Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

Septianic Tyas oleh Septianic Tyas
8 Juli 2026
A A
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup (dinkominfo.demakkab.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi sebagian besar warga Jakarta, peta Indonesia di dalam kepala mereka itu isinya kalau nggak Jabodetabek, Bandung, Jogja, ya Bali. Di luar zona itu, blur. Pokoknya daerah lain dianggap pedalaman yang tidak punya eksistensi. Apalagi Demak, makin mereka nggak paham.

Pengalaman ini saya rasakan sendiri sejak resmi jadi pekerja kantoran di ibu kota. Di divisi tempat saya bekerja, saya adalah spesies langka yang memegang rekor sebagai “Orang Demak Pertama” yang pernah mereka temui seumur hidup. Asli, sampai bingung saya harus tersanjung atau sedih mendengarnya.

Menariknya, pengetahuan orang Jakarta tentang Demak itu cuma mentok kalau nggak sejarah masa lalu tentang Kerajaan Demak, Raden Patah, Wali Songo, Masjid Agung, ya bencana masa kini alias rob Pantura.

Gara-gara berita rob Sayung sering seliweran di media sosial, pemikiran teman-teman kantor saya langsung lompat ke kesimpulan yang radikal. Di kepala mereka, Demak itu bukan lagi sekadar wilayah bersejarah, tapi sudah resmi bermutasi jadi Atlantis versi kearifan lokal yang seluruh wilayahnya tenggelam di bawah air laut.

Ironisnya, itu belum semua. Masih banyak kekagetan orang Jakarta pada Demak yang bikin saya, ikutan heran serta miris di waktu yang sama.

Culture shock orang Jakarta saat tahu Demak nggak punya mal

Sebelum membahas soal air, puncak komedi pertama dari ketidaktahuan orang Jakarta adalah bagaimana mereka mengukur standar peradaban sebuah kota dari jumlah mal, bioskop, dan supermarket besarnya.

Mereka kaget setengah mati saat mengetahui bahwa di Demak tidak ada mal, tidak ada XXI besar (adanya bioskop kecil yang sepi banget), bahkan supermarket gede yang menjamur di ibu kota tempat biasa mereka menghabiskan uang pas gajian pun absen dari kabupaten ini. Bagi warga Jakarta yang kalau gabut sedikit langsung melipir ke Grand Indonesia atau PIM, fakta ini memicu rasa iba yang luar biasa.

Mereka langsung membayangkan betapa merana dan membosankannya masa muda saya di sana. Mereka tidak tahu saja kalau hiburan orang Demak itu ya cukup nongkrong di Alun-alun, minum wedang ronde, atau berburu kuliner di Pecinan. Tak punya mal bukan berarti kami kesepian.

Baca Juga:

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

Dikira seluruh kabupaten sudah berubah jadi waterboom

Nah, setelah tahu Demak nggak punya mal, ditambah sering melihat berita tentang parahnya rob di Sayung, imajinasi orang Jakarta ini makin liar. Mereka mengira rob di Demak itu sifatnya masif, merata, dan adil ke seluruh kecamatan.

Setiap kali musim hujan tiba atau pas ada berita air laut pasang, kubikel saya langsung ramai. Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal kerjaan, melainkan pertanyaan-pertanyaan ajaib. “Eh, lu kalau mudik ke rumah emang nggak harus naik perahu karet?”

ADVERTISEMENT

Mereka mikirnya begitu saya turun dari bus Shantika atau Muji Jaya pas mudik, saya kudu langsung ganti moda transportasi pakai jet ski buat sampai ke rumah.

Saya sampai lelah menjelaskan kalau yang parah itu di daerah pesisir seperti Sayung yang memang sudah jadi rawa permanen, sedangkan kecamatan lain yang jauh dari wilayah Sayung ya masih aman-aman saja, masih menapak tanah yang kering. Tapi ya namanya orang Jakarta, sekali mereka lihat video truk tenggelam di Pantura, di pikiran mereka seluruh kabupaten Demak langsung otomatis berubah jadi lautan.

Dikira nggak punya tempat wisata, padahal wisata kami levelnya spiritual

Miskonsepsi selanjutnya muncul karena orang Jakarta mengira tempat wisata itu jenisnya cuma ada dua: kalau nggak pantai estetik ala Bali, ya theme park modern berbayar mahal. Jadi, begitu tahu di Demak nggak ada jenis itu, mereka langsung menyimpulkan kalau kota kami ini miskin tempat liburan. Ya, walaupun terkadang sebagai anak muda saya merasa demikian sih.

Tapi mereka nggak tahu aja kalau pariwisata di Demak itu vibe-nya tenang, spiritual, dan berada di level yang berbeda. Di saat warga Jakarta harus menabung berbulan-bulan demi bisa liburan ke luar negeri, orang-orang dari berbagai penjuru pulau justru rela menyewa bus pariwisata berhari-hari demi dapat berkunjung ke Demak. Sebab bagi sebagian besar orang, wisata religi di Demak itu punya magnet yang magis.

Wisata andalan kami adalah berziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu hingga napak tilas ke Masjid Agung Demak. Bagi orang Jakarta, wisata macam ini mungkin kedengaran aneh dan absurd. Tapi bagi kami, perputaran ekonomi dari jutaan jemaah ziarah yang datang tiap tahunnya itu membuat roda ekonomi kota kami tetap berdenyut.

Itulah hal-hal tentang Demak yang bikin orang Jakarta heran. Ya begitulah efek Jakartasentris dalam kehidupan, kalau beda dikit, langsung iba. Padahal ya, benar, hahaha.

Penulis: Septianic Tyas
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: demakJakartapanturarob sayung
Septianic Tyas

Septianic Tyas

Pekerja kantoran ibu kota yang gemar menulis, berdiskusi, dan menjelajah dunia.

ArtikelTerkait

Tinggal di Depok Itu Memang Nyaman, tapi 10 Tahun yang lalu (Pexels)

Tinggal di Depok Itu Memang Nyaman, tapi 10 Tahun yang Lalu

18 Februari 2025
Jakarta Adalah Tempat Terbaik untuk Menemukan Ketenangan Melebihi Jogja (Unsplash) umr

Bisakah Bertahan di Jakarta dengan Gaji di Bawah UMR? Tentu Saja Bisa, Ini Caranya

23 September 2023
4 Hal Tak Biasa yang Ada dalam Pernikahan di Demak

4 Hal Tak Biasa yang Ada dalam Pernikahan di Demak

9 Mei 2023
Pucang Gading, Perbatasan Semarang dan Demak yang Nggak Nyaman Ditinggali

Pucang Gading, Perbatasan Semarang dan Demak yang Nggak Nyaman Ditinggali

7 Februari 2024
Jakarta Nggak Ada Keras-kerasnya Buat Orang Cikarang (Unsplash)

Jalanan Jakarta yang Keras dan Tak Ramah Pemula: Naik Ojol Bingung, Naik KRL Tambah Bingung

24 Januari 2024
Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang

Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

14 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar Terminal

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar

14 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.