Tidak terasa, Banjarbaru, kota kelahiran saya yang memiliki julukan “Kota Idaman” ini sudah empat tahun menyandang status sebagai Ibu kota provinsi Kalimantan Selatan menggantikan kota Banjarmasin. Tapi perubahan ini seakan tak berarti apa-apa, karena Banjarbaru ini ibu kota provinsi rasa (ibu kota) kabupaten. Lah kok bisa?
Sedikit kilas balik, perubahan status ibu kota dari Banjarmasin ke Banjarbaru terjadi pada tanggal 16 Maret 2022. Penetapan ini disahkan pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2022 tentang Provinsi Kalimantan Selatan. Satu bulan menjelang hari jadi Kota Banjarbaru yang ke-23 setelah resmi berpisah jadi bagian kawedanan Kabupaten Banjar pada tanggal 20 April 1999.
Saya yakin teman-teman pun masih banyak yang belum tahu dengan adanya perubahan status ibu kota dari provinsi yang ikonik dengan salah satu Pasar Terapung terbesar di dunia ini. Jangankan kalian yang di luar Kalsel, bahkan sampai detik ini saya masih menemukan komentar orang Kalsel sendiri yang masih belum ngeh kalau ibu kota mereka sudah pindah ke Banjarbaru.
Dan bagi mereka yang sudah tahu pun, terkhusus warga Banjarmasin, masih ada loh yang belum menerima kenyataan bahwa kota mereka sudah bukan lagi berstatus sebagai Ibu kota provinsi. Masih sering saya menemukan komentar saling ejek di media sosial, khususnya di akun homeless media lokal.
Banjarbaru bisa berubah jadi miniatur Venesia saat hujan lebat melanda
Terkait saling ejek ini salah satu contohnya adalah saat hujan lebat melanda, baik ruas jalan utama; seperti jalan A. Yani dan Trikora, maupun jalan arteri di beberapa wilayah langsung menjelma jadi miniatur Venesia alias banjir.
Hal ini disebabkan drainase kota yang semrawut dan masih belum bisa menampung debit air dalam skala besar. Tidak perlu menunggu waktu lama, hampir serentak video laporan masyarakat langsung menghiasi story maupun feed Instagram homeless media lokal terkait fenomena banjir dadakan ini.
“Memang ya, ciri ibu kota itu selalu banjir.”
“Masa iya sih, sekelas ibu kota selalu banjir pas hujan.”
Yah, itulah beberapa komentar netizen yang terkesan template kalau lagi nyindir Banjarbaru yang mendadak banjir ketika dilanda hujan lebat. Meskipun pada faktanya banjir tersebut hanya bersifat sementara, menyusul proses pembuangan debit air akibat hujan di setiap titik serapan menuju sungai-sungai yang ada di Banjarbaru. Sungai Kemuning yang membelah kota Banjarbaru berfungsi sebagai sistem drainase utama yang bermuara menuju sungai Martapura.
Memang harus diakui, permasalah drainase ini sudah jadi isu lama yang tak kunjung selesai. Mulai dari perawatan yang masih kurang mendapat perhatian, pemukiman yang drainasenya tidak terintegrasi dengan jaringan drainase utama alias buntu, sampai kepada perilaku masyarakat yang masih suka membuang sampah hingga menjadi tumpukan dan menyumbat aliran air.
BACA JUGA: 3 Pertanyaan Nyeleneh Seputar Pulau Kalimantan
Jangan berharap ada banyak gedung tinggi di Banjarbaru
Kalau mendengar kalimat “Ibu Kota Provinsi” pasti salah satu yang terlintas dalam imajinasi adalah banyak gedung-gedung tinggi, minimal di tengah pusat kota. Tolong buang jauh-jauh imajinasi sesat itu ya, teman-teman.
Bangunan tertinggi di Banjarbaru justru dimiliki oleh bangunan dalam kompleks perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan yang terletak di daerah Palam, Cempaka. Tingginya pun tidak tinggi-tinggi banget, kurang dari 50 meter. Dan jarak kompleks perkantoran ini pun lumayan jauh dari pusat kota Banjarbaru.
Bangunan komersil seperti Q-Mall pun terkesan flat dalam hal ukuran tinggi bangunan. Pusat perbelanjaan favorit warga Banjarbaru dan Kabupaten Banjar—khususnya Martapura—ini hanya memiliki tinggi sekitar 3-4 lantai saja. Kalah jauh dibandingkan dengan Duta Mall di Banjarmasin yang punya ketinggian setara 6 lantai.
