Sebagai orang Semarang yang hobi kulineran ke berbagai daerah, saya terkesan akan keluwesan lidah saya menerima rasa. Keseharian saya di Semarang lebih akrab dengan rasa manis dan gurih, tapi lidah ini mampu menoleransi banyak rasa lain.
Akan tetapi, kepercayaan diri itu runtuh seketika saat saya nekat menjajal kuliner Tegal, khususnya olahan kambingnya.
Sebenarnya, saya sudah sering dengar selentingan soal betapa sangarnya santapan dari Tegal. Saya pun bukan orang yang penakut soal makanan. Wujud makanan ekstrem seperti walang goreng khas Gunungkidul sampai balut dari Filipina pun pernah saya hadapi.
Sialnya, tantangan kuliner Tegal ternyata punya level yang jauh lebih garang dari yang saya bayangkan.
Sate daging anak kambing ternyata jadi menu sarapan di Tegal
Di Semarang, rutinitas sarapan biasanya cukup ditemani seporsi nasi ayam atau soto. Menu sarapan ini juga kerap saya temukan di daerah-daerah lain.
Akan tetapi, begitu menginjakkan kaki di Tegal, logika sarapan saya jadi jungkir balik. Belum juga tengah hari, mata saya dibuat terbelalak melihat deretan mobil yang sudah memadati parkiran sebuah restoran sate kambing.
Ini bukan halusinasi. Di Tegal, sate kambing bukan sekadar penghuni tenda pinggir jalan seperti yang biasa saya temui di Semarang. Kuliner ini justru kerap disajikan di restoran yang cukup mentereng, lengkap dengan pendingin ruangan.
Baca halaman selanjutnya: Yang bikin saya …













