Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab dalam Silaturahmi

Artikel

Fatimatuz Zahra

Pagi ini saya yang sudah beberapa dekade eh beberapa minggu tidak nimbrung di Instagram, akhirnya kembali membuka akun Instagram saya. Niat awalnya sih nontonin video kucing, tapi seperti biasa saya kepincut nonton story beberapa orang. Betapa kaget dan katroknya saya ketika melihat ada foto saya dan bertuliskan, “this is the most kind person i’ve ever known” padahal saya sudah lama tidak bertemu atau melakukan komunikasi yang intens dengan kawan saya tersebut.

Alih-alih tersanjung, saya justru ngeri sendiri membayangkannya. Lha masak nggak pernah berinteraksi tiba-tiba jadi orang paling baik yang pernah ia temui. Anak ini lagi ada masalah, nggak punya temen cerita atau gimana? Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengirim DM kepada teman saya tersebut, bukan dengan ucapan terima kasih melainkan pertanyaan, “Kamu kenapa, Mbak?”

Belum sampai dibalas, saya mencoba mencari tahu lewat hashtag yang terdapat dalam story teman saya, yaitu #WeShouldAlwaysBeKind dan akhirnya saya menemukan sebuah akun pribadi sang kreator campaign tersebut. Diiringi rasa penasaran dan ke katrok-an saya yang sudah lama nggak main Instagram, saya baca dan mencoba memahami, campaign apa sih ini sebenarnya?

Ternyata, #WeShouldAlwaysBeKind adalah sebuah campaign yang dirancang untuk menyambung silaturahmi. Cara kerjanya, poster yang kita unggah di Instagram story akan menampilkan ava dari orang yang sedang melihat story kita. Harapan dari kreatornya, hal ini akan memicu komunikasi yang sebelumnya tidak pernah atau jarang kita lakukan dengan seseorang. Lalu kemudian, muncullah doa-doa baik antara kedua orang yang sedang berkomunikasi. Termasuk mantan? Ya bisa jadi, kalau mantanmu nonton storymu. Mantap, jadi kesempatan untuk memperbaiki yang sudah berlalu, ya? Eak.

Tapi saat saya tengok kolom komentar, ternyata tidak semua orang mendapatkan respons yang sesuai ekspektasi. Beberapa juga merasa bersalah karena seperti sedang ngeprank orang. Dan hal ini lah yang juga saya rasakan saat tiba-tiba ada foto saya nangkring di Instagram story orang tanpa tag atau mention. Perasaan, takut dan aneh.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kreator, saya pribadi tidak setuju dengan cara campaign seperti ini. Alih-alih silaturahmi, saya justru merasa mendapat kejahatan privasi atau minimal kena prank lah. Selain itu, dengan cara kerja campaign yang mendatangkan banyak DM yang mempertanyakan, “Kenapa ada muka saya di story kamu?”, menurut saya meningkatkan kecenderungan kita untuk berbahagia ketika mendapatkan banyak pesan dari followers.

Saya tidak yakin bahwa rasa bangga kita atas banyaknya DM yang masuk, akan selalu berkorelasi positif dengan kemauan kita untuk memulai pembicaraan. Bukannya silaturahmi, kita justru jadi narsis karena merasa menjadi pusat perhatian dari banyaknya DM yang masuk ke inbox kita yang biasanya sepi kayak kuburan.

Saya jadi ingat pesan guru ngaji saya tentang adab bersilaturahmi. Di mana salah satunya adalah mengucapkan salam terlebih dahulu. Kalau dalam bahasa anak milenial sekarang, menyapa/say hi duluan lah. Setelah saya pikir-pikir, meskipun tampak sepele tapi hal ini penting untuk menunjukkan penghormatan kita kepada orang yang sedang kita ajak berkomunikasi.

Poin ketidaksetujuan saya selanjutnya adalah kekhawatiran saya kepada orang-orang yang tidak siap secara mental menerima “prank baik” ini. Misalnya mantan yang masih memendam harapan yang ia sembunyikan jauh di dalam relung hati, lalu tiba-tiba melihat fotonya terpampang di story orang yang ia harapkan. Rasanya pasti campur aduk, mau DM tapi malu, nggak DM kok ya penasaran. Lalu setelah tahu cara kerja template ini, betapa sedih dan malunya dia.

Pun juga orang-orang yang sedang butuh banyak support dalam kondisi yang ia hadapi, tiba-tiba mendapatkan sanjungan sebagai most kind person i’ve ever known. Sejenak ia mungkin akan merasa bahwa dirinya memiliki secercah harapan hidup, ternyata ada orang yang menghargai perbuatan baiknya. Tapi setelah tahu bagaimana campaign ini bekerja, mungkinkah ia tidak kembali terluka?

Bulan Ramadan tahun ini memang menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menjalin komunikasi dan menyambung silaturahmi. Karena keterbatasan akses kita kepada pertemuan-pertemuan yang biasanya hangat dan melekatkan, kita jadi harus banyak berpikir untuk melipat jarak dan menjaga kedekatan. 

Dengan segala hormat, saya ingin menyampaikan bahwa perbuatan baik itu akan tetap baik apa pun bentuknya. Tapi bukankah hal baik juga harus disampaikan dengan cara yang baik? Misalnya bukan dengan cara yang tidak membuat banyak orang merasa dijahati karena kena prank. Bukankah kita bisa DM orang-orang yang sudah lama tidak kita hubungi dengan menanyakan kabar mereka, tanpa perlu menunggu ramainya kolom DM kita dengan banyak protes dan rasa penasaran.

Tapi saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada kreator, karena berkat karyanya, saya juga bisa menelurkan tulisan ini dan menggali banyak ide untuk memulai menghubungi orang-orang yang sudah lama tidak bertegur sapa, tentunya dengan sengaja. Misalnya, dengan cara membeli barang dagangan teman atau tetangga terutama yang sedang membutuhkan, kemudian mengemasnya dengan rapi, dilengkapi kartu ucapan lalu mengirimkan ke rumah sanak saudara. Bukan karena saya melakukan bombardir memajang foto mereka untuk memancing untaian kata.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Patenkan Aja Nama Anak Kamu, Biar Malu Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.