Jika ingin mencicipi sensasi belanja barang branded tanpa harus menembus macet Jakarta, Karawang kini layak masuk daftar pertimbangan. Kota yang selama ini lebih akrab disebut lumbung padi, dan sesekali hanya diingat lewat kawasan industri, pelan-pelan mencoba memperkenalkan wajah baru yaitu destinasi belanja brand luxury.
Upaya itu tidak setengah-setengah. Setelah Villaggio Outlet hadir pada akhir 2023 dengan konsep Eropa yang terasa seperti sedang piknik di luar negeri versi cicilan, Grand Outlet menyusul pada pertengahan 2024. Sama-sama di Karawang, sama-sama menjual merek mahal, dan sama-sama menawarkan ilusi bahwa belanja bisa sekaligus jadi pengalaman rekreasi.
Dengan latar itu, saya datang ke Grand Outlet Karawang membawa ekspektasi sederhana bahwa ini Karawang, maka setidaknya ia akan berdiri sebagai Karawang, secara nama, rasa, dan identitasnya. Tapi harapan itu runtuh tepat di gerbang masuk, bukan karena saya salah belok, melainkan karena papan besar di depan kawasan dengan percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai: East Jakarta.
Di titik itu, saya sadar, saya tidak tersesat secara geografis. Melainkan, saya tersesat secara kultural.
Karawang, East Jakarta, oh the irony
Sejauh pelajaran IPS SD, masih saya ingat dan Google Maps belum error, kalau Karawang bukan dan tidak pindah ke Jakarta Timur. Ia masih Jawa Barat, masih punya bupati sendiri, masih punya logat sendiri. Dan, masih punya kebanggaannya sendiri, meskipun sering direduksi hanya sebagai kota industri dan lumbung padi.
Melihat satu kawasan belanja di Karawang justru memperkenalkan diri sebagai East Jakarta terasa agak laen. Bukan cuma soal keliru alamat, tapi soal pilihan menyebut diri. Entah apa pertimbangannya, apakah soal strategi pemasaran, ilusi kedekatan dengan ibu kota, atau sekadar keyakinan bahwa embel-embel Jakarta terdengar lebih menjual dibanding Karawang.
Yang jelas, penyebutan ini terasa janggal. Apalagi jika dibandingkan dengan Villaggio Outlet, yang meski gemar berlagak Eropa, setidaknya masih jujur mengakui diri berdiri di Karawang. Tidak numpang nama wilayah lain untuk terlihat lebih meyakinkan.
Pusat belanja mahal, nama daerah juga harus lebih menjual
Cara kita memandang daerah memang keliru, untuk tidak mengatakannya bermasalah. Kita kerap baru percaya dan tertarik jika meminjam atau pakai embel-embel nama pusat untuk dijadikan jualan. Padahal, harusnya hal tersebut tak harus terjadi.
Grand Outlet Karawang yang menjual barang-barang branded seperti sepatu mahal, tas mahal, pakaian yang harganya setara satu bulan UMR, yang ironisnya juga lahir dari kawasan industri Karawang itu sendiri. Tapi alih-alih percaya diri berdiri sebagai Karawang, ia memilih menumpang identitas Jakarta. Lebih spesifik lagi, Jakarta Timur, wilayah yang bahkan bukan pusat glamor ibu kota. Oh, the irony.
Padahal faktanya, uang yang berputar di Karawang itu sangat nyata. Pabrik berdiri di mana-mana. Ribuan buruh bekerja setiap harinya. Upah minimum di sini bahkan sering jadi bahan iri daerah lain. Bagaimana tidak, UMK ibu kota saja masih di bawah Karawang. Tapi anehnya, ketika harus membangun citra, Karawang justru diposisikan sebagai halaman belakang Jakarta, bukan sebagai rumah itu sendiri.
Fokusnya cuman kerja, tidak cocok untuk bergaya
Karawang (pada akhirnya akan selalu) menjadi tempat bekerja. Tidak untuk dibanggakan, bukan tempat bergaya, bukan tempat menghabiskan uang. Terpaksa meminjam nama Jakarta hanya untuk terlihat naik kelas, padahal segala modal sudah punya.
Ini bukan salah pengunjung sepenuhnya. Tapi soal mental kolektif kita yang masih memuja pusat, sambil memandang daerah sebagai sekadar satelit. Grand Outlet Karawang adalah contoh kecil dari problem besar dari sudut pandang kita yang tak adil.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Karawang Ada di Peringkat 4 dari Bawah Soal Kemajuan Daerah di Jawa Barat: Sebuah Penghinaan!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













