Ada yang pernah tersiksa debu-debu Jalur Pantura Kendal?
Beberapa waktu lalu saya menyempatkan pulang ke Slawi dengan sepeda motor. Dari Semarang menuju Tegal dan sekitarnya, jalur Pantura tentu menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Selain rutenya yang relatif lurus, pengendara juga tidak perlu berjibaku dengan tanjakan dan tikungan khas jalur selatan. Buat yang ingin cepat sampai tujuan, Pantura hampir selalu menjadi opsi utama.
Akan tetapi, tanggapan bahwa perjalanan akan berjalan mulus mulai luntur begitu saya memasuki wilayah Kendal. Di sejumlah titik, perbaikan jalan masih berlangsung.
Truk proyek hilir mudik tanpa henti, tumpukan material konstruksi memenuhi sisi jalan, sementara debu beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas. Sebagai pemotor, saya tidak punya banyak pilihan selain menerima kenyataan bahwa sepanjang beberapa kilometer berikutnya, debu akan menjadi teman seperjalanan.
Bahkan, Semak belukar dan pepohonan di tepi Pantura ini terlihat kusam karena tertutup lapisan debu yang tebal. Warna hijau daunnya seperti kalah bersaing dengan warna cokelat keabu-abuan yang menempel di permukaan.
Melihat pemandangan itu, saya langsung membayangkan satu hal, jika tanaman saja bisa mengumpulkan debu sebanyak itu setiap hari, berapa banyak partikel yang terhirup oleh para pemotor dan warga sekitar yang hidup di sekitar jalur tersebut?
Kendal sedang maju, dan pantura menanggung sebagian konsekuensinya
Sulit membantah bahwa Kendal sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah ini semakin dikenal sebagai salah satu pusat industri baru di Jawa Tengah. Investasi berdatangan, pabrik bermunculan, dan kawasan industri berkembang dengan skala yang tidak main-main.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa Tengah, saya tentu senang melihat perkembangan itu. Tidak banyak daerah yang mampu menarik investasi besar sekaligus membuka lapangan kerja dalam jumlah signifikan. Di tengah situasi ekonomi yang sering membuat orang harus bersaing untuk pekerjaan, hadirnya industri jelas menjadi kabar baik.
Masalahnya, pertumbuhan ekonomi tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa rombongan. Ada truk logistik, kendaraan proyek, pembangunan infrastruktur, gudang, kawasan pergudangan, dan berbagai aktivitas pendukung lainnya. Semua itu membutuhkan ruang gerak, dan Pantura menjadi salah satu panggung utamanya.
Akibatnya, jalan yang seharusnya menjadi jalur penghubung antar wilayah kini juga menjadi ruang kerja bagi berbagai kepentingan ekonomi. Tidak heran jika pemotor yang melintas sering merasa seperti figuran yang kebetulan nyasar ke lokasi syuting film bertema gurun pasir ala Timur Tengah.
Debu yang mungkin sudah dianggap normal
Menariknya, debu di Pantura Kendal sudah dianggap lumrah oleh warlok atau mereka yang kerap melintasinya. Sama seperti panas, kemacetan, atau suara klakson truk yang biasa terdengar bahkan ketika jendela rumah sudah ditutup.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang normal dari kondisi ketika visor helm harus dibersihkan berkali-kali dalam satu perjalanan. Tidak ada yang normal ketika jaket berubah warna padahal baru beberapa jam berkendara. Dan tentu tidak ada yang normal ketika tanaman di pinggir jalan terlihat lebih abu-abu daripada menghijau.
Mungkin karena debu tidak menimbulkan efek jangka pendek. Ia tidak membuat jalan macet total. Ia tidak menciptakan lubang sebesar kolam ikan di tengah jalan. Ia hanya dianggap menempel sedikit demi sedikit, masuk perlahan ke hidung, lalu termaafkan sebagai bagian dari keseharian.
Di situlah letak kehebatannya. Debu berhasil menjadi gangguan yang cukup mengganggu untuk dirasakan, tetapi tidak cukup mengganggu untuk dipermasalahkan secara serius oleh penduduk setempat.
Kenapa saya menyarankan membawa masker satu pack?
Sebelum perjalanan itu, saya termasuk orang yang merasa satu masker saat bepergian sudah lebih dari cukup. Toh, saya hanya motoran beberapa jam, bukan mendaki gunung atau bekerja di lokasi tambang.
Ternyata saya terlalu optimistis. Setelah berkendara melewati beberapa ruas Pantura Kendal, masker yang saya pakai cepat sekali terasa tidak nyaman. Debu banyak menempel ditambah udara yang panas membuat napas terasa lebih berat.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa benda yang selama ini dianggap remeh justru menjadi perlengkapan paling berguna selama perjalanan kemarin.
Karena itu, kalau ada yang bertanya apa perlengkapan wajib saat motoran melewati Pantura Kendal, jawaban saya bukan sarung tangan, bukan jas hujan, bahkan bukan kopi botolan yang sering dianggap penyelamat saat kantuk menyerang. Jawaban utama yang akan saya sarankan adalah menyediakan banyak masker.
Bahkan, kalau perlu, bawa satu pack sekalian. Sebab saat melintasi Kendal, kemungkinan terbesar Anda bukan tersesat, bukan kehujanan, dan bukan kehabisan bensin. Kemungkinan terbesar justru pulang dengan wajah berdebu seperti ikut kerja bakti membongkar sebuah bangunan. Sungguh menyeramkan bukan?
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












