Kebanyakan orang akan merasa bahagia melihat teman atau orang lain menikah. Namun, rasanya agak berbeda ketika sahabat baik kita yang menikah. Jelas bahagia, tapi entah kenapa bukan hanya rasa itu saja.
Bohong kalau kalian bilang hanya rasa bahagia saja yang muncul. Sebab, di balik itu ada juga perasaan sedih dan kesepian ditinggal sahabat menikah. Apalagi kalau kita sendiri belum menikah. Rasanya berat gitu melepas mereka menikah.
Sebagai seorang bujang lapuk yang mulai desperate soal cinta, saya pernah berada di situasi seperti ini. Semua sahabat baik saya (cuma dua sih) sudah menikah semua. Dan, saya mengalami betul betapa bergejolaknya hati saya ketika mengetahui (bahkan mendampingi) kedua sahabat menikah.
Kebahagiaan dan kesedihan yang sulit diungkapkan
Saya punya dua sahabat yang sudah berteman sejak kecil. Usia kami sebaya dan rumah kami sangat berdekatan. Kami hampir selalu menghabiskan waktu bersama.
Di awal 2020, salah satu sahabat saya memutuskan untuk menikah. Kabar itu bikin perasaan saya campur aduk. Di satu sisi bahagia, tapi juga ada sedihnya.
Saya bahagia sebab sahabat saya yang saya kenal dan akrab banget sejak kecil akhirnya menikah juga. Tapi, saya juga sedih, sebab setelah dia menikah nanti, saya jadi bakal jarang ketemu, jarang nongkrong lagi dengannya. Apalagi di tahun itu, saya dan dia ibaratnya sudah kayak Spongebob dan Patrick Star. Ke mana-mana bareng, ngapain aja juga bareng.
Maka ketika menghadiri prosesi akad nikahnya, saya nggak bisa membendung air mata. Saya bahkan nggak tahu pasti apakah air mata ini adalah air mata kebahagiaan, atau air mata kesedihan, atau keduanya. Akhirnya saya peluk saja sahabat saya, sembari memberikan doa-doa terbaik kepadanya.
Satu sahabat saya yang lain yang masih belum menikah tinggal Alfan. Tapi, dia sudah punya pacar, dan saya tahu mereka pasti akan menikah. Benar saja, pertengahan 2023 dia dan pacarnya memutuskan menikah. Sama seperti sebelumnya, air mata tidak terbendung di pernikahannya. Saya bahagia, sekaligus sedih.
Jujur, saya sedih di saat itu. Sebab, setelah dia menikah, saya kayak merasa sudah nggak punya lagi sahabat dekat yang sama-sama masih bujangan. Saya merasa seperti ditinggalkan oleh kedua sahabat yang sudah saya kenal dan akrab sejak kecil.
Baca juga Sambatan-sambatan Orang Umur 30 Tahun.
Merasa kesepian setelah ditinggal sahabat menikah
Setelah ditinggal menikah, perasaan lain yang muncul dalam diri saya adalah perasaan sepi. Iya, saya merasa kesepian, apalagi di beberapa bulan pertama setelah mereka menikah. Intensitas bertemu kami mulai menurun. Kami juga mulai jarang nongkrong bareng. Kayak sibuk masing-masing aja.
Satu hal yang paling terasa, saya jadi kayak nggak punya lagi tempat untuk cerita. Biasanya, saya cerita apapun ke mereka. Mulai dari soal hal-hal random, asmara, keluarga, perkuliahan bahkan politik.
Setelah mereka menikah, apalagi sekarang mereka sama-sama punya anak, saya sudah nyaris nggak mungkin cerita banyak ke mereka. Saya sadar diri, ngapain juga mereka membuang waktu dengan mendengarkan cerita dari bujangan menyedihkan seperti saya ini. Mending dengerin cerita istri dan anak-anak mereka masing-masing saja, hehehe.
Perasaan sedih dan sepi yang luntur ketika melihat mereka bahagia dengan keluarganya
Nyatanya, perasaan sedih dan sepi yang saya alami itu hanya sementara. Saya dan kalian yang mengalami perasaan serupa, nggak mungkin kan selamanya akan sedih dan kesepian setelah ditinggal sahabat menikah.
Toh, perasaan sedih dan sepi itu perlahan luntur juga ketika melihat mereka sedang berkumpul atau main dengan istri dan anak mereka. Dada saya malah penuh dengan perasaan bahagia dan bangga. Nggak apa-apa meskipun kami sudah mulai jarang nongkrong bareng, jarang berbagi cerita, yang penting mereka bisa bahagia. Toh, nanti saya juga akan seperti mereka.
Nah, sekarang pertanyaannya adalah, kira-kira kapan saya bisa menyusul kedua sahabat saya ini? Itu yang saya belum tahu, hehe.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













