Saya telah menyelesaikan pendidikan S3 di Taiwan pada tahun 2025 melalui beasiswa penuh dari kampus, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Beasiswa ini memberikan kebebasan karena tidak mengikat penerimanya dengan kontrak kerja setelah lulus. Misalnya saja saya, tidak ada yang mempermasalahkan dengan pilihan saya kembali ke Indonesia untuk beristirahat sekaligus cari kerja.
Saat mendaftar pada tahun 2022, beasiswa ini memang tidak sepopuler program seperti LPDP, Fulbright, atau Chevening. Proses seleksinya pun nggak ribet, relatif sederhana hanya melalui seleksi berkas tanpa wawancara. Saya pun coba-coba dan berhasil lolos.
Tantangannya justru muncul setelah diterima kuliah di Taiwan. Terutama dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di negeri orang yang beda bahasa dan budaya. Pengalaman yang bikin nangis, tapi sekaligus membuat saya makin “kaya” sebagai manusia.
Kuliah di Taiwan dengan dana terbatas bikin pandai mengatur keuangan
Beasiswa yang saya terima mencakup biaya kuliah dan uang saku sekitar Rp9 juta per bulan. Jumlah tersebut memang tidak besar dibanding beasiswa lain. Apalagi duit itu belum termasuk tempat tinggal dan asuransi kesehatan. Tentu sebagai mahasiswa asing mendang-mending, duit itu harus dikelola dengan cermat supaya cukup.
Beasiswa ini hanya berlaku 3 tahun, sesuai dengan masa studi S3 yang memang dirancang 3 tahun saja. Walau begitu, kenyataannya, lulus tepat waktu begitu sulit, banyak mahasiswa yang melebihi masa studi. Kalau hal seperti ini terjadi, penerima beasiswa kampus hanya dibebaskan biaya kuliah saja selama satu tahun tanpa uang saku.
Berat bukan? Tekanan untuk lulus tepat waktu cukup besar. Namin, dari situ saya belajar untuk mengatur keuangan dan ekspektasi.
Baca halaman selanjutnya: Tantangan bahasa dan …



















