Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Orang Semarang yang Kaget Menemukan Sisi Lain Kota Solo

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
6 Juni 2026
A A
Pengalaman Orang Semarang Kaget Menemukan Sisi Lain Solo (Unsplash)

Pengalaman Orang Semarang Kaget Menemukan Sisi Lain Solo (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Memang, perjalanan Semarang ke Solo itu hanya memakan waktu beberapa jam saja. Saking dekatnya, saya sempat merasa sudah sangat khatam dengan seluk-beluk kehidupan di Jawa Tengah. 

Saya pun sempat menyangka kalau Solo nggak akan jauh beda dengan Semarang. Hanya sekadar destinasi singgah yang nuansanya bakal terasa familiar.

ADVERTISEMENT

Namun, setelah kesekian kalinya berkunjung ke sana, saya akhirnya sadar. Ternyata, ada banyak hal asing yang nggak pernah saya temui di Kota Lumpia. Praktis, saya yang awalnya merasa sok paling tahu ini, mau nggak mau harus bertekuk lutut dan mulai belajar membaca ritme Kota Bengawan dengan cara yang sama sekali baru.

BACA JUGA: 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

Parkir mobil di pinggir jalan di Solo adalah ujian kesabaran

Sebagai orang Semarang yang sudah terbiasa dengan sistem parkir di kantong-kantong khusus yang tertata, parkir di pinggir jalan raya Solo sungguh bikin mumet. Infrastruktur jalan di sini yang memisahkan jalur lambat dan cepat justru bikin saya harus memeras otak saat ingin menepikan kendaraan sebentar saja.

Saya sering bingung. Kalau parkir di jalur lambat, saya takut menghambat laju kendaraan nggak bermotor. Tapi kalau nekat berhenti di pinggir jalur cepat, saya khawatir menyalahi aturan. Lebih bikin garuk-garuk kepala lagi ketika tukang parkir dengan santainya malah mengarahkan saya untuk menaruh mobil di atas trotoar.

Pemisah jalan raya yang nggak lazim bagi warga Semarang

Di Semarang, pemisah jalan biasanya berupa media jalan permanen. Entah itu pembatas beton yang kokoh atau jalur hijau yang rimbun dengan tanaman. Nah, begitu sampai di Solo, saya sering dibuat melongo karena desain pemisah jalannya yang terkesan nyeleneh dan bikin pendatang bingung.

Bayangkan saja, ada patung yang cuma diletakkan begitu saja di atas bangunan persegi tanpa lajur pembatas di depan atau belakangnya. Belum lagi soal jalan utama yang hanya dipisahkan oleh road barrier berbahan plastik oranye. Bahkan di titik persimpangan tengah kota yang paling ramai.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Kalau cuma mengandalkan Google Maps, bisa-bisa malah tersesat karena arah laju kendaraannya yang memusingkan. Butuh waktu lama bagi mata saya untuk bisa membaca alur jalan yang bagi warga lokal mungkin terasa sepele. Namun bagi saya, orang Semarang, pengaturan lalu lintas di Solo ini ibarat jebakan Batman yang bikin senewen.

Fenomena tong di tengah persimpangan jalan di Solo bikin kaget orang Semarang

Hal lain yang cukup absurd adalah keberadaan tong besar yang sengaja diletakkan tepat di tengah perempatan. Kalau di Jogja, titik tengahnya biasanya diisi monumen atau tugu kecil sebagai pemisah. Sementara di Semarang, area tersebut hampir pasti dikuasai “Pak Ogah” yang sibuk mengais recehan.

Di Solo, tong-tong ini berfungsi sebagai pembatas yang memaksa pengendara berbelok mengikuti alur yang sudah ditentukan. Awalnya, saya sempat merasa ini justru menghambat mobilitas. Namun, lambat laun saya mulai paham. Ini mungkin bentuk kearifan lokal yang efektif untuk menjaga lalu lintas biar nggak semrawut.

Nggak ada palang kereta uap Jaladara yang menyeberang di jalan utama

Pengalaman paling bikin kaget adalah saat pertama kali melihat kereta uap Jaladara melintas. Bukan hanya berjalan berdampingan dengan kendaraan umum lainnya tanpa pembatas. Tapi juga ketiadaan palang pintu ketika kereta Jaladara membelah jalan raya utama, Jalan Slamet Riyadi.

Barangkali, pemakai jalan di Solo harus punya inisiatif buat berhenti sendiri. Bagi orang Semarang, ini adalah pengalaman menegangkan. Sebab, fakta bahwa kereta besar berjalan di tengah kota tanpa penghalang fisik benar-benar adalah sebuah pemandangan yang mustahil di Semarang.

BACA JUGA: Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

Terdapat bilik toilet umum gratis di trotoar

Terakhir, saya benar-benar dibuat takjub dengan keberadaan bilik toilet umum gratis khusus untuk buang air kecil di trotoar. Di tengah hiruk-pikuk kota, menemukan fasilitas sanitasi yang bisa diakses secara cuma-cuma dengan kondisi yang terawat adalah sebuah kemewahan tersendiri. 

Saat saya coba buka, bilik berbahan plastik tebal itu ternyata sama sekali nggak menguarkan bau pesing yang biasanya jadi momok toilet umum.

Kontras sekali rasanya kalau ingat Semarang. Di sana, saya biasanya harus repot masuk ke SPBU atau mencari pusat perbelanjaan sekadar buat buang hajat. Bahkan toilet di Simpang Lima pun ada tarifnya. Jelas, kehadiran bilik ajaib di Solo ini benar-benar jadi penyelamat bagi pelancong seperti saya.

Deretan kejutan yang saya temui selama di Solo bukanlah soal mana yang lebih baik atau benar. Ini adalah tentang bagaimana saya masih harus rendah hati untuk banyak belajar kebiasaan dari kota tetangga. Bahkan, yang mungkin jaraknya hanya selemparan batu saja.

Penulis: Paula Gianita Primasari

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2026 oleh

Tags: Jalan Slamet Riyadikereta uap jaladaraSemarangsimpang lima semarangsolo
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Gudeg Solo Kalah Pamor dari Gudeg Jogja, padahal Rasanya Lebih Gurih dan Cocok di Lidah Banyak Orang Mojok

Gudeg Solo Kalah Pamor dari Gudeg Jogja, padahal Rasanya Lebih Gurih dan Cocok di Lidah Banyak Orang

30 Juli 2025
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng

11 Januari 2026
4 Hal Salah Kaprah Terkait UIN Walisongo Semarang

4 Hal Salah Kaprah Terkait UIN Walisongo Semarang

22 Juni 2023
6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026
Kartasura Sering Dikira Bagian dari Solo padahal Sudah Beda Kabupaten

Kartasura Sering Dikira Bagian dari Solo padahal Sudah Beda Kabupaten

8 November 2025
Selamat Tinggal Bekasi, Ternyata Semarang Lebih Indah untuk Ditinggali dialek semarang

Maaf-maaf Saja, Semarang Jauh Lebih Superior ketimbang Cikarang, apalagi dalam 6 Hal Ini

16 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.