Bisa mengurangi medsos dan menghapus pesan, hal kecil yang berdampak besar bagi saya.
Kemarin saya dibuat tersenyum dengan caption yang ada di postingan Instagram mojokafteroffice. Dalam postingan tersebut Mojok menulis “Kemenangan sejati itu bukan soal apa yang kamu bawa pulang, tapi soal apa yang orang lain nggak bisa lupain darimu.”
Ya elah, cakep banget nih kalimat. Mojok nih pancen jos.
Memang, biasanya kalau kita bicara soal kemenangan, fokusnya seringkali pada sesuatu yang besar, yang bisa dipamerkan. Padahal, kemenangan bisa pula lahir dari sesuatu yang sederhana, lewat hal-hal kecil yang kita lakukan.
Dan itulah yang sedang saya alami beberapa waktu terakhir ini. Saya merasakan nikmatnya seporsi kemenangan hidup, lewat hal-hal kecil yang saya lakukan.
Mengurangi aktivitas medsos
Langkah kecil itu dimulai ketika saya mengambil sebuah keputusan yang tampak sepele dan sentimentil yakni mengurangi medsos, terutama melihat story WA dan Instagram.
Awalnya, saya cukup sering main di dua medsos itu. Lewat dua medsos itulah saya merasa terkoneksi dengan mereka.
Akan tetapi, suatu ketika saya merasa perlu untuk membatasi melihat status kawan-kawan. Gara-garanya, saya merasa status-status yang saya lihat itu seperti menyedot energi, meninggalkan ruang hampa sekaligus berat yang membuat saya terkunci untuk sekadar beranjak atau melakukan sesuatu.
Dan, kalian tahu? Begitu saya mengurangi medsos, napas jadi terasa lebih lega. Saat ada kawan yang mulai melempar pancingan obrolan dengan kalimat, “Eh, kamu lihat statusnya si A nggak?” Saya bisa dengan santai menjawab bahwa saya tidak melihatnya.
Ajaib, baru menjawab begitu saja, rasanya sudah seperti mengangkat trofi kemenangan. Hidup orang lain yang ditampilkan di layar sama sekali bukan kewajiban untuk saya tonton. Jujur, saya merasa keren saat itu.
Menghapus pesan tak penting
Selain mengurangi medsos, hal kecil lain yang membuat saya merasa memenangkan dunia adalah menghapus pesan-pesan yang dirasa kurang sreg di hati.
Dalam berinteraksi dengan orang lain, sesekali saya mendapat pesan yang kurang menyenangkan. Beberapa waktu lalu, misalnya. Seorang murid yang aktif di organisasi yang saya pimpin, menyampaikan keluhan lewat pesan. Mungkin karena jiwanya masih meluap-luap, ada kalimat-kalimat dalam pesannya yang terasa kurang pantas. Setelah ditegur, hal selanjutnya yang saya lakukan adalah menghapus pesan tersebut.
Hal serupa juga pernah saya lakukan pada pesan yang dikirim oleh salah seorang kerabat. Gara-garanya, dia menagih uang bulanan yang biasa saya kirim padanya. Seolah, saya yang punya hutang. Padahal, uang rutin tiap bulan itu saya berikan sebagai bantuan karena saya tahu dia hidup dalam kekurangan. Lha kok malah dijadikan sebagai suatu kewajiban?
Masih mending kalau pesannya disampaikan dengan sopan. Lha ini? Pesannya singkat, padat, nyebelin, “jatahku mana?”
Langsung saya delete.
Seporsi kemenangan batin
Saat itu saya tahu, menghapus pesan dari si kerabat bukan berarti saya marah padanya. Malah, saat itu juga saya langsung transfer kepadanya. Bahkan, saya mengingatkan diri saya sendiri supaya jangan terlewat mengirim, supaya tidak sampai ditagih lagi.
Bukan karena saya kaya, tapi saya memutuskan untuk merawat kedamaian mental daripada memelihara rasa sebal. Dengan menghapus pesan itu, dengan berjanji pada diri sendiri untuk mentransfer sebelum ditagih, saya sejatinya sedang memastikan tidak ada ruang bagi orang lain untuk merusak hari saya. Dengan begitu, saya merasa menang.
Pada akhirnya, jika akun mojokafteroffce bilang bahwa Kemenangan sejati itu bukan soal apa yang kamu bawa pulang, tapi soal apa yang orang lain nggak bisa lupain darimu, maka seporsi kemenangan versi saya adalah ketika bisa memegang kendali penuh atas kewarasan sendiri, bukan karena orang lain, meskipun lewat hal-hal kecil.
Kalau seporsi kemenangan versimu, apa?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













