Jadi karyawan, UMR-nya kecil. Jadi pengusaha, kena pungli. Lalu, apa alternatif pekerjaan di Jogja yang bisa kita coba dengan potensi pemasukan yang oke?
Ada sebuah mitos yang cukup kuat tentang Jogja: kota ini murah untuk ditinggali. Murah katanya. Makan masih bisa dapat belasan ribu. Ngekos masih ada yang di bawah Rp1 juta. Naik motor keliling kota juga tidak perlu menghabiskan satu tangki bensin. Bahkan kalau beruntung, nongkrong di angkringan bisa membuat seseorang merasa sedang menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan filosofis.
Masalahnya, ada satu hal yang sering lupa dihitung: penghasilan. Sebab hidup murah tidak akan terasa murah kalau pemasukan juga murah. Padahal, pekerjaan di Jogja itu seringnya berupah rendah.
Buat orang yang bekerja sebagai karyawan dengan gaji sekitar upah minimum misalnya, persoalannya bukan cuma bagaimana membayar kos, makan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan sehari-hari. Ada juga kebutuhan yang lebih manusiawi seperti sesekali ngopi, jalan-jalan, membeli sepatu, mentraktir pacar, atau sekadar punya tabungan.
Serta, jangan lupakan inflasi. Harga hidup naik perlahan-lahan, sementara gaji kadang naiknya seperti orang sedang menaiki tangga sambil membawa galon, pelan-pelan.
Lalu muncullah solusi klasik: “Kalau gajinya kecil, ya buka usaha.” Nah, ini juga tidak semudah itu. Buka usaha sekarang tidak hanya membutuhkan modal, produk, strategi pemasaran, dan kemampuan jualan. Ada banyak urusan lain yang kadang bikin calon pengusaha lebih sibuk mengurus perizinan dan tetek bengek administrasi daripada mengurus dagangan.
Belum lagi kalau usahanya menyangkut tempat fisik, parkir, lingkungan, keamanan, dan berbagai pungutan yang entah resmi atau tidak resmi. Akhirnya orang Jogja dihadapkan pada pilihan yang agak lucu: jadi karyawan, gajinya segitu-gitu saja. Mau buka usaha, ternyata banyak tarikan ini itu.
Tapi tenang. Saya tidak akan menyuruh kalian menjadi content creator. Sudah terlalu banyak orang yang menyuruh demikian. Karena itu, mari kita coba mencari alternatif pekerjaan di Jogja yang agak masuk akal. Bukan berarti pasti menghasilkan segini-segitu, sebab penghasilan setiap orang jelas berbeda.
Angka di bawah ini adalah simulasi sederhana untuk menunjukkan potensi pasar, bukan janji pendapatan, layaknya 19juta lapangan pekerjaan.
Musisi jalanan: modal gitar, suara, dan keberanian menghadapi lampu merah
Pekerjaan di Jogja pertama yang mungkin terdengar agak nyeleneh adalah menjadi musisi jalanan. Jangan buru-buru mengernyitkan dahi. Kalau selama ini kita melihat musisi jalanan sebagai orang yang sekadar menyanyi di lampu merah, coba kita lihat profesi ini menggunakan spreadsheet.
Misalnya kita ambil asumsi sederhana. Lampu merah berlangsung sekitar satu menit. Lampu kemudian berubah hijau selama sekitar 30 detik. Artinya, satu siklus berlangsung kurang lebih 1 menit 30 detik. Dalam satu jam berarti ada sekitar 40 siklus. Kalau setiap kali lampu merah kita memperoleh minimal Rp2.000, maka: 40 × Rp2.000 = Rp80.000 per jam.
Jika bekerja selama delapan jam seperti pekerja kantoran: Rp80.000 × 8 = Rp640.000 per hari. Kalau lima hari seminggu selama empat minggu: Rp640.000 × 20 hari = Rp12,8 juta.
Nah. Tiba-tiba profesi musisi jalanan terdengar seperti pekerjaan yang layak dibahas di LinkedIn. Tentu saja, hitungan tersebut sangat sederhana dan tidak memperhitungkan kondisi nyata. Tidak setiap lampu merah akan menghasilkan Rp2.000. Tidak semua siklus lampu merah memungkinkan seseorang tampil. Ada hujan, polisi, lokasi yang tidak ramai, pengendara yang tidak memberi uang, sampai kemungkinan diusir dari lokasi.
Jangan lupa: delapan jam berdiri di pinggir jalan bukan perkara ringan. Jadi angka Rp12,8 juta tadi jangan dibaca sebagai “pengamen pasti dapat Rp12,8 juta sebulan”. Itu adalah simulasi matematis berdasarkan asumsi tertentu.
Namun justru di situlah menariknya. Kita sering kali terlalu cepat menganggap pekerjaan tertentu tidak punya potensi ekonomi hanya karena status sosialnya tidak dianggap keren. Padahal kalau seseorang punya kemampuan musik yang bagus, punya repertoar lagu yang disukai orang, tahu lokasi yang ramai, punya komunitas, bahkan mampu membuat konten dari aktivitasnya, pekerjaan tersebut bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar.
