Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
3 Juni 2026
A A
5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total Mojok.co

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pindah ke daerah baru atau merantau selalu penuh ekspektasi. Apalagi kalau daerah tujuannya Solo. Di kepala kalian pasti sudah terbayang daerah yang kalem, tertib, dan penuh budaya. Hidup bakal tenang dan tentram. 

Akan tetapi, realitas menghantam dengan keras ketika benar-benar pindah dan tinggal di Kota Budaya ini. Kenyataannya, daerah ini tak seindah ekspektasi orang-orang. 

#1 Tidak semua orang Solo itu halus dan lemah lembut

Ada istilah “putri Solo” untuk menggambarkan orang-orang yang lemah lembut dan elegan. Daerah ini memang lekat dengan warga yang halus tuturnya dan lemah lembut tindak-tanduknya. 

Tidak heran kalau pendatang kemudian membayangkan hidup di Solo akan menghadapi warlok yang seragam seperti itu. “Wah, pasti gampang bergaul di sini” mungkin begitu kurang lebih ekspektasi orang-orang. 

Kenyataannya jauh dari itu. Memang ada orang yang lembut tutur kata dan tindak tanduknya. Namun, tidak sedikit juga yang ugal-ugalan mulut dan tindakannya. 

Apalagi ketika berkendara, banyak juga orang yang membawa kendaraan mirip film balap Fast & Furios. Ada yang klakson keras dan emosian, semua dilakukan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Budaya sopan memang masih kental, tapi itu bukan berarti konflik sosial hilang total. Malah kadang, konfliknya lebih rumit karena tipe orangnya pasif-agresif. 

#2 Makanan murah itu relatif

Murah dan mahal itu relatif. Semuanya tergantung penghasilan seseorang dan di mana mereka membelanjakannya. Kalau kalian menjajakan uang kalian di tempat turis yang viral, jelas makanan dan minuman di sana mahal-mahal. 

Baca Juga:

Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

Nasi liwet atau makanan khas Solo lainnya yang enak itu ada banyak. Hanya saja, kalian perlu tahu di mana harus berkunjung. Nah, kalau sudah begini, jangan malu-malu untuk tanya warlok yang lebih tahu daerahnya lebih lama dan dalam. 

#3 Solo tidak seperti Jakarta yang padat, tapi jalanannya mulai macet

Solo bukanlah kota besar seperti Jakarta maupun Surabaya. Namun, jangan berani-beraninya memimpikan jalan yang lenggang setiap saat. Ada kalanya kemacetan di jalanan Solo itu mirip jalanan Jakarta. 

Jalan Slamet Riyadi di jam sibuk misalnya. Belum lagi kalau ada acara budaya, karnaval, atau event besar jalanan berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan yang bergerak sangat lambat. 

Dan, satu hal yang sering bikin pendatang kaget. Sistem jalan di Solo itu punya logika sendiri. Ada jalan satu arah yang berubah arah di jam tertentu, ada gang yang kelihatan buntu, tapi ternyata tembus. Google Maps memang bisa membantu, tapi pengalaman warga lokal adalah sumber kebenaran yang sesungguhnya.

#4 Tidak semua warlok menikmati event budaya

Ini yang paling menggiurkan. Solo punya Keraton, punya tradisi wayang, punya batik, punya sekaten. Kalian membayangkan setiap minggu ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati sambil ngemil jadah.

Kenyataannya, acara budaya di Solo itu ada, tapi tidak setiap hari, dan tidak selalu mudah diakses kalau kamu tidak tahu jadwalnya. Orang yang bisa update soal agenda budaya Solo biasanya adalah mereka yang memang aktif di komunitas atau sudah lama tinggal di sana.

Lucunya, banyak pendatang yang justru lebih rajin datang ke acara budaya Solo dibanding warga Solo sendiri. Sebagian besar orang Solo yang sudah kerja dan punya anak malah menghabiskan waktu luang mereka di mal atau wedangan hal yang persis sama yang mereka lakukan di kota mana pun. Jadi ekspektasi kamu soal hidup yang penuh nuansa budaya setiap hari mungkin perlu sedikit direvisi.

#5 Tinggal di Solo bikin orang auto betah

Ini juga salah satu mitos paling sering dipercaya.

Solo memang nyaman, tapi tidak semua orang otomatis cocok tinggal di sini. Ada yang justru merasa ritme kota ini terlalu lambat. Ada juga yang bosan karena suasananya tidak serumit kota besar. Tidak sedikit pula yang merasa Solo terlalu “aman” sampai hidup terasa monoton.

Karena pada akhirnya, betah atau tidak bukan cuma soal kota, tapi juga soal fase hidup.

Kalau hidup sedang berantakan, pindah ke kota senyaman apa pun tetap bisa terasa sepi. Terlebih kalau belum ada lingkar pertemanan, Solo bisa terasa sunyi. Apalagi kalau belum berdamai dengan diri sendiri, setenang apapun Solo, tetap terasa melelahkan.

Itulah beberapa ekspektasi para perantau Solo yang kerap kali buyar ketika benar-benar hidup di Kota Budaya ini. Bagaimana para perantau Solo, valid tidak daftar di atas? 

Penulis: Alifia Putri
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: merantauperantauperantau Solosolo
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Sinyal 5G di Solo Rasanya Sama Saja seperti 4G. Menyedihkan! (Unsplash)

Sinyal 5G di Solo Rasanya Sama Saja seperti 4G, Padahal Kota Besar dengan Sinyal Stabil

31 Agustus 2023
Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

7 November 2023
Susahnya Jadi Perantau Asal Banjarnegara

Susahnya Jadi Perantau Asal Banjarnegara

23 Juni 2023
Kecamatan Nguter Sukoharjo Punya Desa Bernama “Amerika” (Unsplash)

Mengagumi Deretan Rumah Mewah di Kecamatan Nguter Sukoharjo. Rasanya Seperti Tinggal di Kawasan Elite Bernama “Desa Amerika”

22 November 2023
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
5 Tempat di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi terminal mojok

5 Tempat di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi

10 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun Mojok.co sumatera selatan

Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?

21 Juni 2026
7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

20 Juni 2026
Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham Mojok.co

Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham

21 Juni 2026
Universitas Merdeka Malang Sering Dipelesetkan Universitas Merana, padahal Layak Diperhitungkan Mojok.co

Universitas Merdeka Malang Sering Dipelesetkan Universitas Merana, padahal Layak Diperhitungkan

19 Juni 2026
Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok Mojok.co

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.