Saya punya satu dosa kecil yang perlu diakui sebagai orang Sunda. Saya iri kepada orang Jawa. Ini bukan minder, tapi kesadaran.
Bukan iri karena mereka punya gudeg, batik, keraton, atau lagu-lagu galau yang seolah mampu membuat seseorang merasa patah hati meskipun belum pernah pacaran.
Saya iri karena orang Jawa terlihat begitu percaya diri membawa bahasanya ke mana-mana. Coba lihat tongkrongan anak muda sekarang. Di kafe-kafe Bandung, misalnya, anak-anak muda yang lahir dan besar di Tatar Sunda bisa dengan penuh penghayatan menyanyikan lagu Denny Caknan, Gilga Sahid, atau Ndarboy Genk. Liriknya bahasa Jawa, penyanyinya orang Jawa, pendengarnya bisa siapa saja.
Anehnya, tidak ada yang merasa perlu menjadi orang Jawa terlebih dahulu untuk menikmati lagu tersebut. Bahasa Jawa bisa terdengar keren meski keluar dari mulut orang Sunda. Sementara kalau ada anak muda Sunda membuat konten dengan bahasa Sunda, komentar yang muncul kadang malah, “Artinya apa?” atau “Sunda pisan.”
Nah, di situlah saya mulai iri.
Sebab jangan-jangan persoalannya bukan bahasa Sunda yang kalah populer. Kita saja yang terlalu cepat merasa malu menggunakannya.
Orang Jawa tidak sibuk meminta izin untuk menjadi Jawa
Salah satu hal yang patut kita pelajari dari masyarakat Jawa adalah keberanian membawa bahasa daerah menjadi budaya populer. Bahasa Jawa tidak berhenti sebagai bahasa untuk berbicara dengan orang tua atau ketika pulang kampung.
Ia masuk ke musik, media sosial, komedi, dan berbagai bentuk hiburan anak muda. Tema lagunya pun tidak harus tentang tradisi. Bisa tentang cinta, patah hati, hubungan tanpa status, atau nasib mahasiswa yang uang bulanannya habis sebelum tanggal tua. Bahasa Jawa menjadi alat untuk menceritakan kehidupan hari ini.
Di sinilah orang Sunda perlu belajar. UNESCO memasukkan ranah penggunaan dan respons terhadap media baru sebagai bagian penting dalam melihat vitalitas suatu bahasa.
Bahasa akan lebih mungkin bertahan jika tetap memiliki ruang dalam kehidupan sehari-hari, seni, pendidikan, dan media. Artinya, bahasa daerah tidak cukup disuruh “dilestarikan”. Ia harus dipakai. Orang Jawa seolah sudah paham. Orang Sunda masih sibuk membuat seminar.
Orang Sunda dan penyakit “isin”
Masalahnya, orang Sunda punya penyakit yang agak unik: isin. Malu ngomong Sunda, hingga malu kalau logat Sundanya terdengar.
Tetapi ketika ada konten budaya Sunda yang viral, kita ikut membagikannya sambil berkata, “Bangga jadi orang Sunda.” Ya, bangga memang mudah. Tinggal klik tombol share. Yang sulit adalah memakai bahasanya sendiri.
Ada pula orang tua yang sejak anak kecil memilih Bahasa Indonesia karena khawatir bahasa Sunda membuat anak kesulitan belajar atau terdengar kampungan. Padahal anak bisa mempelajari lebih dari satu bahasa.
Persoalannya justru muncul ketika Bahasa Sunda sama sekali tidak diberi ruang untuk digunakan. Akhirnya Bahasa Sunda hanya muncul ketika bercanda, memaki, atau menirukan ucapan Ema dan Abah.
Bahasa untuk urusan serius? Bahasa Indonesia. Presentasi? Indonesia. Diskusi? Indonesia. Membahas masa depan? Indonesia. Bahasa Sunda seperti teman yang hanya diajak nongkrong kalau sedang butuh hiburan.