Alternatif pekerjaan di Jogja paling oke: fotografer atau videografer wisuda
Kalau ada satu jenis pasar yang tidak pernah habis di Jogja, salah satunya adalah mahasiswa. Mahasiswa datang, kuliah, mengerjakan skripsi, lalu wisuda. Kemudian adiknya datang menggantikan. Begitu seterusnya.
Jogja memiliki banyak perguruan tinggi. Artinya, ada pula pasar wisuda yang berulang setiap tahun. Bayangkan saja ada sekitar 130 perguruan tinggi yang menjadi pasar potensial. Kita gunakan asumsi sederhana bahwa rata-rata masing-masing perguruan tinggi mengadakan tiga kali periode wisuda dalam setahun. Maka: 130 × 3 = 390 periode wisuda per tahun.
Sekarang kita masuk ke jasa fotografi. Misalnya kamu memasang tarif Rp150.000 per jam. Seorang wisudawan biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sesi foto. Berarti satu sesi: Rp150.000 × 2 = Rp300.000. Kalau kita menggunakan angka 390 periode wisuda tadi dan menganggap hanya mendapatkan satu sesi pelanggan dari masing-masing periode: 390 × Rp300.000 = Rp117 juta per tahun. Kalau dibagi 12 bulan: Rp9,75 juta per bulan.
Sekali lagi, ini bukan berarti seorang fotografer wisuda di Jogja otomatis memperoleh Rp9,75 juta setiap bulan. Itu simulasi kasar. Realitasnya, ada bulan ramai dan ada bulan sepi. Ada periode wisuda yang ramai sekali dan ada yang tidak terlalu ramai. Belum dipotong biaya kamera, lensa, transportasi, baterai, memori, laptop, editing, maintenance, dan tentu saja waktu.
Namun ada satu hal yang membuat bisnis fotografi wisuda menarik: satu periode wisuda tidak hanya menghasilkan satu pelanggan. Satu kampus bisa meluluskan ratusan bahkan ribuan mahasiswa dalam satu periode. Dan mereka semua punya kebutuhan yang samaL foto dengan toga, orang tua, pacar, teman, sembari memegang ijazah.
Seorang fotografer yang sudah dikenal mahasiswa bahkan bisa mendapatkan beberapa klien dalam satu hari wisuda. Pagi memotret mahasiswa A. Siang mahasiswa B. Sore mahasiswa C. Malam mengedit semuanya. Kalau sudah sampai tahap itu, bisnisnya bukan lagi sekadar “punya kamera”. Yang dijual adalah skill, reputasi, dan kepercayaan. Dan itu jauh lebih susah ditiru.
Agency atau konsultan remote: tinggal di Jogja, kliennya jangan ikut tinggal di Jogja
Ini mungkin pilihan yang paling menarik bagi orang yang sudah punya skill profesional. Misalnya kamu bekerja di bidang komunikasi, public relations, digital marketing, desain, software development, data, atau bidang lain yang pekerjaannya bisa dilakukan menggunakan laptop dan internet.
Kuncinya sederhana: Jangan hanya mencari klien di sekitar tempat tinggal. Kalau tinggal di Jogja tetapi hanya mencari perusahaan Jogja, penghasilanmu berpotensi ikut terikat dengan ekonomi lokal.
Padahal laptop tidak peduli kamu bekerja dari Bulaksumur, Jakarta, Singapura, atau bahkan warung kopi. Yang penting internetnya tidak mati. Yang penting pasarnya bukan Jogja. Ini yang menurut saya menarik. Sebab salah satu cara meningkatkan pendapatan tanpa harus pindah kota adalah menjual keahlian ke pasar yang daya belinya lebih tinggi.
Tentu saja ada syaratnya. Pasar tidak membayar kita hanya karena kita bisa. Pasar membayar ketika kemampuan tersebut menyelesaikan masalah. Karena itu, pekerjaan agency atau konsultan membutuhkan skill, portfolio, reputasi, dan relasi. Kalau sudah dipercaya, nilai proyeknya juga bisa jauh berbeda dibandingkan pekerjaan satuan. Satu proyek komunikasi bisa bernilai puluhan juta. Proyek teknologi bisa lebih besar lagi. Agency dengan beberapa klien bahkan bisa memiliki pendapatan bulanan yang cukup besar.
Namun konsekuensinya juga jelas: penghasilannya tidak selalu stabil. Bulan ini dapat proyek Rp100 juta. Bulan depan dapat Rp10 juta. Tapi, bisa jadi bulan berikutnya malah dapat email: “Mas, untuk sementara project-nya kita hold dulu ya.”
Oleh karena itu, menjadi freelancer atau konsultan bukan berarti hidup tanpa masalah. Masalahnya hanya berganti bentuk. Tetapi setidaknya ada peluang untuk menentukan harga berdasarkan nilai pekerjaan, bukan semata-mata berdasarkan standar upah daerah.
Sementara, saya baru kepikiran tiga saja. Karena memang pekerjaan yang pendapatannya lumayan saat ini sesusah itu. Jadi karyawan UMR-nya rendah, buka usaha banyak punglinya. Tapi yang jelas, rezeki itu sudah tertakar dan tidak akan tertukar.
Penulis: Haqqi Hidayatullah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.