Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

Telaga El Kautsar Rahmatania oleh Telaga El Kautsar Rahmatania
10 Juni 2026
A A
10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari di Taiwan yang membuka mata saya.

Peralihan musim semi ke musim panas menjadi momen istimewa bagi sebagian orang. Di saat itulah institusi pendidikan di beberapa negara melaksanakan commencement atau perayaan wisuda untuk mahasiswanya. 

ADVERTISEMENT

Bertepatan dengan musim wisuda ini, kakak saya yang menamatkan studi magister di National Chengchi University juga menamatkan studinya. Akhirnya, pada Mei hingga Juni ini saya melancong ke Taiwan untuk menghadiri wisudanya. 

Tentu saja saya begitu antusias menyambut perjalanan ini. Selain karena kali pertama saya menginjakkan kaki di Negeri Formosa, saya juga sangat penasaran dengan kehidupan di sana.

Tepat hari pertama sampai di Taiwan saya langsung disambut cuaca yang sangat terik, usut punya usut ternyata Taiwan sedang dilanda El Nino. 

Berjalan di luar ruangan rasanya mirip seperti daging wagyu yang lagi dipanggang di atas grill. Kelamaan di luar ruangan bisa overcook dan bikin kulit indonesia yang sudah sawo matang jadi tambah gosong. 

Syukurnya, gelombang panas akibat El Nino hanya terjadi dua hari. Selebihnya, cuaca disana masih bisa ditolerir. Walau memang, suka berubah-ubah seperti sifat manusia, kadang dingin, hujan, bahkan berangin. 

Healing sejenak di negara orang

Selama di sana saya benar-benar memanfaatkan waktu untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana tidak? Sebagai warga negara Indonesia, tinggal di tanah air belakangan ini terasa kian melelahkan secara mental. Hari hari harus terpapar berita buruk akibat ulah kebijakan pemerintah, padahal survive di tengah kondisi ini juga jadi beban tersendiri bagi kita. 

Baca Juga:

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

Sebaliknya, saya justru merasa sangat nyaman selama berada di Taiwan meskipun harus berhadapan dengan banyak aturan. 

Selama sepuluh hari di sana, ada sesuatu yang mengubah cara pandang saya dalam melihat kualitas hidup. Ternyata, kualitas hidup tidak selalu diukur dari hal-hal besar, melainkan dari berbagai hal kecil yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik. 

Sayangnya, hal sekecil itu justru tidak saya temukan saat berada di Indonesia. Kesenjangan inilah yang membuat kualitas hidup di Taiwan dan Indonesia terasa jauh berbeda. 

#1 Keamanan di ruang publik Taiwan rerjamin

Ketika berada di tempat umum seperti di stasiun maupun halte bus, saya tidak pernah melihat orang menaruh tas backpack di depan. Selama di sana, saya juga mempraktikkan hal yang sama. Benar saja, tidak terjadi apa-apa bahkan di tengah keramaian sekalipun. 

Berbeda ketika di Indonesia, baru nunggu bus di terminal saja saya harus bergegas memindahkan tas backpack ke depan, tentu untuk alasan keamanan. 

#2 Transportasi umum di Taiwan lengkap

Taiwan memiliki ragam pilihan transportasi, mulai dari sepeda sewa (UBike), MRT, taksi online, hingga bus. Rute-rute yang tersedia juga mampu menjangkau jarak jauh, sehingga sangat memudahkan kita untuk melakukan mobilitas di banyak tempat. 

Keragaman transportasi ini juga dibarengi dengan tingkat keamanan yang tinggi, kebersihan yang terjaga, serta harga yang ramah di kantong. 

Sebagai pengguna transum, tentu saya merasa sangat dimanjakan. Bahkan, meski beberapa kali menaiki MRT dan bus di jam sibuk (rush hour), saya tidak pernah takut (amit-amit) terkena pelecehan seksual. Walaupun harus tetap waspada, tapi perasaan aman selalu melekat ketika menggunakan transportasi umum di sana. 

#3 Nggak banyak tempat sampah, tapi bersih

Salah satu hal yang membuat saya harus beradaptasi ketika sampai di Taiwan adalah keharusan untuk menyimpan sampah saat bepergian. Hal ini karena Taiwan sangat minim tempat sampah di ruang publik.  

Menariknya, meski tidak banyak tempat sampah, sudut sudut di Taiwan sangat bersih. Nyaris nggak ada sampah berserakan di jalanan maupun trotoar. Bayangin aja kalau di Indonesia, ada lahan kosong aja bisa jadi wahana baru alias tempat pembuangan sementara. 

