis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta esai yang membahas pengalaman dan opini saya.

ArtikelTerkait

Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Lanjut Kuliah S2 Beda Jurusan Alias Nggak Linier jurusan s2

Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Lanjut Kuliah S2 Beda Jurusan alias Nggak Linier

23 April 2025
Mas Gibran, Please Banget, Jadi Pengusaha Bukan Solusi dari Masalah Lapangan Kerja!

Mas Gibran, Please Banget, Jadi Pengusaha Bukan Solusi dari Masalah Lapangan Kerja!

2 Desember 2023
pascasarjana

Apa Iya, Pendidikan Pascasarjana Itu Pelarian Saja?

28 Agustus 2019
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

13 Oktober 2025
Jangan Sombong Saat Dapat PhD, Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang di Baliknya Mojok.co

Jangan Sombong Saat Meraih PhD, di Balik Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang

12 Februari 2026
Nyatanya, Ijazah S2 Memang Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja. Mau Jadi Peneliti, Nggak Bisa, Mau Kerja, Tambah Nggak Bisa kuliah s2

Kuliah S2, Nyatanya Memang Bukan untuk Orang Miskin. Lo Punya Duit, Lo Punya Kuasa!

23 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral Terminal

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral

23 Juli 2026
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

28 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026
Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos Mojok.co

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

28 Juli 2026
Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

23 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.