Ada satu pertanyaan yang belakangan ini cukup sering saya dengar sejak memakai Honda Vario 150 LED Old. “Kalau dijual, kabarin ya.”
Lucunya, pertanyaan itu tidak hanya datang dari satu orang. Beberapa teman, bahkan orang yang baru melihat motor saya, pernah melontarkan kalimat serupa. Awalnya saya menganggap itu hanya basa-basi. Namun, semakin sering mendengarnya, saya mulai berpikir, apa sebenarnya yang membuat motor berusia hampir sepuluh tahun ini masih begitu diminati?
Padahal, kalau melihat perkembangan dunia otomotif sekarang, pilihan motor matik semakin banyak. Desainnya lebih modern, fiturnya lebih lengkap, dan teknologinya juga lebih canggih. Secara logika, Vario 150 LED Old seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Anehnya, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama saya memakai motor ini, semakin saya memahami kenapa banyak orang masih mencarinya.
Ketika Vario 150 menjadi motor impian
Jauh sebelum akhirnya memiliki motor ini, saya sudah lebih dulu menyukainya. Sekitar tahun 2015 atau 2016, saat Honda pertama kali memperkenalkan Vario 150 LED Old, saya langsung jatuh hati pada tampilannya. Desainnya terasa berbeda dibanding motor matic lain pada zamannya. Lampu depan LED yang tajam, bodi yang proporsional, dan siluetnya membuat motor ini terlihat modern tanpa harus tampil berlebihan. Mungkin memang wajar. Namanya juga motor baru, pasti terlihat menarik.
Namun, yang tidak saya duga adalah rasa suka itu ternyata bertahan cukup lama. Sekitar tahun 2020, ketika akhirnya saya memiliki rencana membeli motor, pilihan paling masuk akal sebenarnya adalah membeli Vario generasi terbaru. Usianya lebih muda, teknologinya lebih baru, dan tentu lebih mengikuti perkembangan zaman.
Akan tetapi, setiap kali saya membandingkannya dengan Vario 150 LED Old, entah kenapa pilihan saya selalu kembali ke motor keluaran 2015 itu. Pada akhirnya saya justru membeli Vario 150 LED Old dalam kondisi bekas, lalu sampai sekarang saya belum pernah menyesali keputusan tersebut.
Motor bekas yang tidak terasa bekas
Membeli motor bekas memang selalu penuh tanda tanya. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana pemilik sebelumnya memperlakukan motornya. Ada yang rajin servis, ada juga yang baru ingat bengkel ketika suara mesinnya mulai terdengar seperti kaleng berisi baut.
Untungnya, Vario yang saya beli termasuk golongan pertama. Sejak pertama kali mencobanya, saya cukup terkejut. Tarikannya masih responsif, suara mesin halus, dan tenaganya masih terasa padat. Kalau tidak melihat tahun produksinya, saya mungkin tidak akan menyangka motor ini sudah berusia beberapa tahun.
Awalnya saya mengira itu hanya karena motor saya dirawat dengan baik oleh pemilik sebelumnya. Namun, setelah beberapa kali mencoba Vario 150 LED Old milik orang lain, saya merasakan karakter yang hampir sama. Di situlah saya mulai percaya bahwa kenyamanan motor ini memang bukan kebetulan.
Semakin dipakai, semakin sulit mencari penggantinya
Sudah beberapa tahun motor ini menemani aktivitas saya. Motor ini dipakai berangkat kuliah, bekerja, sampai bepergian ke luar kota. Bisa dibilang, sebagian besar perjalanan penting saya selalu ditemani motor ini. Yang membuat saya kagum, selama pemakaian itu saya hampir tidak pernah mengalami kerusakan besar. Perawatannya pun tergolong biasa saja. Servis rutin, ganti oli, dan mengganti beberapa komponen yang memang sudah waktunya diganti.
Selebihnya, motor ini lebih sering bekerja daripada meminta perhatian. Mungkin justru karena itu saya belum menemukan alasan yang benar-benar kuat untuk menjualnya. Bukan berarti saya tidak tertarik dengan motor-motor baru. Setiap kali melihat model terbaru lewat di jalan atau berseliweran di media sosial, pasti ada rasa ingin punya. Namanya juga manusia, sesekali suka tergoda oleh barang baru.
Hanya saja, setiap kali muncul keinginan untuk mengganti motor, selalu ada pertanyaan yang muncul di kepala. “Memangnya motor baru bisa memberi sesuatu yang belum bisa diberikan Vario ini?” Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya.
Kalaupun harus jujur, mungkin ada satu alasan lain yang tidak kalah menentukan, yakni dompet saya juga belum seantusias pikiran saya. Keinginan untuk upgrade memang ada, tetapi saldo rekening selalu mengingatkan bahwa Vario 150 LED Old masih terlalu baik untuk dipensiunkan. Selama motor ini masih menemani hari-hari saya, rasanya yang perlu di-upgrade bukan motornya, melainkan isi rekening saya dulu.
Desain Vario 150 yang tidak ikut menua
Kalau ada satu alasan mengapa Vario 150 LED Old masih banyak dicari, menurut saya jawabannya adalah desain. Saya tahu penilaian soal desain sangat subjektif. Namun, menurut saya inilah generasi Vario dengan tampilan terbaik yang pernah dibuat Honda. Yang menarik, desainnya tidak terasa seperti motor keluaran tahun 2015. Bahkan ketika diparkir berdampingan dengan beberapa motor matik baru, tampilannya masih terlihat relevan. Mungkin inilah yang disebut desain yang timeless.
Desain yang tidak bergantung pada tren sesaat sehingga tetap enak dipandang meskipun usianya terus bertambah. Saya rasa itulah alasan mengapa motor ini masih memiliki harga bekas yang cukup baik dan tetap diburu banyak orang.
Tidak perlu banyak modifikasi untuk terlihat ganteng
Hal lain yang saya sukai dari Vario 150 LED Old adalah tampilannya yang sebenarnya sudah selesai sejak keluar dari pabrik. Kalau melihat media sosial atau komunitas motor, tidak sulit menemukan Vario generasi ini yang dimodifikasi dengan berbagai konsep. Namun, menurut saya motor ini justru tidak membutuhkan banyak ubahan.
Sedikit sentuhan seperti mengganti spion, windshield, velg, atau aksesori kecil lainnya sudah cukup membuat tampilannya naik kelas. Terlalu banyak modifikasi justru membuat desain aslinya kehilangan karakter. Dan mungkin, itulah kelebihan desain yang memang sejak awal sudah dibuat dengan baik.
Sekarang saya akhirnya mengerti kenapa pertanyaan itu sering muncul. “Kalau dijual, kabarin ya.” Bukan semata-mata karena motor ini sudah langka, bukan juga karena harganya yang masih cukup stabil. Melainkan karena Vario 150 LED Old berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan semua kendaraan, yakni tetap relevan meski usianya terus bertambah.
Kelebihan dan kekurangan motor ini ya pasti ada, tapi saya sampai sekarang masih bisa berkompromi. Pada akhirnya saya sadar, motor yang paling sulit dijual bukan selalu motor yang paling mahal. Melainkan motor yang sudah terlalu sering mengantar kita pulang, terlalu banyak menemani perjalanan, dan terlalu sedikit memberi alasan untuk diganti.
Penulis: Muhammad Fikri Almarufi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.







