Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
8 Juni 2026
A A
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kondisi ekonomi saat ini benar-benar bikin kita sebagai kelas menengah jadi waswas. Ironisnya, kita adalah tulang punggung ekonomi bangsa ini. Lihat aja kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB, mencapai 54,36 persen. 

Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini 5,6 persen, lebih dari separuhnya datang dari kita-kita yang doyan belanja ini.

Ekonomi sulit bertumbuh kalau kita kelas menengah tidak belanja. Persoalannya, kalau belanja terus, nasib kita benar-benar di ujung tanduk. Bahkan, saking sulitnya kondisi ekonomi saat ini, makan di warteg saja perlu strategi. Harus mengorbankan lauk yang mana dulu nih?

Begitulah kelas menengah atau orang bergaji pas-pasan di negeri ini memang dilematis. Terlalu mampu untuk dianggap miskin, tapi masih terlalu jauh untuk disebut kaya. 

Kelihatannya sih aman-aman saja karena punya kerjaan dan digaji, tapi ketika satu aja masalah keuangan datang, misal motor rusak atau kontrakan atau kos-kosan naik, pusingnya bisa bikin nggak doyan makan.

Itulah realita yang harus kita hadapi. Kita adalah tulang punggung negeri ini, tapi kita juga yang paling rentan. Maka dari itu, ada beberapa saran soal strategi berhemat yang nggak melulu harus mengurangi jatah lauk di warteg. Mungkin bisa dicoba untuk menjalani kehidupan di negeri yang lagi sakit ini.

#1 Kelas menengah sebaiknya tentukan batas pengeluaran sebelum makan di warteg

Dalam kondisi ingin berhemat, sebaiknya hindari untuk langsung memilih lauk tanpa menghitung ketika di warteg. Ada baiknya kalian tentukan terlebih dahulu batas maksimal biaya yang dikeluarkan untuk sekali makan di warteg. 

Misalnya, maksimal kisaran Rp10.000–Rp15.000. Dengan biaya segitu, kalian sudah bisa mendapatkan komposisi makanan berupa nasi, lauk berprotein, satu jenis sayur, dan minuman.

Baca Juga:

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

Khusus lauk, saya sendiri lebih memilih mengambil dua tempe goreng balok dan satu telur ketimbang ayam yang harganya per potong bisa Rp7.000-Rp100.000. Yang penting lagi, jangan sungkan untuk bertanya harga dari tiap lauk.

Baca juga Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa.

#2 Beli lauk dan sayurnya saja, nasi masak sendiri

Akan sangat membantu bagi mereka yang masih sendiri dan ngekos ketika punya penanak nasi. Sebab, pengeluaran untuk makan bisa dikurangi dengan masak nasinya sendiri. Jadi, ke warteg cukup beli lauknya saja.

Cara ini sangat efektif karena bisa memangkas pengeluaran. Beli tempe 4, telurnya 2, paling habis nggak lebih dari Rp15.000, dan itu bisa dimakan untuk siang dan malam. Saya biasanya menyiasatinya dengan membeli timun untuk tambahan lalapannya. Jadi tetap ada sensasi segarnya. 

Di sisi lain, pilihan membeli lauk juga lebih realistis ketimbang memaksakan diri memaksa tiap harinya. Pengeluaran mungkin lebih berkurang ya, tapi kita semua tahu kalau kelas menengah kayak kita nggak punya banyak waktu senggang. Kalau pun ada, lebih banyak digunakan untuk rebahan karena sudah kadung capek.

#3 Kelas menengah sebaiknya mengurangi pesan makanan online

Kalau kerjanya kantoran yang kawasannya macam SCBD, ada baiknya ikutin cara kedua, yaitu masak nasi sendiri, beli lauknya di warteg, dan jadikan bekal. Atau bisa beli lauknya saja di warteg sekitar kantor. 

Sebisa mungkin hindari pesan makan melalui aplikasi. Meskipun ada kadang promonya, tapi percayalah, biayanya akan lebih mahal dari pada beli langsung.

Harganya mungkin murah, cuma Rp15.000, tapi ada ongkirnya, biaya layanan, kadang ditambah biaya parkir. Akhirnya bisa jadi malah mengeluarkan biaya dua kali lipat dari estimasi awal.

Lagi pula, cara main pemberlakuan promo di online shop umumnya adalah dengan menaikkan harga dari harga asli kemudian didiskon. Harganya yang diskon tersebut jadinya adalah harga aslinya. Kalau mau pesan makan online, ya setidaknya batasi hanya seminggu sekali. Tidak perlu tiap hari.

#4 Sedia makanan dan minuman penyelamat

Jadi kebiasaan kelas menengah saat pulang kerja dalam keadaan lelah, lapar, dan tidak menemukan sesuatu yang dimakan, maka biasanya akan buru-buru pesan online. Ya kan? Ngaku kalian!

Membuka aplikasi pesan antar memang mudah daripada harus repot-repot mampir ke warung. Tapi, di situlah letak berbahayanya. Sebab, makin lama, itu justru bikin pengeluaran jadi nggak terkendali.

Untuk menyiasati itu, saya biasanya membeli makanan dan minuman penyelamat. Nggak perlu membayangkan makanan atau minuman yang mewah-mewah. Cukup beli saja mulai dari bahan makanan berat seperti telur, tempe, abon, atau mie. Semua masakan itu bisa diolah tanpa ribet.

