Menyaksikan Liciknya Restoran All You Can Eat, Licin Macam Politisi – Terminal Mojok

Menyaksikan Liciknya Restoran All You Can Eat, Licin Macam Politisi

Artikel

Avatar

Minggu lalu, Pak Bos di bengkel saya sedang berulang tahun. Memang, tidak seperti biasanya, kali ini para montir tidak diajak berlibur ke luar kota, namun makan di restoran yang menggunakan konsep all you can eat. Katanya setiap orang bebas makan sampai puas dalam waktu satu setengah jam sehingga Bos berpikir dengan cara ini bisa membuat para montir cukup puas dan gembira.

Restoran itu menyajikan berbagai hidangan BBQ daging sapi ala Jepang, jika tidak salah namanya Shaburi & Kintan Buffet. Restoran ini tentunya tergolong mewah bagi kami, para montir. Bahkan mungkin ada di antara kami yang tidak pernah sama sekali makan di tempat mewah ala Jepang seperti ini.

Benar saja, jika dikatakan mewah sebab restoran ini berlapak di Bintaro Exchange Mall, bukan di bawah naungan pohon asem yang menggunakan tenda gitu. Ini restoran yang dilengkapi dengan furniture yang bagus. Bahkan setiap meja dilengkapi dengan kompor pemanggang di tengah sehingga setiap orang bisa memanggang daging sapi yang sudah dipesan sesuai dengan selera kematangan masing-masing. Kursinya juga empuk dilapisi kulit sintetis yang berkelas sehingga menambah nuansa mewah restoran tersebut.

Ditambah lagi pelayannya juga cakep-cakep, bisa berbahasa Jepang, sudah seperti di One Piece saja. Tak terasa saya pun terbawa suasana dengan mengucapkan “itadakimasu” ketika hidangan datang, yang seharusnya membaca doa mau makan.

“Jika ingin tambah daging bisa, tinggal memindai barcode ini dengan ponsel. Dan ingat, makanan yang sudah dipesan tidak bisa dikembalikan! Akan dikenakan denda per gramnya seratus ribu rupiah jika terdapat sisa makanan!” ucap salah seorang pelayan kepada kami setelah menyajikan hidangan utama.

Terdengar songong ya ucapan pelayan itu? Dikiranya para montir itu bukan sekelompok monster yang pasti melahap habis semua makanan apa? Bahkan bisa saya katakan nafsu makan para montir ini seperti api hitam yang tidak akan pernah padam sebelum objek yang terbakar itu luluh lantak, atau seperti api rindu yang akan terus bergelora selama belum bisa memandang sang kekasih.

Mendengar ucapan itu, saya dan teman-teman montir bukannya takut untuk memesan makanan, justru kami semua sepakat mau mengetahui sekuat apa sih restoran ini mampu memberikan daging kepada kami dalam waktu 90 menit. Terlebih lagi di antara kami ada yang sengaja tidak makan sejak pagi tadi, agar sore nanti tidak terlalu kenyang. Gila, sampai segitunya persiapannya!

“Gue puasa dong, biar nanti tidak kekenyangan!” ucap teman saya yang berbadan gempal ini seakan menjawab tantangan dari pelayan tadi.

Tentu kami memiliki pemikiran yang sama yaitu makanan yang disajikan restoran ini akan membuat kami kekenyangan. Mengetahui hal itu, dengan akal tricky yang saya miliki, saya memutuskan untuk makan dengan cerdas atau bisa dibilang pilih-pilih makanan yang sekiranya tidak cepat membuat saya kenyang.

Mulai dari tidak minum terlalu banyak, menghindari nasi, dan memilih hidangan daging tanpa lemak. Semua itu saya lakukan agar bisa menikmati makanan secara efisien dan berharap puas maksimal tentunya.

Sambil memesan hidangan selanjutnya, tiba-tiba saya terjebak ke dalam sebuah renungan di mana saya memikirkan bagaimana restoran all you can eat seperti ini masih sanggup bertahan kalau setiap pelanggan yang datang boleh makan sepuasnya. Sebenarnya sempat ingin mengubah pesanan daging dari yang mulanya ingin memesan 20 kotak menjadi sepuluh kotak saja, tapi entah kenapa tangan saya telanjur menekan tombol submit di aplikasi pesanan.

Oh iya, untuk memesan makanan memang tidak perlu bertatap muka dengan petugas. Cukup dengan memindai kode batang yang disediakan oleh petugas di meja masing-masing maka kita akan disuguhi oleh berbagai menu lengkap dengan gambar di layar ponsel. Saya pikir ini restoran memang memikirkan metode untuk tetap meminimalisir peluang penularan Covid-19. Duh fitur secanggih ini, apakah restoran all you can eat ini masih bisa mendapatkan keuntungan, ya?

