Jadi perantau itu menderita. Selain urusan bahasa dan budaya yang berbeda, lidah juga harus beradaptasi dengan kuliner tanah perantauan. Makanan terdengar sepele memang, tapi faktor satu ini bisa memainkan peran penting terhadap betah tidak seseorang di tanah perantauan.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan kuliner di tanah rantau dirasakan oleh kawan saya Ira. Dia mau tidak mau merantau dari Slawi, Tegal ke Kendal karena urusan pekerjaan. Dilihat-lihat, tempat merantaunya sebenarnya tidak begitu jauh dan masih sama-sama daerah pesisir utara Jawa. Namun, kenyataannya, sejak dipindahtugaskan pada Oktober 2025, lidahnya masih saja sulit beradaptasi dengan makanan Tegal.
Baca juga Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep
Bukan kali pertama merantau
Teman saya ini bukan newbie soal merantau. Dan, sepanjang sejarah hidup di tanah orang, dia tidak begitu rewel soal makanan. Saat bekerja di Batang Jawa Tengah, lidahnya bisa beradaptasi dengan baik. Ketika merantau ke Jogja untuk kuliah memang perlu upaya keras untuk menyesuaikan dengan makanan di sana yang kebanyakan manis. Namun, akhirnya dia punya siasat dengan menyelamatkan diri ke burjo, geprek, dan penyetan.
Akan tetapi, Kendal benar-benar beda, benar-benar baru untuknya. Sejak pindah ke Kota Santri ini, rasa manis yang hampir ditemukan hampir di tiap makanan adalah persoalan besar. Persis seperti ketika merantau ke Jogja, bedanya, kali ini dia tak kunjung menemukan tempat penyelamat.
Dipikir-pikir aneh juga. Kendal dan Slawi masih sama-sama di daerah pesisir utara, tapi kok cita rasanya kulinernya beda. Bagi orang Slawi, dia lebih akrab dengan rasa urih, asin, pedas, dan kadang sedikit kecut. Manis boleh, tapi jangan mendominasi. Sayangnya, soal manis, Kendal ternyata punya standar sendiri yang berbeda dengan masakan di Slawi.
Baca juga Gaji UMK Kendal, Harga Kost Semarang: Derita Perantau di Kawasan Industri Kendal.
Menjajal berbagai macam makanan di Kendal dan berakhir kecewa
Teman saya ini bukannya tidak berusaha menyesuaikan diri ya. Dia mencicipi banyak makanan. Eksperimen pertama dimulai dari makanan yang dikira paling aman, yaitu soto. Harapannya sederhana, setidaknya soto jarang mengecewakan. Sayangnya, di Kendal, soto justru jadi sumber kekecewaan kecil yang berulang.
Soto Kendal yang ia coba cenderung bening dan segar, mirip tipe soto Semarangan. Bagi sebagian orang, ini menyenangkan. Ringan, tidak berat, cocok dimakan pagi atau siang. Masalahnya, Ira lebih cocok dan terbiasa dengan soto khas Pekalongan yang pakai tauco. Ada rasa kecut, asin, dan aroma fermentasi yang kuat. Di lidahnya, rasa seperti itu lebih hidup karena ada kejutan kecil di tiap suapan.
Soto Kendal, di lidah Ira, terasa terlalu sopan. Tidak salah, tapi juga tidak meninggalkan kesan. Datang, lalu pergi begitu saja di lidah dan ingatan.
Baca halaman selanjutnya: Sate bumbon …













