Menikah Tidak Sebercanda Itu, Adique!

Artikel

Avatar

Saya tinggal di sebuah desa, tempat nenek menikah. Saya masih ingat cerita nenek tentang pernikahannya. Suatu waktu, kata nenek, tiba-tiba saja dirinya sudah di depan penghulu. Nenek duduk di samping seorang laki-laki yang kemudian disebutnya sebagai suami. Waktu itu, umur nenek masih empat belas tahun. Di usianya yang ranum itu, nenek harus menerima kenyataan sebagai istri kedua. Luar biasa!

Jauh setelahnya, setelah anak-cucu-buyut nenek bertebaran di mana-mana, saya masih menyaksikan fenomena serupa. Teman-teman saya menikah selepas lulus dari sekolah dasar. Beberapa yang lain, selepas lulus sekolah menengah pertama. Yang lain lagi, selepas lulus sekolah menengah atas.

Teman-teman yang memutuskan nikah muda, tidak melewati jalan selancar jalan tol. Melainkan jalan-jalan kecil di pedesaan yang berbatu dan berdebu. Segala upaya mereka coba. Salah satunya, ya, bekerja sejak masih belia.

Kalau teman-teman di desa saya, pekerjaannya bisa jadi serupa. Yang laki-laki jadi pandai tembaga. Sejak lulus sekolah (dasar, menengah pertama, menengah atas), mereka diantar ke juragan-juragan. Orangtuanya akan berpesan, anak saya tolong diajarkan. Setelah nginthil beberapa lama dan lihai menatah tembaga, biasanya akan membuka usaha sendiri—berdikari.

Yang perempuan biasanya akan diantar ke sekolah jahit. Setelah fasih menginjak pedal dan mengatur alur jahitan, mereka dikirim ke pabrik tekstil. Dengan kemantapan meraih cita-cita hidup bahagia dalam berkeluarga, mereka bekerja serajin-rajinnya. Lembur pun digasak begitu mudahnya.

Sementara hari ini, desa saya sudah semakin maju. Jalan-jalan tidak lagi berbatu dan berdebu. Hampir semuanya sudah diaspal. Paling tidak, ya, dicor pakai semen. Pokoknya, tidak lagi pating gronjal. Saya rasa sudah enak buat prosotan.

Begitupun dengan pola pikir orangtuanya. Hari ini, orangtua semakin mengamini pentingnya pendidikan yang tinggi. Anak-anak marak disekolahkan. Bahkan sampai perguruan tinggi. Harapannya masih sama: bekerja di tempat yang lebih bisa buat nggaya—bisa dipamerin ke tetangga. Kalau sudah selesai sekolah dan bekerja kan tinggal dinikahkan saja.

Baca Juga:  Suka Duka Menerima Gaji Dalam Mata Uang Asing: Bahagia Tapi Kepikiran Nilai Rupiah

Itulah sumber kecemasan saya. Setiap di rumah, pertanyaan nenek cuma satu, kapan ibumu punya mantu? Nenek sudah pengin punya cucu darimu. Memang klise sekali, tapi bisa saya pastikan, inilah pertanyaan yang akan naik daun beberapa waktu ke depan. Ingat, ini sudah bulan Ramadan. Tinggal menghitung hari untuk lebaran. Persiapkan saja segala macam alasan untuk menjawab pertanyaan kawakan itu.

Untungnya ibu saya santai—ora kesusu. Tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Saya berada di titik aman pertama. Sayangnya, permasalahan ada di nenek. Beliau mulai gencar mengirimkan kode-kode terbuka kepada saya. Terlebih setelah saya lulus kuliah. Nenek semakin betah duduk di samping saya, sambil sesekali bercerita tentang tetangga-tetangga yang sudah jelas tanggalnya.

Saya paham, apa yang dilakukan nenek itu sangat beralasan. Saya adalah anak pertama dan baginya sudah cukup umur. Apalagi, ternyata adik saya yang masih kelas 2 SMK, sudah punya cita-cita nikah muda. Nenek tidak mau saya dilangkahi. Adik bangsat.

Adik saya memang sedang punya pacar. Beberapa kali pacarnya datang ke rumah dan begitupun sebaliknya. Dia sering cerita kepada saya. Selama ini, hubungan dia dengan keluarga pacarnya pun terlihat lancar-lancar saja. Bahkan kemarin, saya dapat cerita dari ibu, kalau pas sadranan, orangtua pacar adik saya pun datang berkunjung. Lah ibu kok malah nambahi bingung?

Saya mengerti. Benar-benar mengerti. Hubungan adik saya dengan pacarnya sedang hot-hotnya. Cita-cita mereka cuma satu: dinikahkan segera. Mumpung api cintanya masih menggelora. Tidak baik menunda-nunda niat baik. Baik, ndiasmu! Saya pun pernah mengalami masa-masa itu. Tapi, mbok yo dipikir masak-masak dulu.

Sampai hari ini, saya tidak setuju dengan nikah muda. Apa pun dalih yang membenarkannya. Menurut saya, agar terhindar dari zina, bukan dengan dinikahkan caranya, tapi diberi pemahaman atas itu.

Baca Juga:  Pacarannya Sama Dia, Nikahnya Sama Saya. Terus Saya yang Salah?

Saya melihat fenomena dinikahkan ini seperti satu pelarian yang wagu. Hal itu dikarenakan, walaupun sudah dinikahkan, kalau tidak paham akan kaidah-kaidah yang berlaku, hal-hal semacam zina, bisa terjadi kapan pun dan di mana pun.

Selain itu, menikah bukan perkara mudah. Di luar tetek bengek kebutuhan pernikahan, menikah itu tidak lain adalah menjalani komitmen dengan orang yang sama. Seumur hidupmu akan tidur bersamanya. Jika chatmu sama pacar tidak berbalas atau cuma diread doang, kamu sudah gulung koming, saya sarankan untuk jangan menikah dulu.

Ada baiknya, jika kamu terlanjur nabung, bawa uangmu ke rentalan playstation. Mainlah sepuasmu. Kalau perlu, ajaklah pacarmu. Belikan Aice dan Silverqueen. Nikmatilah masa kanak dan remajamu dengan tertawa. Kelak ketika sudah tiba masanya, kamu akan tahu: menikah tidak sebercanda itu, Adique.

---
13


Komentar

Comments are closed.