Bayangkan saja, setiap orang hanya membayar Rp135 ribu, sementara saya dan mungkin teman-teman saya ini mampu melahap daging satu kilogram per orangnya. Jika harga daging Rp100 ribu per kilogram, maka restoran all you can eat ini memakai Rp35 ribu sisanya untuk membayar upah para karyawan, membayar sewa lapak yang mahal di sebuah mal ternama dan membayar pengadaan berbagai fitur mewah tadi.

Akal saya tidak sampai untuk memikirkan bagaimana cara restoran ini tetap bertahan terlebih lagi ini sedang masa pandemi. Hmm, sepertinya kedatangan para montir merupakan akhir dari bisnis mereka.

***

Tak terasa, sudah cukup lama saya melamun, sementara itu makanan yang saya pesan belum juga datang. Rupanya, teman-teman saya di meja lain pun mengeluhkan hal yang sama, sudah hampir 30 menit menunggu daging yang dipesan. Benar saja jika pihak restoran memberi waktu 90 menit, ternyata selain membatasi waktu makan para pelanggan, mereka juga bisa mengatur jumlah stok yang sudah dikeluarkan selama 90 menit. Atur tempo, Bos!

Tidak masalah jika mereka mengatur tempo, selama saya tidak banyak minum maka saya tidak akan terlalu kenyang. Saya dan teman-teman saya pasti sanggup menghabiskan 20 kotak daging tanpa lemak yang saya pesan, terlebih lagi dagingnya diiris tipis-tipis paling 10 menit juga kelar.

Ternyata benar, hal yang saya khawatirkan terjadi. Mereka menyerahkan pesanan saya 20 menit menjelang waktu makan habis. Dari kejauhan mereka mendekat dengan tampang memelas seakan memohon pengertian atas keterlambatan penyajian. Namun, sepertinya mereka tidak akan mengucapkan permohonan maafnya dengan alasan restoran sedang ramai, sebab di masa pandemi ini restoran hanya boleh mengisi pengunjung 50% dari total tempat duduk. Ini saja satu meja hanya dikelilingi oleh dua orang pelanggan yang seharusnya muat empat orang. Sehingga mustahil jika restoran ini dikatakan overload hanya karena didatangi para montir.

Justru yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya dan sekaligus membuat saya kecewa meski tidak mengeluarkan sepeser uang pun karena ditraktir, adalah pesanan yang datang tidak sesuai dengan apa yang saya pesan. Saya memesan daging tanpa lemak, sementara yang datang adalah 20 kotak daging dengan lemak yang diiris tipis-tipis itu. Kebetulan memang saya tidak begitu suka dengan jenis daging itu. Entah daging sapi jenis apa itu namanya, yang ditengahnya ada lemak berwarna putih.

Ya meski saya tidak begitu mengerti dengan istilah-istilah daging, namun saya masih bisa membedakan gambar dengan yang asli. Intinya daging yang saya inginkan bukan yang mereka antar.

Hingga pada akhirnya ada 15 kotak yang saya kembalikan karena kebanyakan dari teman saya tidak menginginkan daging jenis itu.

Iya, saya memesan 20 kotak daging sebenarnya bukan untuk diri sendiri, tapi untuk teman-teman saya yang ponselnya tidak bisa memindai kode batang untuk memesan menu tambahan. Seperti kata mereka, mereka meminta tolong kepada saya untuk memesan daging tanpa lemak yang banyak. Apakah ini salah satu trik pihak restoran juga untuk memperpanjang birokrasi?

Meski sempat mendapatkan penolakan karena di awal sudah ada peraturan tidak bisa mengembalikan hidangan, saya berani debat seandainya sampai ada yang kena denda. Sebab mereka sendiri yang memulai curang. Katanya setiap pelanggan boleh makan semuanya? Apakah makan banyak untuk beberapa menu saja bukan termasuk dari makna “semua”?

Ternyata bukannya kenyang dengan daging, tapi kami kenyang dengan berbagai trik. Baiklah tidak masalah, hanya saja sangat disayangkan jika restoran all you can eat sudah memiliki akal licik sebagaimana politisi di negeri ini yang seakan-akan mengesahkan UU Cipta Kerja yang baik bagi buruh tapi sebenarnya justru membahayakan. Huuuashu!

Bahkan mau makan saja bangsa ini masih harus berpikir agar tidak dibohongi oleh kalimat-kalimat yang manipulatif. Aduh lelahnya~

BACA JUGA Berharap Dapat Bantuan dari Pemerintah Itu Lemah dan tulisan Erwin Setiawan lainnya.

Baca Juga:  Netizen Indonesia yang (Masih) Belum Bisa Move On dari Timor Leste

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
187


Komentar

Comments are closed.