Sebagai Orang yang Pernah Mondok, Saya Tidak Ingin Disebut Santri – Terminal Mojok

Sebagai Orang yang Pernah Mondok, Saya Tidak Ingin Disebut Santri

Artikel

Avatar

Pada Oktober ini, kemeriahan Hari Santri Nasional mulai kita rasakan. Di jalan-jalan, spanduk dan baliho mengenai ucapan Hari Santri mulai dipasang. Di media sosial, seruan untuk memeriahkan Hari Santri pun semakin ramai diperbincangkan. Perayaan ini memang tergolong baru. Presiden Jokowi menetapkannya pada 22 Oktober 2015, yang artinya perayaan ini baru akan terselenggara untuk yang kelima kali. Bagi saya pribadi, perayaan Hari Santri memang tidak bisa dilepaskan, mengingat saya dulu pernah mondok tiga tahun di salah satu pesantren.

Iya, saya memang pernah mondok ketika SMP. Waktu itu, sebenarnya saya sudah masuk di salah satu SMP negeri di kota saya. Akan tetapi, karena saya saat itu dianggap terlalu nakal karena sering main dan tidak tahu waktu, orang tua saya terpaksa memasukkan saya ke pesantren. Pemahaman saya mengenai pesantren sebagai tempat anak-anak nakal dihukum semakin kuat saat itu. Bahkan sampai sekarang pun, masih ada sisa-sisa pemikiran bahwa pesantren adalah tempat anak-anak nakal dihukum. Maklum, pengalaman pribadi.

Pesantren tempat saya “dihukum” pun sebenarnya lebih tepat disebut sekolah asrama berbasis agama karena kehidupan di dalam sana tidak seperti pesantren pada umumnya. Memang, pesantren tempat saya mondok adalah pesantren yang bernaung di bawah bendera Al-Irsyad, tentunya berbeda dengan pesantren NU yang biasanya dimaksud orang-orang. Secara kurikulum pendidikan, pesantren saya juga bisa dibilang seimbang antara pelajaran umum dan pelajaran agama. Bisa dibilang, pelajaran yang diajarkan tidak ada yang berbeda dengan sekolah umum lainnya, hanya pelajaran agamanya lebih banyak.

Selama tiga tahun saya mondok itu saya bahkan tidak merasa mempunyai identitas santri. Entah karena pesantren saya jarang menggunakan kata santri untuk merujuk pada saya dan teman-teman, atau memang tidak ada tradisi ala santri yang diterapkan di pesantren saya. Misalnya, kalau santri di pesantren lain akan cium tangan dan menunduk ketika bertemu gurunya, di pesantren saya kultur itu tidak berlaku. Murid dan guru kedudukannya bisa dibilang setara dan kami hanya perlu menyalaminya saja, tanpa harus cium tangan atau menunduk di hadapannya.

Selain itu saya juga tidak pernah nyaman kalau disebut sebagai santri. Jangankan sekarang, dulu ketika masih berada di dalam pesantren, saya lebih senang disebut sebagai murid pesanten A (nama pesantren), daripada disebut sebagai santri. Saya merasa bahwa gelar santri adalah sebuah tanggung jawab besar yang belum siap saya pikul. Lebih tepatnya, saya tidak pantas menyandang gelar santri. Pertama, karena masuk pesantren itu bukan kemauan saya dan itu adalah keputusan yang dipaksakan. Jadi saya tidak mau menyandang gelar atau sebutan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak saya kehendaki.

Alasan kedua, saya tidak mau mempunyai gelar yang terlalu agamis. Kita semua tahu bahwa santri selalu identik dengan orang-orang yang pemahaman agamanya cukup tinggi, orang-orang yang taat beribadah, dan selalu mengamalkan ajaran-ajaran agama. Sementara saya, sholat saja masih jarang, ngaji pun belum benar, dan kelakuan masih seperti berandalan. Gelar santri tentunya tidak akan pantas tersemat dalam diri saya, dan saya pun memang tidak mau menyandang gelar tersebut walaupun pernah hidup di pesantren. Saya lebih senang disebut sebagai mantan santri, walaupun kata teman mondok saya yang juga seorang santri, istilah “mantan santri” itu tidak ada.

Namun, keengganan saya disebut sebagai santri ini bukan berarti saya memandang rendah para santri. Sebaliknya, saya malah angkat topi kepada para santri yang mempunyai mental-mental baja. Bayangakan saja, sudah ratusan tahun para santri berperan untuk negeri ini, baru tahun 2015 mereka dibuatkan perayaan. Selain itu, para santri ini juga tetap sabar dengan stereotip-stereotip kurang baik yang melekat. Mulai dari anggapan bahwa para santri yang mondok sering gudikan (penyakit gatal), jorok, hingga dianggap kurang melek teknologi. Anggapan ini dirasakan dan ditanggapi dengan sabar oleh para santri, sembari membuktikan bahwa mereka tidak seperti yang orang sangkakan.

Maka dari itu, meskipun saya tidak mau dianggap atau disebut sebagai santri, saya akan tetap memberikan ucapan kepada para santri yang akan merayakan harinya pada 22 Oktober. Selamat Hari Santri, semoga keberkahan selalu menaungi kalian para santri. Salam dari saya, mantan santri yang tidak mau disebut santri.

BACA JUGA Mari Bersepakat bahwa ST 12 Adalah Band Pop Melayu Terbaik di Indonesia dan tulisan Iqbal AR lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Kata Umpatan Jogja yang Nggak Ada Serem-Seremnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.