Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Karya Sastra Bisa Jadi Alat Propaganda, Asal Nggak Kelihatan Bohongnya

Erwin Setiawan oleh Erwin Setiawan
6 September 2020
A A
Karya Sastra Boleh Jadi Alat Propaganda, Asal nggak Keliatan Bohongnya terminal mojok.co

Karya Sastra Boleh Jadi Alat Propaganda, Asal nggak Keliatan Bohongnya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, di internet, kita disuguhi berbagai macam karya sastra, terutama film. Dari film yang viral karena banyak diterima oleh masyarakat, sampai film yang viral karena banyak ditolak oleh masyarakat.

Tidak ada karya sastra yang dibuat tidak mengandung pesan. Sudah menjadi sebuah kelaziman, jika si pembuat karya ingin menyampaikan ide-ide tertentu dengan indah lewat karya mereka baik langsung maupun tidak langsung. Nah, berangkat dari konsep inilah saya berpikir karya sastra bisa menjadi alat propaganda. Atas anggapan ini pula banyak orang yang menolak beberapa karya sastra.

Walaupun pada akhirnya tidak semua pesan bisa diterima dengan baik oleh penikmat, setidaknya sebuah karya sastra merupakan wujud utuh yang tidak bisa disalahkan. Justru terkadang setiap karya bisa ditafsirkan dengan berbagai sudut pandang, itulah kekuatannya yang unik.

Sebut saja film Tilik yang diproduksi oleh Ravanca Films ini menggambarkan keadaan yang sangat alami. Maksudnya tidak seperti sebuah akting yang dibuat-buat, namun sebuah rutinitas pada kehidupan masyarakat pada umumnya.

Efeknya apa, masyarakat yang menonton sampai terseret masuk ke adegan tersebut. Tidak sedikit penonton yang dongkol menyaksikan adegan Bu Tejo bergunjing. Bukan kah dengan begitu pesan tersebut telah tersampaikan?

Pesan yang disampaikan secara apik ini ternyata mampu menembus hati dan emosi para penonton dengan lembut tanpa banyak basa-basi. Bagi orang yang gemar menggosip, maka dengan menonton film ini mereka akan bisa bercermin.

Atau justru para penonton yang merasa sok suci akan tertawa menyaksikan adegan Bu Tejo, seakan menuduh rekannya di dunia nyata yang gemar menggosip lengkap dengan sepaket analisis dan pertanyan-pertanyaan kritisnya.

Boleh jadi setelah menonton film ini banyak orang yang mengubah perilaku. Memang siapa sih yang mau disamakan dengan Bu Tejo? Untung saja Bu Tejo ini hanya tokoh fiksi, jika tidak maka Bu Tejo akan habis dirundung oleh netizen. Wong sudah tahu ini film fiksi saja, Siti Fauziah selaku aktris yang memerankan Bu Tejo kena dampak verbal bullying tersebut. Ia sempat mengaku sedih berhari-hari. Netizen nggak dewasa ah!

Baca Juga:

5 Rekomendasi Film Pendek tentang PNS yang Perlu Kamu Tonton biar Tahu Susahnya jadi Abdi Negara

Film Resepsi, Film Pendek yang Wajib Ditonton Kalian yang Mau Nikah

Saya pikir si pembuat film tidak ada maksud ingin menjatuhkan harkat dan martabat perempuan hanya karena di film tersebut menggambarkan perempuan yang suka ngegosip. Masyarakat cukup cerdas kali, tidak mungkin memandang rendah para perempuan hanya karena film tersebut. Masih banyak perempuan seperti Yu Ning, meskipun mereka terancam tidak memiliki teman di kelompoknya.

Karya sastra berupa film lain yang bisa dibilang sukses adalah Loz Jogjakartoz. Meski isu di film itu terbilang ora umum atas definisi budaya orang Yogyakarta, film ini cukup apik dan alami sekali. Bahkan mampu mengubah pikiran saya yang sebelumnya berpikir bahwa kota Yogyakarta adalah kota yang indah, ramah dan penuh kedamaian. Setidaknya dengan menonton film itu saya tetap perlu berwaspada jika suatu hari nanti akan melangkahkan kaki di kota itu lagi.

Sebenarnya yang menjadi kekuatan pada film itu adalah bahasa dan sepaket budaya dalam berkomunikasi antara tokoh satu dengan yang lain. Sehingga ketika saya menemukan hal yang di luar sepengetahuan saya, akal saya masih bisa menerima karena yang saya lihat adalah adegan orang Yogyakarta yang memang terasa Yogyakartanya.

Film yang tak kalah sukses adalah Jokowi. Bisa dibilang film itu adalah film yang menceritakan perjalanan hidup Pak Jokowi. Film itu tayang pertama kali di pertengahan tahun 2013, satu tahun sebelum Pemilu Presiden. Bisa saja ini film disebut sebagai film propaganda atau sebuah film penepis berita bohong atas perjalanan hidup Pak Jokowi. Namun hal itu tidak begitu terasa karena film tersebut disajikan secara apik dan sepersis mungkin dengan kondisi Pak Jokowi di masa itu.

