Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
25 Juli 2026
A A
Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Begini rasanya jadi orang Tegal ..

Kampung halaman semestinya adalah ruang paling nyaman untuk pulang. Sebuah koordinat di peta di mana waktu berjalan lebih lambat dan tiap sudutnya menyimpan memori. Itu teorinya. Namun, waktu seringkali mengubah segalanya. Bayangan ideal kita akan kampung halaman pun perlahan kabur. 

Akan tetapi, apakah kita bisa melawan waktu? Tentu tidak. Perubahan adalah keniscayaan yang tak mungkin ditolak. Kota-kota bertumbuh, zaman bergeser, dan kampung halaman menjelma menjadi tempat yang asing. 

Kota kelahiran saya, Tegal, juga tak luput dari roda transformasi tersebut. Sayangnya, perubahan yang terjadi terasa begitu memburu. Tiap sudut Tegal kini berubah menjadi mesin-mesin penghabis uang warganya.

Di daerahnya sendiri warga merasa “kalah” dan tak berdaya terhadap perubahan yang ada. 

Kafe menjamur di Tegal siapa sih target market-nya?

Kalian tahu? Sebagai orang yang sudah tinggal selama 23 tahun di kota Tegal dan sekarang bermukim di kabupatennya, saya selalu clingak-clinguk kagum tiap kali ke Tegal. Pasalnya, selalu saja ada yang baru di sana. Entah coffee shop, tempat makan, hotel… apa saja! Bahkan, pernah dalam satu waktu, ada 3 tempat nongkrong baru diresmikan di Tegal. Ajib nggak, tuh?

Yang lebih ajib lagi, ketika saya kepo dengan harga-harga di kafe tersebut. Ternyata harganya nggak sebanding dengan UMK Tegal yang cuma Rp2,5 juta. Mahal-mahal, Bos! 

Nasi goreng paling murah Rp50.000, kentang goreng Rp35.000, sementara minuman paling murah air mineral Rp15.000. Kalau kopi-kopian, paling murah Americano seharga Rp30.000. Harga menu lainnya? Jangan ditanya. 

Baca Juga:

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar

Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja

Maksud saya begini. Kafe-kafe di Tegal yang banyak itu, yang menawarkan secangkir kopi dengan harga yang bisa untuk makan sehari penuh itu, siapa sih target market-nya? 

Sedangkan UMK Tegal saja segitu imutnya. Ini bukan hanya saya saja yang heran, ya. Buktinya, saya sering menemukan komentar warga lokal yang menduga bahwa daerahnya jadi tempat cuci-cuci. If you know, you know.

Porsi kekalahan lainnya

Seporsi kekalahan warga kota Tegal tidak hanya pada menjamurnya tempat nongkrong elit, tapi juga karena kebijakan tata kota yang kerap membingungkan. 

Contohnya, City Walk. Landmark yang disebut-sebut jadi Malioboronya Tegal ini, jujur, kalau dilihat-lihat hanya seperti jalan satu arah yang sempit, susah parkir dan nggak tahu mau ngapain di sana. 

Ditambah penerapan sistem satu arah di sejumlah jalur pusat kota yang justru jadi sumber frustrasi harian. Terbaru, aturan parkir di area Alun-Alun Kota Tegal yang sekarang tersentral. Secara konsep bagus, sih. Cuma, kok jalan ke alun-alunnya jadi jauh gini, ya? Capek banget.

Semakin lelah karena …

Dan, kalau dikaitkan dengan semakin banyaknya kafe, hotel, dan banyak hal lain yang disebutkan di awal, maka kekalahan warga Tegal jadi bertambah lagi. Yaitu, soal drainasenya.

Pertengahan Juni lalu, kawasan Jalan Mayjen Sutoyo, salah satu jalan utama, diguyur hujan. Ehhh, baru 15 menit hujan turun, air sudah menggenang. Genangan paling parah di depan Pacific Mall. Kafe yang ada di sekitar situ juga tak luput dari banjir di area depannya.

Dahlah. Capek banget memang jadi warga Tegal. 

Sudah saatnya Pemerintah Kota Tegal mengerem gairah pembangunan gedung komersial yang ugal-ugalan. Mending mulai serius deh memperbaiki drainase. Evaluasi total juga perlu dilakukan terkait kebijakan lalu lintas satu arah dan parkir alun-alun yang tersentral. 

Saya yakin Pemerintah Kota Tegal adalah orang-orang hebat yang mau mendengar warganya. Buktinya, kebijakan Car Free Night di Alun-alun Kota Tegal yang baru seumur jagung itu, dicabut juga kan karena desakan warga? 

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2026 oleh

Tags: kalahkekalahantegalwarga lokalwarga Tegalwarlok
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

4 Alasan Orang Tegal Malah Jarang Makan di Warteg (Shutterstock)

4 Alasan Orang Tegal Malah Jarang Makan di Warteg

19 Maret 2023
Heh! Ketua DPRD DKI Jakarta, Tegal Itu Tanah Revolusi! (Unsplash)

Nggak Sepantasnya Ketua DPRD DKI Jakarta Meremehkan Tegal. Tegal Itu Tanah Revolusi!

21 Agustus 2023
6 Alasan Kota Tegal Lebih Istimewa Dibanding Bayangan Banyak Orang Mojok.co

6 Alasan Kota Tegal Lebih Istimewa Dibanding Bayangan Banyak Orang

10 Juni 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Proyek Food Truck di Tegal Itu demi Siapa? terminal mojok.co

Proyek Food Truck di Tegal Itu demi Siapa?

2 November 2021
3 Mitos Terkait Beras di Tegal yang Tidak Ada di Daerah Lain

3 Mitos Terkait Beras di Tegal yang Tidak Ada di Daerah Lain

31 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

12 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang pernah diajarkan ke anak TK, buat apa coba? Mojok

Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang diajarkan ke anak TK, buat apa coba? 

13 Agustus 2026
Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.