Informasi
ADVERTISEMENT

Alasan saya, warga Klaten yang memilih kuliah di Magelang, bukan Jogja atau Solo, pilihan utama warga Kota Bersinar

Alasan saya, warga Klaten yang memilih kuliah di Magelang, bukan Jogja atau Solo, pilihan utama warga Kota Bersinar

Bagi orang Klaten, kuliah di Jogja dan Solo itu adalah sebuah kepastian. Tapi, tidak untuk saya, yang malah memilih Magelang

Keputusan saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Untidar Magelang memunculkan berbagai pertanyaan dari orang sekitar: kenapa Magelang? Kenapa nggak di Jogja atau Solo saja?

Sebagai anak yang lahir dan besar di Klaten, rasanya mendengar pertanyaan seperti itu sudah biasa. Memang, sejak dulu sudah ada doktrin mengenai kalau lanjut kuliah, pilihannya kalau nggak Jogja ya Solo.  Menurut para orang tua di daerah saya, kuliah dan merantau di dua kota itu sudah dianggap hebat dan berprestasi. Seolah menjadi jaminan masa depan kita akan cerah dan sukses.

Tidak bisa dimungkiri, Klaten memang terletak di tengah-tengah antara dua kota besar tersebut. Tak pelak, dua kota itu jadi benchmark kesuksesan dan pendidikan. Tapi, tak berarti daerah lain tiba-tiba tak punya value lebih.

Makanya, ketimbang hanya mengikuti arus demi mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang sekitar, saya memilih tidak menghiraukan doktrin tersebut. Saya memilih untuk tidak menjadikan Jogja atau Solo sebagai kota tujuan berkuliah, dan Magelang jadi tujuan merantau saya.

Keputusan ini tentu saja saya buat bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang membuat saya semakin yakin untuk tidak memilih antara Jogja atau Solo sebagai tempat berkuliah yang ideal.

Kondisi Jogja dan Solo semakin padat

Kalau boleh ngomong jujur, kondisi kedua kota ini sudah berbeda dengan dahulu. Kota yang dulunya dikenal adem, santai, dan menenangkan, kini telah berubah menjadi pusat keramaian yang sangat padat.

Pertambahan penduduk di kedua kota ini membuat ruang gerak semakin terasa sempit dan sumpek. Selain itu, terjadi masalah penumpukan kendaraan di sepanjang jalan. Hal ini membuat kondisi jalanan menjadi macet, terutama saat jam-jam sibuk.

Bayangkan saja, kita harus melewati kemacetan itu setiap hari. Berangkat kuliah menghadapi kemacetan setiap hari tentu bukan hidup yang saya inginkan. Energi yang seharusnya kita gunakan di ruang keras, telah terkuras habis di perjalanan.

Terlalu dekat dari Klaten, padahal berniat hidup mandiri

Boleh merantau, tetapi jangan jauh-jauh, itulah syarat yang diberikan oleh orang tua saya ketika saya memutuskan merantau. Tentu syarat itu tak bisa saya sanggah. Ada benarnya juga orang tua saya, sebab, saya adalah anak pertama yang merantau.

Saya paham kenapa orang tua memberi syarat seperti itu. Masalahnya, kalau terlalu dekat, rasanya jelas bukan merantau. Itu mah main.

Nah, dari Klaten ke Jogja atau Solo sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam saja. Menurut saya jarak ini terlalu nanggung untuk bisa disebut anak rantau yang ingin belajar mandiri.  Masalahnya, jarak yang dekat itu justru nanti akan membuat saya dilema. Pasti godaan untuk pulang tiap minggu atau ketika sedang tidak ada kegiatan akan terus membayangi pikiran saya.

Padahalkan niat awal saya merantau itu untuk mandiri dan keluar dari zona nyaman. Jarak Jogja-Solo dari Klaten masih terlalu sangat dekat untuk bisa disebut merantau.

Persaingan di Jogja dan Solo amat ketat

Akui saja, persaingan untuk menembus PTN di Jogja atau Solo memang dibilang sangat ketat. Kampus-kampus di kedua kota ini sejak lama sudah menjadi idaman para calon mahasiswa dari Sabang sampai Merauke. Saingannya bukan hanya sekedar antarkota saja, melainkan juga antarprovinsi, bahkan pulau.