Kemudian makanan ringan mulai dari biskuit malkist yang murah, kalau mau yang agak rendah gula, beli wafer yang isian selusin. Itu jauh lebih murah ketimbang beli satuan. Selain, itu bisa juga beli kripik-kripikan yang tanpa merk. Sering dijumpai di toko snack kiloan. Oh ya, kalian juga bisa nyetok buah-buahan. Banyak kok buah yang murah. Contohnya pisang atau salak.

Kalau khusus minuman, saya pribadi lebih sering nyetok teh dan milo. Minuman ini bisa diseduh dan diminum sambil nyelesain lemburan dari kantor kan?

Semua ini sangat membantu untuk menekan pengeluaran para kelas menengah. Bayangkan biaya Rp50.000 yang biasa dikeluarkan untuk satu kali beli makan online, setara dengan diantaranya telur 2 kg, 14 bungkus mie instan, kripik Rp10.000-an 5 bungkus, 2 sampai 3 lusin wafer, atau beberapa bungkus biskuit malkist.

Baca juga Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang.

#5 Gunakan langganan digital secara bergantian

Kalau kalian lihat per satuan, berlangganan layanan digital itu kelihatan murah. Sebab masing-masing hanya puluhan ribu. Tapi, coba kalau diakumulasikan mulai dari langganan streaming film, youtube, music, game, aplikasi olahraga, atau layanan digital lainnya, maka hasilnya bisa ratusan ribu.

Itu mengapa, saya sendiri menggunakan strategi langganan yang bergantian. Misalnya, untuk streaming film, saya akan berlangganan satu bulan untuk saja untuk menikmati series yang sedang diincar. Khusus untuk streaming film, saya menyarankan untuk model patungan.

Misalnya, Netflix, berlangganan saja yang Rp120.000, tapi berbarengan 2 orang, berarti Rp60.000 per orang. Enaknya di Netflix yang paket Rp120.000, selain bisa digunakan lebih dari 2 device, videonya juga bisa didownload dan ditonton secara offline, bahkan saat sudah tidak berlangganan. Jadi dengan uang Rp60.000, kalian bisa menikmati Netflix 2 bulan penuh.

Selain layanan streaming film, hal yang sama juga saya berlakukan untuk langganan lain, misalnya antara layanan edit video Capcut dan layanan edit foto Adobe Lightroom. Bulan ini Capcut, bulan selanjutnya Adobe Lightroom.

Jangan lupa juga memeriksa pembayaran otomatis di Google Play, Play Store, dompet digital, dan kartu debit. Ini untuk memastikan tidak ada layanan digital yang nyedot uang kalian secara rutin tanpa sadar.

#6 Kelas menengah bagi uang menjadi anggaran mingguan

Mengatur uang untuk sebulan penuh memang kelihatannya sederhana, tapi praktiknya sulit. Saldo awal bulan biasanya sangat menggoda karena kelihatan banyak. Pokoknya apa saja beli. Diajak nongkrong juga ayok. Tapi, ketika akhir bulan, hidup jadi nelongso.

Nah, cara paling mudah adalah dengan membagi anggaran menjadi empat bagian mingguan. Misalnya, tersedia uang Rp1,6 juta untuk makan, transport, dan kebutuhan harian. Maka pecah anggaran itu untuk 4 minggu, artinya ada sekitar Rp400.000 per minggu sebagai batas pengeluaran.

Ini sering saya lakukan dan sangat membantu dalam berhemat. Bahkan, kalau masih ada sisa uang di akhir minggu dari Rp400.000 itu, ya tinggal dipakai untuk beli makanan yang disukai.

Pada akhirnya, semua strategi di atas memang nggak bisa menjamin kita lepas sepenuhnya dari keruwetan kondisi ekonomi saat ini. Tapi, paling tidak, membuat kita bisa bertahan dan tetap waras. Bukankah itu yang diinginkan pemerintah? Warganya waras, supaya tetap berbelanja, daya beli pun menguat, supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus dipamerkan.

Kita yang bekerja, kita yang berhemat, kita yang putar otak biar tetap waras dengan tetap dipajaki. Sementara di sisi lain mereka begitu bangga dengan angka statistik bahwa ekonomi kita baik-baik saja. Semprul!

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: ekonomikelas menengahkondisi ekonomi
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Nggak Habis Pikir Sama Orang yang Tidak Menghabiskan Makanan Hajatan terminal mojok.co

Pertanyaan Makan sebagai Penanda Kelas Ekonomi dan Kadar Moral Seseorang

2 Mei 2020
PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi) Mojok.co

PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi)

16 November 2024
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Sebagai Warga Kelas Menengah, Saya Percaya kalau Kuliah S2 Bisa Mengubah Hidup Saya, tapi Tolong Ini Jalannya Lewat Mana ya?

15 April 2026
Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan

16 Februari 2024
orde baru jokowi soeharto mojok.co

Jokowi dan Memori Orde Baru yang Masih Membekas

17 September 2019
Orang-orang Tetap Nonton Konser di Tengah Kondisi Ekonomi yang Nggak Baik-baik Aja, Inikah Fenomena Lipstick Effect? Mojok.com

Orang-orang Tetap Nonton Konser di Tengah Kondisi Ekonomi yang Nggak Baik-baik Aja, Inikah Fenomena Lipstick Effect?

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Pendekar Kopi dan Rojali, Musuh Alami Coffee Shop. Yang Satu Bikin Keder, yang Satu Bikin Pusing Owner

Pendekar Kopi dan Rojali, Musuh Alami Coffee Shop. Yang Satu Bikin Barista Keder, yang Satu Bikin Pusing Owner

3 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026
Pustakawan Membela iPusnas yang Layanannya Dikeluhkan Banyak Orang Mojok.co

Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.