Saya menilai, pembuat film ini sangat cerdas, karena bisa menggambarkan keadaan kota Solo pada masa Soeharto dengan menampilkan gerakan penumpasan anggota PKI sampai ke akar-akarnya. Dan yang tak kalah keren adalah di pembukaan film tersebut, ketika seorang ayah dengan sepeda ontelnya diberhentikan petugas Satpol PP, ia dikira ikutan berjualan hasil taninya bersama dengan sosok orang-orang desa lengkap dengan pakaian jaman dulunya. Adegan itu terkesan sangat alami dan sebuah pembuka yang kuat.

Tentu hal tersebut dapat membangun sebuah keyakinan pada setiap orang yang menonton film tersebut bahwa hal itu benar-benar terjadi di Solo pada masa itu. Untuk seterusnya hingga film itu selesai, maka para penonton akan dengan lebih mudah menerima film tersebut sebagai karya sastra dan telah memberikan fakta yang sebenarnya. Apalagi film itu ditutup dengan adegan pelantikan Pak Jokowi sebagai Gubernur DKI. Sempurna sekali.

Tidak seperti film Jejak Khilafah di Nusantara yang sempat viral lalu diblokir oleh pihak YouTube. Jika benar film berdurasi 50 menitan itu adalah film yang dimaksud, maka saya sangat kecewa tentunya. Saya pikir itu tak layak disebut sebagai sebuah karya sastra.

Saya pikir film ini akan dimulai dengan adegan pelayaran orang-orang berjubah seperti Pangeran Diponegoro, setidaknya menyerupai sosok Walisongo atau para Habaib di negeri ini. Lalu mereka merapat di sebuah daratan yang disebut Nusantara lengkap dengan gambaran penduduk Nusantara pada masanya. Tapi di film yang saya tonton sama sekali tidak ditemukan hal spektakuler semacam itu.

Bahkan saya katakan film tersebut hanyalah seperti cuplikan pada acara On The Spot, sehingga kepala saya langsung menolak jika film tersebut dikatakan sebagai karya sastra. Andai saja pembuat film itu menyadari bahwa kekuatan sastra itu dahsyat, mungkin ia menyesal telah merilis film mentah tersebut.

Saya membayangkan jika film itu disajikan dengan apik, mungkin film itu akan menjadi ancaman besar untuk bangsa ini. Sebab, kita tahu bangsa ini sangat sensitif dengan isu khilafah. Misalnya film sejarah itu berisi sejarah yang benar, saya pikir akan sulit diterima oleh bangsa sendiri. Terlebih lagi isi sejarahnya disebut sebagai khayalan oleh seorang pakar sejarah. Saya pikir menjadi hal yang wajib untuk menyajikan film secara apik dan sealami mungkin agar film itu bisa diterima.

Contoh karya sastra lain yang sulit diterima adalah sebuah puisi Ibu Indonesia yang dibacakan Bu Sukmawati Soekarnoputri. Jika saya baca dengan hati yang tenang, saya bisa menangkap maksud Bu Sukmawati ingin mengajak bangsa Indonesia bangga dengan pakaian dan budaya bangsa; seperti konde dan kidung.

Bahkan saya pikir boleh saja menulis seorang tokoh yang berkarakter lebih suka dengan konde daripada cadar, hanya saja ini perlu awalan yang kuat. Maksud saya, jika disampaikan di dalam bait puisi akan menjadi terlalu kasar dan menyakiti orang lain.

Setidaknya untuk menyampaikan hal yang sensitif ini perlu teknik yang lebih lembut, sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya diawali oleh film yang menggambarkan latar belakang tokoh tersebut, kenapa bisa memiliki ide itu secara subjektif.

Saya masih ingat betul dengan ucapan dosen saya, Ibu Ruisah yang mengajarkan kesusastraan kepada saya, beliau mengatakan “Isinya karya sastra ya sekitar isu-isu yang sensitif itu, seperti agama, ras dan suku.”

Beliau menambahkan, “Sastra lah yang bisa menembus dinding pemisah itu, sehingga mari bersastralah dengan baik sebagaimana manusia yang memanusiakan manusia!

BACA JUGA Seret Meminang Vario 125 Gara-gara Fitur CBS dan ISS dan tulisan Erwin Setiawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 September 2020 oleh

Tags: film pendekkarya sastra
Erwin Setiawan

Erwin Setiawan

Seorang montir yang berusaha melihat mata Tuhan.

ArtikelTerkait

cameo project mojok

5 Film Pendek Karya Cameo Project Paling Recommended

15 Oktober 2020
film pendek tilik film unbaedah korupsi siti fauziah ozie pemeran bu tejo tilik festival film terinal mojok.co

Eksekusi Hukuman untuk Koruptor Versi Film Unbaedah

29 Agustus 2020
rekomendasi film horor youtube film pendek horor terbaik paling seram

39 Film Horor Pendek Terbaik di YouTube

11 November 2019
Ngiring Belasungkawa Film Pendek yang Kritik Tradisi Kematian di Jawa Barat terminal mojok

Ngiring Belasungkawa: Film Pendek Mengkritik Tradisi Kematian di Jawa Barat

4 Desember 2021
rekomendasi film pendek

Rekomendasi Film Pendek Bagus di YouTube yang Wajib Kamu Tonton

8 Oktober 2019
turnitin plagiasi mojok.co

Bisa Nggak sih Kita Memanfaatkan Turnitin untuk Meminimalisir Plagiarisme Karya Sastra?

16 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

12 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.