Terus bangunan tinggi di Tengah kota apa dong ? Cuma ada tower atau menara air jadul milik PDAM yang sudah tidak beroperasi lagi sejak tahun 1994. Tower ini ada di tengah taman Van der Pijl dengan spesifikasi diameter bangunan 8 meter dan tinggi 30 meter. Pemerintah kota lebih memilih mempertahankan bangunan kuno tersebut dengan memberikan sentuhan modern. Apalagi kalau bukan cat warna-warni dengan corak kain tradisional Sasirangan.
Jadi kalau kalian ditakdirkan bertamu sejenak atau bahkan menetap di kota Banjarbaru, jangan berharap ketemu bangunan seperti Autograph Tower di Jakarta atau The Peak (Tunjungan Plaza 5) di Surabaya.
Kalau kalian ingin melihat hamparan luas kota Banjarbaru, salah satu alternatifnya kalian bisa naik ke rooftop Aeris Hotel yang terletak di ujung jalan Panglima Batur. Dari sana kalian sudah bisa menikmati suasana kota Banjarbaru sambil mengabadikan sunset tanpa takut ada polusi bangunan yang menghalangi penglihatan.
Jalanan sempit dengan volume kendaraan yang membludak, tentu saja macet!
Nah ini sih kenapa di awal saya bilang Banjarbaru adalah Ibu kota Provinsi rasa Ibu kota Kabupaten. Salah satu alasannya adalah akses jalan yang kurang memadai. Terkhusus alasan jumlah moda transportasi roda empat yang makin banyak dimiliki, baik dari warga Banjarbaru sendiri maupun warga kabupaten/kota tetangga yang melintasi jalanan ibu kota.
Tidak usah kita bandingkan dengan ibu kota provinsi lain deh, dengan mantan ibu kota terdahulu Banjarmasin saja sudah kalah telak. Jalan utama seperti jalan A.Yani di Banjarmasin saja bisa menampung 3-4 mobil kalau dijejerin, itu pun masih sering macet.
Nah kalau di Banjarbaru, dengan nekat menjejerkan 3 mobil sama saja menciptakan kemacetan. Skill pengendara motor sangat diuji untuk mencari celah di antara mobil kalau sudah dalam posisi seperti ini.
Jalan arteri atau jalan tikus pun sama saja, kecil dan sempit. Kalau kamu punya mobil Fortuner atau Pajero Sport, alangkah baiknya jangan terlalu nekat lewat jalan tikus ya. Selain nyusahin diri sendiri, kamu juga sukses membantu nyusahin orang lain yang pengen buru-buru.
Titik macet terparah di kota ini ada di Bundaran Simpang Empat. Bundaran ini menjadi titik temu dari empat ruas jalan besar yang menghubungkan antar kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Sialnya, di sekitaran bundaran itu juga banyak terdapat bangunan yang menjadi pusat pergerakan warga kota. Seperti pusat perbelanjaan Q-Mall, fasilitas rumah sakit, pom bensin, kampus Universitas Lambung Mangkurat, dan masih banyak lagi. Tak ayal, arus lalu lintas terpadat ada di sini.
Jadi jangan heran kalau di jam sibuk, kondisi jalanan di sana padat merayap. Sekadar saran saja, kalau ada urusan mendadak dan terpaksa melewati bundaran simpang empat di akhir pekan, lebih baik gunakan roda dua. Percayalah, itu akan sangat membantu mengurangi misuh-misuh Anda di jalanan. Tapi kalau kamu kangen suasana macet di kota besar, ya sudah, nikmati saja.
Masalahnya masih banyak banget
Banjarbaru masih banyak menyimpan pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Apalagi semenjak menyandang status Ibu kota Provinsi. Dan ini sesungguhnya bukan hanya tugas yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota saja, namun juga turut sertanya masyarakat juga diperlukan.
Sebagai warga asli Banjarbaru yang dari orok hingga punya orok, saya jujur turut bangga dengan terpilihnya Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini seperti mewujudkan harapan jadi nyata seorang dr. Murjani (Gubernur pertama Kalimantan) dan Van der Pijl (arsitek asal Belanda yang dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Banjarbaru) yang menginginkan Banjarbaru sebagai ibu kota Kalimantan kala itu.
Namun dengan kondisi saat ini, suka tidak suka, Banjarbaru masih belum sepenuhnya pantas disebut sebagai Ibu kota Provinsi. Saya lebih suka menyebut Banjarbaru sebagai Ibu kota Provinsi rasa Ibu kota Kabupaten. Dan apakah Lisa Halaby yang terpilih sebagai Walikota ke-6 Banjarbaru yang penuh kontroversi dalam masa pemilu kemarin mampu membuat saya mengubah pendapat saya? Kita lihat saja.
Penulis: Agus Hadi Handoko
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kuliner Banjarmasin Bikin Bingung Perantau dari Jawa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













