Jujur saja, saya sempat berpikir lidah ini tidak cocok dengan makanan Tegal. Saya sempat menceritakan betapa sulit menyesuaikan diri dengan kuliner di sana dalam tulisan Terminal Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal.
Pengalaman itu bikin saya sempat berprasangka Tegal hanyalah daerah dengan kuliner menantang. Beruntung, prasangka itu gugur saat saya menjumpai deretan jajan Tegal yang jarang dilirik wisatawan.
#1 Kue tempel, jajanan gurih legit yang mirip crepes
Camilan berbahan ketan dan gula merah ini meyakinkan kalau Tegal punya sisi manis yang legendaris. Sekilas, bentuknya mengingatkan saya pada crepes atau lekker. Namun, bahannya lebih sederhana. Jajanan ini terbuat dari beras ketan, pisang matang, dan gula jawa.
Menariknya, proses pembuatannya nggak melibatkan minyak. Praktis, kudapan ini jadi alternatif yang terasa lebih bersih di mulut. Katanya lagi, penjual kue tempel yang benar-benar autentik di Tegal kini hanya tersisa dua orang.
Saya jadi paham dari mana asal-usul namanya setelah menyaksikan cara pembuatannya. Setelah adonan matang di atas wajan, sisi-sisinya dilipat dan ditempelkan hingga membentuk setengah lingkaran. Selain perpaduan rasa gurih dan legit yang memanjakan lidah, ada aroma smoky khas dari proses pemanggangan yang membuat saya sulit menolak aromanya.
#2 Dodol cikal kelapa dari Tegal berbeda dengan dodol di lain kota
Bagi banyak pelancong, dodol tentu bukan camilan asing. Namun, menganggap dodol cikal kelapa khas Tegal serupa dengan dodol dari daerah lain adalah kesalahan fatal. Kalau dodol yang selama ini saya kenal bertekstur lembut dan kenyal tanpa serat, varian khas Tegal ini justru berani tampil beda dengan tambahan potongan kelapa di dalam adonannya.
Perpaduan rasa gurih dan manisnya terasa begitu legit. Saat digigit, ada sensasi renyah dari potongan daging kelapanya. Nggak heran, kudapan ini sangat populer sebagai hantaran wajib dalam berbagai prosesi lamaran maupun pernikahan warga setempat.
#3 Gemblong ocar-acir punya visual berantakan, tapi memberi kehangatan
Bahan utama camilan tradisional ini adalah singkong yang ditumbuk halus. Julukan “ocar-acir” muncul karena penampilannya yang memang semrawut akibat taburan kelapa parut serta lelehan gula merah. Meski begitu, rasa yang dihasilkan justru bikin terkejut.
Kombinasi manis dan gurih, ditambah aroma harum daun pisang pembungkusnya, membuat saya sulit berhenti mengunyah. Sayangnya, panganan ini kini makin langka. Proses pembuatannya yang menguras tenaga dan waktu terasa kurang sepadan dengan harga jualnya yang terlampau murah.
#4 Jintul, makanan jadul yang rasanya mantul
Meski sama-sama berbahan dasar singkong, saya merasakan karakter jintul yang jauh berbeda dari gemblong ocar-acir. Ketiadaan gula merah membuat camilan ini terasa lebih netral. Barangkali, jintul bisa menjadi pilihan utama bagi mereka yang kurang gemar makanan manis.
Cara menikmati jajanan Tegal satu ini cukup variatif. Terkadang, ada yang memilih menyantapnya bersama sambal dan ikan asin untuk sensasi gurih yang mantap. Sebagian lagi cukup dengan taburan parutan kelapa untuk rasa yang lebih orisinal. Bagaimanapun caranya, jintul pas buat menemani saat menyesap teh atau kopi hangat di sore hari.
#5 Blendung jagung Tegal, pengganti jasuke buat yang nggak suka susu
Bagi saya yang kurang cocok dengan jasuke tapi masih mendambakan camilan jagung, blendung jagung adalah jawaban mutlak. Butiran jagung rebus yang berpadu dengan parutan kelapa ini menghadirkan sensasi tekstur yang unik. Empuk sekaligus kenyal. Beberapa orang bahkan suka menambahkan taburan gula aren untuk memperkaya rasa.
Mengunyah jajanan ini terasa seperti menikmati jasuke dengan kearifan lokal. Komposisi bahannya yang terukur sempurna membuat saya jauh dari rasa enek. Terlebih, aroma jagung rebus hangat yang disajikan di atas alas daun pisang benar-benar menciptakan kenangan rasa yang sulit dilupakan.
Daftar jajanan di atas menegaskan bahwa Tegal tak sekadar sate kambing. Tegal punya cara tersendiri dalam menyambut siapa pun yang datang. Perjalanan kuliner ini menjadi pengingat bagi saya bahwa kecocokan rasa nggak harus selalu ditemukan di restoran atau kafe mewah. Toh, saya justru menemukan tambatan hati di pinggiran jalan dan pasar tradisional.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













