Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
29 Mei 2026
A A
Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai kelas menengah yang bisa terpeleset kapan saja, saya benar-benar pengin kaya.

Jujur, saya tidak pernah percaya orang yang bilang secara terbuka tidak ingin kaya. Kalau yang dimaksud sekaya para konglo yang hartanya triliunan, oke, saya masih percaya. Tapi tidak ingin punya penghasilan besar, aset banyak, serta dana yang buanyak, saya tidak percaya. Omongan taek.

Terlebih di masa-masa seperti ini. Rasa-rasanya, tidak punya ketiganya kok rasanya seperti hukuman. Tidak ada rasa aman ketika bangun, diliputi ketakutan menjelang tidur. Menatap minggu depan saja rasanya pesimis.

Makanya ketika ada petinggi suatu negara bilang bahwa rakyatnya tidak mengejar jadi kaya, lha aku ki bingung, terus kerjo tibo tangi ngene iki buat apa kalau tidak jadi kaya? Kelas menengah kayak saya ini kalau nggak ngejar kaya, buat apa berjuang keras?

Kekayaan seperti barang tabu

Saya benar-benar nggak paham sama konsep bahwa secara terbuka ngomong pengin jadi kaya ini tabu. Kalian yang baca ini mungkin kaget, kok ada yang kayak gitu. Padahal jujur saja, ini kelewat umum.

Secara terbuka, saya selalu bilang ke orang tua saya bahwa saya bekerja mengejar uang. Hidup saya tentang uang, uang, dan uang. Berkali-kali saya diperingati untuk tidak seperti itu. Saya tentu heran dengan itu semua, soalnya, saya dan orang tua sama-sama kelas menengah yang bisa miskin kapan saja, harusnya mereka tahu betul apa itu jadi kaya.

Mereka sudah merasakan bagaimana pusingnya tidak punya uang untuk bayar SPP sekolah saya. Pusing saat token bunyi, dan pusing saat harga-harga naik. Mereka adalah orang yang seharusnya paling mengerti keadaan saya.

Baiklah, saya mengejar uang itu alasan saya untuk menolak daftar PNS, yang kalian pikir adalah pekerjaan paling aman, padahal untuk perkara penghasilan, tidak sebesar yang kalian duga. Tapi tetap saja, saya merasa tabu perkara ingin jadi kaya ini aneh.

Baca Juga:

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

Sebagai Warga Kelas Menengah, Saya Percaya kalau Kuliah S2 Bisa Mengubah Hidup Saya, tapi Tolong Ini Jalannya Lewat Mana ya?

Mungkin bagi orang-orang seperti orang tua saya, mengejar kekayaan itu menggadaikan etika dan norma. Orang-orang seperti ini dianggap menghalalkan segala cara agar pundi-pundi terisi.

“Ora kabeh-kabeh iku perkara duit,” biasanya seperti itu. Tapi, saya pengin nanya ke kalian sesama kelas menengah seperti saya: apa kiranya yang sekarang tidak berhubungan dengan uang?

BACA JUGA: Kelas Menengah Dipaksa Terima Nasib Saat Kelas Bawah Dianakemaskan

Kelas menengah bisa “mati” kapan saja

Kalian mungkin bosan dengan pernyataan yang sudah saya ulang beberapa kali di tulisan ini. Tapi, nyatanya memang begitu, kelas menengah bisa mati kapan saja.

Cukup satu kali masuk rumah sakit, sudah habis uang saya. Cukup sekali motor saya masuk bengkel, sebagian besar uang saya menghilang. Dan cukup sekali bisnis sampingan saya seret, makan saja mikir dua kali.

Kita ini, kelas menengah, nggak punya jaring pengaman sama sekali. Baiklah, menabung memang harus, tapi berapa sih yang bisa kita tabung? Apa cukup jika keadaan menghajar kita terus-terusan?

Sembako kerap naik ugal-ugalan. BBM bisa kapan saja naik gila-gilaan (masih ingat pertamax naik macam setan?). Biaya masuk sekolah anak beneran nggak masuk akal. Dolar naik umpak-umpakan, yang artinya, akan bikin banyak barang naik sama umpak-umpakan.

Dihajar dari segala sisi, gimana nggak gila?

Bisnis sampingan pun lesu

Saya memang punya bisnis sampingan, tapi lesu. Keluhan ini tak milik saya saja, tapi ribuan orang di luar sana juga berbagi rasa yang sama. Hal yang kerap jadi safety net, kini malah jadi liability yang merongrong pelan-pelan.

Tapi ya saya tidak mau menyalahkan konsumen. Sekarang, siapa yang berani mengeluarkan uang jika keadaan tak kunjung menunjukkan tanda-tanda aman? Siapa yang mau, katakanlah, keluar uang lumayan besar untuk pengembangan diri? Makan saja belum tentu bisa bergizi, kok mikir aktualisasi diri.

Kelas menengah seperti saya, akhirnya harus menyadari, naik kelas ke kelas atas itu jauh lebih tidak masuk akal ketimbang hujan emas ANTAM batangan. Tidak jatuh miskin saja sudah ajaib di masa seperti ini.

Pertanyaannya jadi seperti ini: siapa yang pemimpin itu maksud? Siapa orang yang tidak ingin kaya di masa-masa seperti ini?

***

BPKB motor saya pun terpaksa saya “sekolahkan” agar jadi “pintar”. Cincin nikah pun sudah saya jual untuk biaya hidup. Oke, cincin ini memang tak mau lagi saya pakai, tapi tetap saja, uang tersebut membantu keluarga saya ngebul dan bisa makan enak.

Beberapa orang yang sama-sama kelas menengah seperti saya pun melakukan hal yang sama. Cuma beda barang saja yang dijual, tujuannya tetap sama: memastikan tidak goyah dan terjerembab pada kesengsaraan.

Lalu saya melihat dolar hari ini, dalam hati saya menggerutu, sebenarnya, siapa yang nggak pengin kaya?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2026 oleh

Tags: dolar hari iniharga sembako hari inikelas menengahpertamax
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan

16 Februari 2024
5 Fungsi Lain Pertashop yang Bikin Jengkel Operatornya (Foto milik penulis)

5 Fungsi Lain Pertashop yang Bikin Jengkel Operatornya

16 Februari 2023
5 Dosa Pembeli Bensin di Pertashop yang Bikin Kesal Operator

5 Dosa Pembeli Bensin di Pertashop yang Bikin Kesal Operator

3 Februari 2023
Honda Brio Boros? Bukannya Paling Irit, ya? Kelas Menengah Ngehe Tak Usah Bimbang Pilih Brio Baru Atau BMW Seken

Kelas Menengah Ngehe Tak Usah Bimbang Pilih Brio Baru Atau BMW Seken

31 Oktober 2019
Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

8 Maret 2026
Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina (Unsplash.com)

Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina

25 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

23 Mei 2026
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

29 Mei 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN guru pns

Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi

24 Mei 2026
Bersyukur Tidak Lolos Tes CPNS Setelah Difitnah Pakai Ordal (Unsplash)

Bersyukur Tidak Lolos CPNS Setelah Lulus SMA karena Difitnah Teman Dekat kalau Saya Ikut Seleksi Pakai Ordal

28 Mei 2026
Ketika Jogja Menampar Orang Makassar yang Sedang Merantau (Unsplash)

Culture Shock Orang Makassar ketika Merantau ke Jogja: Ketika Sopan Santun Orang Jogja Lebih Misterius ketimbang Rumus Fisika Kuantum

27 Mei 2026
Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.