Informasi
ADVERTISEMENT

Ragu lanjut kuliah S3 karena pakar dan akademisi cuma dipandang sebelah mata di negara ini

Ragu lanjut kuliah S3 karena pakar dan akademisi cuma dipandang sebelah mata di negara ini Mojok.co

Sebulan terakhir saya menatap berkas akademik di tumpukan dokumen dengan pandangan nanar. Saya sedang mempersiapkan pendaftaran kuliah S3 di UGM, tentu dengan rencana jalur beasiswa. Sementara, menjadi seorang pakar dan akademisi di Indonesia hari-hari ini begitu melelahkan. 

Sebagai lulusan S2 Kajian Budaya yang beruntung mencicipi beasiswa penuh LPDP, idealisme saya awalnya masih menyala-nyala. Rencana besar sudah tersusun rapi di kepala. Saya akan mengabdi pada keilmuan, melakukan riset film & budaya yang mendalam, dan bersiap melanjutkan kuliah S3.

Saya pikir, modal saya sudah lumayan lengkap untuk disebut sebagai manusia yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Di dunia akademik, saya rutin bekerja sebagai asisten peneliti, membedah teori-teori sosial yang rumit, menyunting draf naskah, hingga berhasil menembus publikasi jurnal internasional terindeks Scopus dan Sinta.

Di dunia praktisi, kaki saya menapak bumi dengan bekerja di industri kreatif sebagai sutradara film dokumenter dan fiksi. Kadang saya juga bekerja mengelola strategi pemasaran digital di sebuah perusahaan swasta. Nyaris total diakumulasi, ada 11 perusahaan swasta dan 3 lembaga riset di mana saya pernah mengabdi di akademik maupun praktisi.

Itu semua dibangun selama 16 tahun kisanak! Kurang komplet apa coba? Ilmu teoritis walau sedikit sudah punya, keterampilan taktis di lapangan juga berusaha menguasai.

Akan tetapi, semua kebanggaan itu mendadak runtuh dan menguap jadi rasa minder yang mencekik leher ketika saya membuka media sosial belakangan ini. 

Gelar kepakaran yang berakhir jadi bahan olok-olokan pejabat

Mereka yang kuliah tinggi, katakanlah S3, kemudian menjadi pakar dan akademisi yang mencoba kritis kini tidak dihormati. Mereka malah jadi bahan olok-olokan pejabat. Buktinya, dalam sebuah pidato politik yang videonya viral baru-baru ini, sang pemimpin dengan entengnya menyindir para pengkritik lewat kalimat menohok, “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok.”

Kalimat itu menampar saya dan mungkin siapa saja yang menghabiskan waktu mudanya mendekam di perpustakaan, membaca ratusan buku, begadang menyusun metodologi penelitian, mengetik puluhan jam di depan layar laptop, dan memeras otak demi melahirkan analisis yang presisi. 

Di negeri ini, dedikasi bertahun-tahun untuk menguasai sebuah keahlian bisa hangus seketika hanya dengan satu label goblok dari mulut pejabat. Mirisnya, pidato tersebut mendapat tepuk tangan dari hadirin. 

Melanjutkan S3 masihkah  relevan di negara yang nggak mengharagi pakar? 

Pertanyaan eksistensial pun muncul di kepala saya. Apakah rencana saya untuk lanjut kuliah S3 masih relevan di tengah iklim anti-intelektualisme yang akut ini?

Buat apa saya menghabiskan sisa umur untuk belajar filsafat kontemporer, membedah struktur sosial secara ilmiah, pengkajian seni rupa-pertunjukan, atau menganalisis pergeseran budaya masyarakat urban, jika keputusan-keputusan penting di negara ini pada akhirnya diambil berdasarkan wangsit, intuisi politik yang acak-acakan, dan kesepakatan bagi-bagi kekuasaan di balik pintu tertutup?

Untuk apa ada beasiswa triliunan rupiah yang mendanai anak-anak muda kuliah sampai ke ujung dunia. Namun, pada akhirnya lembar-lembar rekomendasi kebijakan dari para doktor dan profesor hanya berakhir menjadi pembungkus gorengan atau pengganjal meja yang goyang di kantor dinas?

Menuntut ilmu setinggi langit di Indonesia rasanya seperti membeli tiket bioskop mahal-mahal hanya untuk menonton film yang proyektornya rusak dan layarnya buram. Kamu tahu ceritanya berantakan, tapi kamu tidak punya kuasa untuk mengganti sutradaranya.

Mungkin, uang negara yang dialokasikan untuk mendanai riset-riset ilmiah yang rumit itu sebaiknya dialihkan saja. Daripada dipakai membiayai orang-orang seperti saya yang berniat lanjut S3, tapi berpotensi jadi pakar “goblok” di mata pemerintah, lebih baik anggarannya dipakai untuk mendanai proyek yang lebih konkret. 

Jujur, melihat bagaimana cara birokrasi bekerja hari ini, tampaknya gelar doktor lewat S3 jadi nggak ada harganya. Sulit-sulit mendalami pengetahuan dan menjadi pakar akhirnya dikatai “goblok” dan tidak dipercaya. Rasa-rasanya, pilihan karier ini perlu dipikirkan ulang. 

Penulis: Purwoko Ajie
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 11 alasan yang bikin orang berpikir dua kali sebelum mendaftar SMK Jurusan Tata Boga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2026 oleh .

Purwoko Ajie

Purwoko Ajie adalah Content Creator, Kritikus Film, dan Researcher dengan latar belakang Televisi dan Film serta Kajian Budaya. Aktif menulis dan membicarakan film di mOntasefilm, serta Nominator Kritik Film Festival Film Indonesia (FFI) 2025.