Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road – Terminal Mojok

Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road

Artikel

Avatar

Siapa di sini yang belum pernah ngerasain sahur on the road, sambil nongki sama temen-temen sepermainan, gitu? Kalau belum pernah juga, berarti tosss dulu!!!

Dulu, makna dari sahur on the road itu sendiri yaitu sahur dengan melakukan misi berbagi kepada orang-orang di jalanan yang membutuhkan makan untuk sahur. Namun, tidak sedikit di kalangan pemuda dan remaja yang saat ini mengubah definisi SOTR. Sekarang, rasa-rasanya sahur on the road sama halnya dengan bukber bareng temen-temen.

Buat yang belum pernah ngerasain turun SOTR sambil berbagi, nih. Kalian pengin nggak sih tahu sensasinya? Mungkin yang belum pernah kebanyakan tinggal di rumah dan nggak boleh orang tua keluar dini hari. Atau yang tinggal di asrama atau pesantren yang nggak dapat izin keluar malam, atau memang karena mager dan nggak tertarik?

Kalau saya di rumah, nggak boleh keluar dini hari. Kalau di perantauan, kuliah juga tinggal di pesantren. Kadang saya mengeluh, oke lah sama-sama ngaji di pesantren, tapi kenapa santri putri lebih ketat peraturan keamanannya dibanding peraturan di asrama santri putra? 

Apa boleh buat, memang seperti itu yang sudah mendarah daging dalam aturan lingkungan kita. Di mana perempuan selalu harus lebih dijaga, lebih diwanti untuk selalu berhati-hati, dan segala stereotip yang melekat lainnya.

Kalau santri putra mungkin masih bisa kali ya, SOTR ala-ala, barang cuma keluar ke warung dekat-dekat jalanan asrama pesantren, biasanya ada yang masih buka sampai sahur. Pokoknya, masih enak deh kalau santri putra tuh, nggak ketat-ketat amat peraturannya. Mungkin nggak semua pesantren sih, tapi biasanya gitu, kalau asrama putra lebih longgar jam keluarnya.

Banyak teman kampus yang tinggal di kos atau kontrakan ngajakin saya untuk ikutan SOTR. Tapi apa boleh buat, saya selalu menolak ajakan mereka. Hingga sampai mau lulus kuliah, belum kesampean nerima ajakan temen kampus buat ikutan SOTR. Dan paling nyeseknya, kalau temen-temen kelas pada buat daftar nama siapa yang mau ikutan SOTR, pasti lagi-lagi saya termasuk salah satu yang nggak pernah nulis nama di grup WhatsApp kelas.

Emang gimana sih, sensasinya SOTR? Seru banget ya, kayaknya? 

Makan sahur sambil menghirup udara luar yang tentunya lebih segar, karena pada jam-jam sahur polusi udara lebih sedikit. Tak jarang juga teman-teman open donasi iuran buat bagi-bagi makanan ke orang yang membutuhkan makan sahur di luar.

Sebetulnya, nggak yang nyesel-nyesel amat kok. Pasalnya, kalau saya baca dan lihat di berita, tidak sedikit yang memberikan informasi terkait bahaya SOTR. Ada yang jadi objek kejahatan orang-orang nakal, misalnya. Bahkan malah si pelaku SOTR sendiri yang melakukan konvoi bersama rekan-rekannya.

Padahal, sahur kan amalan sunah. Bisa menjadi ladang pahala, kalau kita melakukan sahur dengan benar dan untuk bekal seharian berpuasa. Tapi, di musim pandemi sekarang ini, kayaknya nggak ada lah ya, yang berani rame grudukan ngadain SOTR~

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Iya, Iya, Ideologi Fashionmu Itu Local Pride, tapi Jangan Cuma karena Nggak Ada Duit

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.