Padahal kalau bahasa terus kehilangan ranah penggunaan, ia perlahan kehilangan fungsi. UNESCO juga menempatkan transmisi antargenerasi sebagai faktor penting dalam keberlangsungan bahasa. Kalau generasi muda orang Sunda tidak lagi memakai bahasanya, jangan kaget jika beberapa generasi berikutnya hanya mengenalnya sebagai “bahasa yang dulu dipakai aki”.
Jangan-jangan kita terlalu takut salah
Kemudian ada satu monster lagi untuk orang Sunda: undak-usuk basa.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa undak-usuk basa tidak penting. Ia bagian dari tata nilai orang Sunda. Masalahnya muncul ketika sistem itu membuat generasi muda terlalu takut berbicara.
Salah memilih kata? Panik. Tidak tahu bahasa lemes? Diam. Takut dianggap kasar? Ganti bahasa Indonesia.
Akhirnya kita lebih takut salah menggunakan bahasa Sunda daripada kehilangan bahasa Sunda itu sendiri. Padahal bahasa tumbuh dari kebiasaan, termasuk kebiasaan melakukan kesalahan.
Anak kecil belajar berbicara karena berani mencoba, kemudian dibetulkan. Jadi kalau anak muda Sunda masih salah ketika berbicara, ya biarkan mereka belajar. Lebih baik salah sedikit daripada tidak berbicara sama sekali.
Bahasa Sunda perlu kendaraan pop
Orang Sunda juga perlu jujur bahwa masalahnya ada pada industri kreatif. Kita sering berkata, “Kita harus melestarikan Budaya Sunda.” Tetapi ketika anak muda membuka TikTok, YouTube, atau Instagram, yang muncul justru konten dari berbagai daerah dan negara.
Lalu kita heran kenapa bahasa Sunda tidak populer. Lah, kontennya mana?
Anak muda hidup di dunia digital. Maka, bahasa Sunda juga harus masuk ke sana: musik, film pendek, podcast, komedi, gim, konten edukasi, sampai meme.
Jangan terus menyuruh anak muda meninggalkan ponsel demi belajar budaya. Kenapa tidak budaya Sunda-nya yang masuk ke ponsel mereka? Orang Sunda harus memakai bahasanya sendiri untuk membicarakan cinta, kuliah, politik kampus, overthinking, pekerjaan, bahkan hubungan yang statusnya lebih tidak jelas daripada jadwal wisuda. Bahasa daerah harus boleh menjadi modern.
Mungkin orang Sunda memang perlu iri sama orang Jawa
Saya tetap iri kepada orang Jawa.
Namun rasa iri ini seharusnya menjadi tamparan, bukan kebencian. Keberhasilan Pop Jawa menunjukkan bahwa bahasa daerah bisa modern, populer, dan diterima lintas wilayah. Masalah kita adalah sering menginginkan bahasa Sunda tetap hidup tanpa memberi ruang kehidupan kepadanya.
Kita ingin anak muda bisa berbahasa Sunda, tetapi percakapan di rumah memakai bahasa Indonesia. Punya cita-cita ingin bahasa Sunda keren, tetapi ketika mendengar logat Sunda sendiri malah malu. Maunya dikenal dunia, tetapi konten Sunda sendiri masih kurang bergengsi. Maka mungkin kita perlu berhenti terlalu sering berkata, “Mari lestarikan bahasa Sunda.”
Mulailah dengan hal sederhana: Pakai.
Di rumah, tongkrongan, kampus, media sosial, musik, karya apa saja. Salah tidak apa-apa. Kaku tidak apa-apa. Yang penting jangan poho. Sebab bahasa tidak mati karena tidak ada seminar tentangnya. Bahasa mati ketika penuturnya mulai memilih diam.
Orang Jawa boleh terus bernyanyi dengan bahasanya. Orang Sunda juga seharusnya begitu.
Sebab Jawa adalah kunci.
Dan, orang Sunda jangan sampai terkunci di rumahnya sendiri.
Penulis: Irpan Maulana Arip
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Culture Shock Orang Jawa yang Merantau di Tanah Sunda, Banyak Orang Ngomong Pakai Dialog ala FTV
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