Saya lebih memilih sadar diri dan realistis saja. Tidak ingin memaksakan diri untuk ikut berebut tempat dengan ribuan calon mahasiswa itu. Saya juga memiliki ketakutan tertinggal dan tidak dapat berkembang saat berkuliah di PTN ternama. 

Kalau dipaksakan dengan kondisi diri yang pas-pasan, nanti malah berakhir tidak bisa berkembang di dunia perkuliahan hanya demi gengsi berkuliah di PTN ternama. Saya memiliki keyakinan untuk menikmati masa perkuliahan tanpa ada tekanan.

Biaya hidup yang semakin tinggi

Faktor lainnya yang menjadi bahan pertimbangan yaitu melihat dari segi biaya hidup. Biaya hidup sebagai mahasiswa rantau di Jogja atau Solo sekarang semakin tinggi. Kita mulai dari harga kosan aja deh, basic needs yang harus dipenuhi.

Harga kost-kostan di Jogja dan Solo paling rendah rata-rata mulai dari Rp450.000 per bulan, namun dengan fasilitas yang seadanya. Belum lagi harga makan seporsinya paling murah mulai dari Rp12.000 hingga Rp18.000. 

Kalau untuk ukuran mahasiswa rantau, harga kebutuhan sehari-hari segitu bisa sangat terasa menguras kantong. Bayangkan saja, dompet sudah terasa kosong, padahal belum akhir bulan.

Kenapa akhirnya memilih berkuliah di Magelang?

Jujur saja, tadinya Magelang tidak ada di barisan list kota tujuan saya untuk berkuliah. Tetapi setelah dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang, akhirnya pilihan saya jatuh kepada kota ini. 

Menurut saya suasana di kota ini berbeda dengan kondisi Jogja atau Solo yang sekarang. Kota ini memiliki suasana yang masih tenang dan hampir tidak pernah terjadi drama kemacetan jalanan, seperti di kota-kota besar.

Selain itu, jarak dari Klaten ke Magelang membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Jarak ini bisa dibilang sangat pas untuk saya yang baru pertama kali merasakan kehidupan sebagai anak kos. Saya bisa belajar hidup mandiri sekaligus memenuhi syarat orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya merantau terlalu jauh.

Nilai plus lainnya bisa dilihat dari persaingan masuk PTN di Magelang yang relatif lebih mudah, tidak semenyeramkan persaingan di Jogja atau Solo. Jika dilihat dari biaya hidup, Magelang bisa dibilang lebih murah.

Harga sewa kost di Magelang mulai dari Rp350.000 hingga Rp800.000 per bulan sudah dengan fasilitas yang cukup memadai. Kalau bicara soal harga, sekali makan hanya dengan membawa uang Rp8.000 hingga Rp12.000 saja sudah bikin kenyang. Tidak perlu mengkhawatirkan soal kondisi  dompet saat tanggal tua.

Dulu saya juga pokoknya Jogja atau Solo, akhirnya berubah

Memang beberapa orang sering menilai kota berdasarkan seberapa bagus kampusnya, atau bahkan seberapa keren tempat-tempat nongkrongnya. Saya pun dulu juga sempat ikut menganggap bahwa berkuliah wajib di Jogja atau Solo. Untuk membuktikan bahwa bisa menjadi anak muda yang hebat dan berprestasi versi standar daerah saya.

Tapi pada akhirnya, keluar dan melawan doktrin tersebut juga tidak seburuk itu. Saya sekarang merasa lebih betah dan nyaman berada di Magelang. Kota yang awalnya dipandang sebelah mata dan tidak ada di barisan list kota tujuan, ternyata sekarang jadi rumah kedua yang pas dan nyaman.

Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 7 alasan kenapa harus kuliah di Untidar Magelang, kampus alternatif bagi kalian yang sudah bosan dengan anjuran kuliah di Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Arsya Listya Eka Pramudita

Mahasiswa Untidar jurusan Ilmu Komunikasi.