Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
29 Juli 2026
A A
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Keputusan saya untuk tidak pulang ke Jawa Timur pada Agustus tahun ini terasa seperti langkah paling jenius. Saat perantau lain mendadak puitis merindukan bau tanah desa, saya justru memilih tiarap dan bertahan di Jakarta demi menghindari sound horeg.

Semua ini terjadi gara-gara sound horeg. Kamu harus tahu kalau di Jawa Timur, hiburan rakyat bernama sound horeg sudah berubah menjadi ajang adu gengsi volume suara yang meresahkan. 

ADVERTISEMENT

Mereka menghamburkan ribuan watt daya listrik cuma demi merakit dinding speaker yang getaran basnya sanggup meretakkan dinding rumah, merontokkan genteng, dan bikin jantung berdebar keliru.

Pilihan ini tentu bukan karena saya sudah lupa kacang akan kulitnya. Semua berawal dari obrolan via telepon bersama ibu beberapa hari lalu yang membagikan kabar situasi terkini di kampung halaman.

Brengsek, bayar iuran 100 ribu cuma untuk merusak telinga

Kemarin ibu cerita kalau sound horeg akan memeriahkan perayaan Agustusan tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, ada 17 armada sound horeg berukuran raksasa yang siap menggelegar mengelilingi jalanan desa yang selebar tiga meter itu. 

Saya semakin heran karena satu pengumuman. Jadi, KK wajib ikut urunan Rp100 ribu  demi mendanai parade bising tersebut.

Bagi saya, nominal urunan bukan masalah utama. Tapi alokasinya itu loh yang bikin ngelus dada berulang kali. 

Ngapain membayar iuran cuma demi mengundang polusi suara yang berpotensi merusak fasilitas rumah. Daripada pulang ke Jawa Timur cuma buat menyiksa telinga dan emosi jiwa, saya sudah berencana mengungsikan keluarga besar keluar desa saat acara sound horeg berlangsung. Sementara mereka mengungsi, saya aman di perantauan Jakarta.

Baca Juga:

Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di Jogja

Bakso Malang minggir dulu, status makanan khas Malang mending kasihin ke tempe mendol yang endul itu

Terkikisnya tradisi dan budaya lokal Jawa Timur

Padahal kalau mengingat masa lalu, ingatan saya tentang perayaan Agustusan di Jawa Timur itu selalu hangat dan menyenangkan. Bukan sound horeg yang merusak telinga itu.

Dulu, pawai dengan pakaian adat menjadi pemandangan yang kami nantikan. Lalu ada atraksi jaranan yang magis. Sampai parade gunungan hasil bumi yang diarak warga dengan penuh rasa syukur. 

Ada semangat gotong royong dan pelestarian budaya lokal yang terasa begitu kental. Tapi kini, keindahan tradisi itu seolah menguap gitu aja. 

Dentuman bas dari sound horeg bikin pusing. Budaya Jawa Timur yang adiluhung justru terdesak oleh tren pamer daya listrik dan gengsi suara super keras. 

Ini bukan lagi pesta rakyat untuk mempererat silaturahmi, melainkan ajang gagah-gagahan yang menghilangkan nilai kebudayaan yang sesungguhnya. Karnaval yang dulu edukatif kini resmi berubah jadi hiburan yang sangat meresahkan.

Menghindari sound horeg, memilih ketenangan di Jakarta

Menghabiskan bulan Agustus di Jakarta mungkin terdengar membosankan bagi sebagian orang. Tapi kalau harus membandingkan kemacetan dengan teror polusi suara sound horeg di kampung, Jakarta mendadak terasa seperti tempat meditasi yang sangat tenang. 

Di sini, setidaknya saya bisa menikmati akhir pekan tanpa perlu cemas kaca kamar bakal pecah akibat getaran bas ekstrem dari pagi sampai subuh.

Sound horeg sukses membuat niat mudik saya luntur seketika tanpa sisa. Ternyata, bertahan di perantauan Jakarta menjadi opsi paling rasional demi menyelamatkan ketenangan pikiran serta kedamaian gendang telinga saya.

Keputusan menetap sementara di perantauan ini akhirnya jadi bentuk perlindungan diri yang paling hakiki. Kemerdekaan itu hakikatnya memberikan rasa nyaman dan kedamaian, bukan rasa cemas akibat keributan yang dipaksakan atas nama hiburan seperti sound horeg.

Pada akhirnya, sampai tradisi Agustusan di kampung halaman kembali memanusiakan warga dan menghargai akar budaya yang sebenarnya, saya pilih menikmati arti kemerdekaan dari sudut perantauan ini saja.

Penulis: Dodik Suprayogi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: bahaya sound horegJakartajawa timurkarnaval agustusanpawai sound horegsound horeg
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

4 Rekomendasi Tempat Makanan Murah di Jalan Pesanggrahan UIN Jakarta, Cuma 12 Ribuan Mojok.co

4 Rekomendasi Tempat Makan Murah di Jalan Pesanggrahan UIN Jakarta, Cuma 12 Ribuan

25 Desember 2024
Lamongan Destinasi Liburan yang Logis ketimbang Jogja (Unsplash)

Ketimbang Jogja, Lamongan Adalah Destinasi Paling Logis untuk Liburan Tahun Baru

30 Desember 2024
Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten di Jawa Timur yang Sering Dilupakan (Unsplash)

Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten yang Sering Dilupakan

19 April 2023
Jakarta vs Jawa: Kenapa Orang Jabodetabek Merasa Berbeda?

Jakarta vs Jawa: Kenapa Orang Jabodetabek Merasa Berbeda?

15 Maret 2025
Riang Prasetya, Ketua RT Rasa Kepala Daerah

Riang Prasetya, Ketua RT Rasa Kepala Daerah

27 Mei 2023
Payung Teduh Masih Tetap Teduh Didengar Meski Ditinggal Mas Is terminal mojok.co

Rekomendasi Musik untuk Menyambut Musim Hujan di Jakarta

16 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi Mojok.co

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi

23 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

26 Juli 2026
Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

Label wisata elit Pangalengan itu bualan, selama transportasi umumnya masih jalan di tempat

28 Juli 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co tukang cukur madura

Balasan terhadap tulisan tukang cukur Madura: sampai kapan Madura terus dikaitkan dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya?

24 Juli 2026
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.