Meski di Taiwan minim pembuangan sampah, tapi pemerintah dan masyarakat sana sangat bijak dalam mengatur persoalan sampah. Begitu alunan musik khas dari truk sampah mulai terdengar, masyarakat akan bergegas keluar rumah dan mengantre untuk membuang sampah yang telah mereka pilah. Rupanya ini yang membuat Taiwan jadi negara teratas di dunia dalam hal pengelolaan sampahnya. 

#4 Public space Taiwan inklusif

Taiwan memiliki banyak public space yang ramah bagi semua kalangan, mulai dari lansia, anak-anak, orang dewasa, hingga hewan peliharaan. Jika ingin rehat dari kepenatan, kita cukup pergi ke taman terdekat untuk menikmati udara segar, melihat berbagai burung cantik mendarat sambil berkicau merdu, juga doggy- doggy lucu peliharaan tuan dan puan yang berjalan tanpa gonggongan yang mengganggu. 

Rasa tenang ini tidak hanya tercipta dari kondisi sekitar, tetapi juga dari perilaku masyarakatnya. Saat berada di tempat umum, masyarakat di sana tidak pernah berbicara dengan nada tinggi. 

Keteraturan tersebut juga tampak dari bagaimana mereka menata area komersial. Di area public space, saya jarang menemui pedagang keliling. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung jari. 

Lucunya lagi, saya tidak pernah merasa iba untuk mengasihani para pedagang tersebut. Penampilan mereka sangat rapi, bahkan ponsel yang mereka gunakan bermerek Apple versi tinggi. Mungkin Ini kali ya gambaran CEO yang menyamar wkwkwk. 

#5 Pedestrian aman, hirarki jalan ditaati

Selama di Taiwan saya merasakan betul menyeberang tanpa rasa khawatir. Meski pengendara di sana melaju dengan kecepatan kencang, mereka tidak pernah berusaha menyerobot pelican cross ketika lampu hijau pejalan kaki sudah menyala. 

Bahkan, ketika kita menyeberang di jalur yang tidak dilengkapi pelican cross, para pengendara di sana akan langsung memberi ruang pejalan kaki terlebih dahulu. 

Terus terang sebagai pejalan kaki saya merasa sangat dihargai haknya.

Bandingkan ketika di Indonesia, para pengendara di jalan cenderung tergesa-gesa tanpa memperdulikan keselamatan pejalan kaki. Bagi mereka, yang terpenting bisa sampai ke tujuan secepat mungkin. 

Jalanan di Taiwan nggak hanya di desain untuk pengguna kendaraan saja, alias ramah pejalan kaki. Jadi, jangan khawatir kalau mau bepergian jalan kaki di sana. Sebagai pejalan kaki, kita difasilitasi dengan akses trotoar yang luas tanpa ada kepulan polusi dari knalpot , apalagi suara bising knalpot brong yang sering kita temui di tanah air.

Alih-alih di Indonesia mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menunjang kenyamanan bersama, kita justru harus terus berkompromi dengan keterbatasan sistem publik yang ada. 

Yang pasti, sepulang dari Taiwan saya justru mengalami reverse culture shock di negeri sendiri. Setelah sempat menjalani kehidupan dengan aturan yang jelas, kembali ke realitas sehari-hari di tanah air kian menyadarkan saya kalau kualitas hidup di Indonesia  tertinggal jauh.

Penulis: Telaga El Kautsar Rahmatania
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Juni 2026 oleh

Tags: Indonesialuar negeritaiwanwisuda
Telaga El Kautsar Rahmatania

Telaga El Kautsar Rahmatania

ArtikelTerkait

Perbedaan Starbucks di Jepang dan Indonesia Terminal Mojok

Perbedaan Starbucks di Jepang dan Indonesia

17 Mei 2022
Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal Mojok.co

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

8 Maret 2026
Trotoar di Indonesia Sangat Tidak Manusiawi untuk Wisatawan yang Bawa Koper

Trotoar di Indonesia Sangat Tidak Manusiawi untuk Wisatawan yang Bawa Koper

15 November 2023
4 Adegan Drama Korea yang Nggak Relate bagi Orang Indonesia Mojok.co

4 Adegan Drama Korea yang Nggak Relate bagi Orang Indonesia

16 Januari 2024
Wisuda UIN SAIZU Purwokerto: Wisuda Terbaik yang Nggak Menguras Duit, Justru Dapat Banyak Benefit

Wisuda UIN SAIZU Purwokerto: Wisuda Terbaik yang Nggak Menguras Duit, Justru Dapat Banyak Benefit

5 Desember 2023
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Ketika Kepolisian Indonesia Fobia dengan Sepak Bola

13 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari Terminal

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

30 Juni 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri Kerap Dianggap Tempat Paling Rapi di Dunia, padahal Justru Sebaliknya, Titik Kumpul Masalah dan Kekacauan!

29 Juni 2026
Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

24 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026
Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.