Informasi
ADVERTISEMENT

Nasib tragis Stasiun LRT Harjamukti: berdiri di Cimanggis Depok, tapi dianggap milik Cibubur

Rute LRT Jalur Cibubur Adalah Seburuk-buruknya Penataan Akses Transportasi Publik stasiun lrt harjamukti

Saat saya pulang kantor di daerah Sudirman, seorang rekan kerja bertanya, “Kamu naik LRT turun mana?” Saya jawab santai, “Harjamukti.” Dahinya langsung berkerut bingung sambil bertanya balik, “Harjamukti tuh sebelah mananya Depok?” Melihat reaksinya yang kebingungan, saya ganti taktik dan menyebut kata kunci populer, “Cibubur.”

Detik itu juga wajahnya berubah cerah sambil manggut-manggut mantap, “Oalah, Cibubur! Bilang dong dari tadi.”

Momen sederhana itu menyisakan ironi yang menggelitik bagi saya sebagai pengguna mingguan. Padahal secara hukum dan peta administrasi, Stasiun LRT Harjamukti itu murni berdiri di Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Namun dalam benak publik, fisiknya memang milik Depok, tetapi jiwa dan identitasnya terlanjur melekat milik Cibubur Jakarta Timur.

Nama Cibubur terlalu raksasa buat kawasan sekitarnya

Secara sejarah pemasaran kawasan, nama Cibubur memang sudah terlanjur menjadi brand raksasa yang menaungi wilayah perbatasan tiga daerah, Jakarta Timur, Depok, dan Bogor. Pengembang properti selama puluhan tahun gemar memanfaatkan nama besar Cibubur untuk memasarkan perumahan yang sebenarnya secara hukum masuk wilayah Cileungsi, Tapos, atau Cimanggis. Akibatnya, masyarakat luas mengalami pergeseran persepsi yang cukup parah. Nama Cibubur mendominasi ingatan publik melampaui garis batas kota dan provinsi.

Stasiun LRT Harjamukti akhirnya menjadi korban paling terlihat dari dominasi nama besar tersebut. Pihak pengelola moda transportasi mungkin berniat tertib birokrasi dengan menamai stasiun sesuai lokasi batas tanah resminya. Namun, ketertiban administratif ini kalah telak oleh kekuatan kebiasaan hafalan masyarakat yang sudah telanjur mengidentikkan seluruh area di sekitar Jalan Transyogi sebagai kawasan Cibubur. Mengucapkan nama resminya di ruang publik justru membuat stasiun ini terasa asing di tanahnya sendiri.

Telanjur terkenal dan mudah dipahami

Komunikasi publik selalu mencari jalan paling efisien dengan cara paling minim, gampangnya malas untuk menjelaskan panjang-panjang. Bagi para penglaju harian yang didera kelelahan usai jam kerja, keakuratan batas wilayah di peta bukanlah prioritas utama. Hal yang terpenting adalah bagaimana lawan bicara langsung memahami titik lokasi yang dimaksud tanpa perlu melalui obrolan panjang. Sebut saja kata Cibubur, maka dipastikan masyarakat akan langsung terhubung ke landmark populer seperti Cibubur Junction atau Taman Wiladatika.

Pilihan mengalah dengan menyebut Cibubur ketimbang Harjamukti akhirnya menjadi mekanisme bertahan hidup para pekerja harian. Menjelaskan bahwa stasiun ini masuk wilayah Cimanggis Kota Depok hanya akan membuang waktu di tengah sesaknya mobilitas sore hari. Sebaliknya, jika memaksakan menyebut nama Cimanggis, lawan bicara justru sering membayangkan area Jalan Raya Bogor yang berjarak cukup jauh dari jalur rel besi melayang ini. Kepraktisan lokasi jelas mengalahkan kebenaran data kependudukan.

Kali ini Depok harus legawa Stasiun LRT Harjamukti diakui Cibubur

Krisis identitas yang dialami Stasiun LRT Harjamukti menunjukkan betapa nama tempat di mata masyarakat lebih banyak dibentuk oleh persepsi ketimbang garis batas kelurahan di atas kertas. Pemerintah Kota Depok mungkin berhak atas potensi pajak dan pembangunan fisiknya, tetapi publik Jabodetabek yang memegang kendali atas penamaan lokasi dari wilayah tersebut.

Pada akhirnya, birokrasi boleh memegang sertifikat tanah atas nama Cimanggis Depok, tetapi persepsi publik tetap memegang kendali penuh atas identitas sosialnya. Stasiun LRT Harjamukti akan terus beroperasi dalam identitas ganda, menjadi kebanggaan administratif Kota Depok, sekaligus menjadi stasiun Cibubur di hati para penumpangnya.

Sama halnya Bandara Soekarno-Hatta, secara administratif ikut Tangerang, tetapi lebih sering dianggap ikut Jakarta. Sudah waktunya kita meluruskan kesesatan geografis ini.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA LRT Jalur Cibubur Adalah Seburuk-buruknya Penataan Akses Transportasi Publik

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2026 oleh .

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.