Sendang Senjoyo, mata air legendaris di Kabupaten Semarang, adalah primadona bagi warga lokal maupun pelancong luar kota. Bahkan bagi siapa pun yang berwisata ke Salatiga, Senjoyo selalu jadi rekomendasi utama. Wajar aja, tempat ini memang semenawan itu.
Saya bahkan masih bisa mengingat betapa nikmatnya bangun di pagi buta, merendam kaki di mata air sendang, sembari menatap megahnya lanskap pohon-pohon beringin tua. Semua itu kian sempurna dengan segelas kopi hitam panas dan lezatnya bakwan jembak khas Senjoyo. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Sayangnya, itu adalah Senjoyo yang dulu. Sekarang, kejayaan itu resmi jadi masa lalu. Akhir-akhir ini, nama Senjoyo kembali mencuat dan mendadak viral di Facebook. Mirisnya, ketenaran ini bukan karena kemenawanan sendang. Melainkan karena tumpukan masalah akut yang membuat ruang publik ini kehilangan marwahnya secara drastis.
Sebagai orang asli daerah sini, saya merasa sudah saatnya bersuara. Sebenarnya, kenapa banyak orang kini emoh dan tidak sudi lagi menginjakkan kaki ke sana?
Menyoal julukan “Sendang Berjuta Tarif”
Banyak warga facebook yang kangen Sendang Senjoyo masa dulu. Saat gerbangnya masih terbuka gratis dan bisa bebas keluar masuk nikmatin kesegarannya. Sekarang, Senjoyo resmi menyandang julukan “Sendang Berjuta Tarif”.
Julukan ini lahir dari warga Facebook yang kesal sama sistem tiket di sana. Emang sih, bayar tiket di tempat wisata itu wajar. Tapi, sistem tiket di Senjoyo ini bener-bener udah absurd banget. Apa-apa harus bayar. Bahkan kita bisa ditariki tiket lebih dari lima kali cuma buat muter-muter di area hiburan yang itu-itu aja.
Mari kita itung tarifnya. Untuk urusan parkir kendaraan nih, motor dicekik Rp5.000 dan mobil Rp10.000. Kalau hari libur tiba, tarifnya bahkan bisa meroket sampai Rp20.000. Mau masuk ke area wisatanya? Rogoh dulu kocek Rp5.000. Mau keceh alias main air? Harus bayar lagi Rp3.000. Setelah keceh mau bilas dan ganti baju? Silahkan bayar lagi Rp3.000 untuk toilet.
Nah, ini yang aneh, kalian capek main air, pengin duduk dan bersantai? Ya, duduk di gazebo atau kursi ban, kalian harus bayar lagi Rp10.000. Bahkan di Facebook, ada warga yang curhat bahwa dirinya cuma duduk di atas batu alami demi melepas lelah langsung ditagih Rp5.000. Parah kan?!
Hebatnya lagi, nominal itu cuma berlaku di satu titik aja lo. Bosan dan mau geser ke kolam sebelah? Ya silakan bayar lagi dari nol. Benar-benar nggak ramah kantong. Niatnya mau healing murah, sampai sini malah boncos cuma buat bayar tiket.
Bayangkan kalau kamu bawa keluarga besar berisi 10 orang. Yang ada uang kamu bisa habis ratusan ribu rupiah hanya untuk tiket masuk. Harga segitu udah bisa makan kenyang ke restoran yang jauh lebih layak. Makanya, nggak aneh kalau Sendang Senjoyo kini dijuluki “Sendang Berjuta Tarif”. Sebagai warga lokal, saya sepakat kok!
Maraknya pungli di Sendang Senjoyo
Sungguh lucu ya, udah bayar tiket bejibun, eh pengunjung masih aja ditodong pungutan liar. Saking gemas dan muaknya dengan mentalitas pemerasan ini, bahkan ada warga Facebook yang secara blak-blakan mengunggah foto oknum yang sedang menariki uang pungli tanpa rasa bersalah.
Benar aja, saat saya bertanya kepada salah satu penjual di sana, borok ini makin terkelupas. Menurut penjelasannya, setidaknya ada 3 titik yang jadi ladang subur tempat para oknum memanen duit haram.
Titik pertama ada di pintu masuk dekat lokasi truk pengangkut air. Saat pagi hari, ada oknum siaga menjaga pos gaib untuk menariki tiket masuk ilegal. Titik kedua ada di pintu masuk wahana perahu bebek. Biasanya kamu cuma akan bayar kalau mau naik wahana perahu bebek aja. Tapi kini, di beberapa momen, ada oknum entah dari mana yang akan menghadang kamu di pintu masuk area wahana untuk meminta uang lagi.
Terakhir, area parkir dekat pintu masuk utama. Ini adalah titik yang paling rajin memeras pengunjung lewat pungli parkir dengan sengaja menaikan tarif parkir Senjoyo.
Lelucon ini mencapai klimaksnya ketika Bumdes mengakui kalau pungli di Senjoyo memang nyata. Lucunya, mediasi berkali-kali selalu gagal hanya karena para oknum belum rela ditertibkan, katanya.
Secara kritis, pengakuan ini justru jadi tamparan keras. Bagaimana bisa lembaga resmi sekelas Bumdes takluk di hadapan segelintir preman lokal? Atau kita patut curiga, jangan-jangan ada oknum dalam yang ikut main di belakang?
Satu yang pasti, mandulnya ketegasan hukum di sini sukses membuktikan bahwa kenyamanan pengunjung selalu berada di urutan paling buncit.
Minimnya fasilitas dan karut-marut pengelolaan Senjoyo
Logika pengelolaan tempat ini kayaknya sederhana banget deh. Penting ramai dulu, urusan kenyamanan dan keselamatan, itu belakangan. Nyatanya, banyak lo wahana dihadirkan tanpa manajemen perawatan jangka panjang. Akibatnya, banyak wahana pun dibiarkan rusak, berkarat, dan dipenuhi lumut.
Contohnya nih, lihat aja jembatan dekat wahana perahu bebek. Alasnya berlubang dan bergoyang hebat saat dilewati. Saya bahkan pernah melihat sendiri seorang anak hampir jatuh ke aliran air karena kakinya terperosok ke dalam lubang jembatan. Fasilitas bilasnya pun sama ajaibnya. Selain karena jumlahnya sangat terbatas, di dekat kolam Damatex, modal bayar 3 ribu, kita masih harus menunggu diambilkan air kolam pakai ember. Yaaa… pengelola tampaknya alergi terhadap teknologi kran.
Belum selesai, masalah parkiran juga sama aja. Lahan parkir di Senjoyo masih sangat minim dan terkesan memakai lahan seadanya tanpa konsep yang matang. Saya sering sekali melihat banyak pengendara kebingungan mencari tempat. Ditambah lagi, banyak mobil juga diparkir sembarangan tepat di tanjakan Senjoyo. Mengingat tanjakan Senjoyo itu curam dan memiliki belokan tajam, tentu ini keputusan bodoh yang membahayakan pengendara lain.
Kerja tukang parkir juga sama bobroknya. Mereka cuma fokus duitnya doang, tanpa memikirkan kerapian dan keamanan kendaraan. Di Facebook bahkan ada warga yang mengeluh, setelah menerima uang, si tukang parkir langsung pergi begitu aja tanpa membantu mencarikan parkiran dan merapikan kendaraan.
Dengan semua kebobrokan ini, ditambah predikat barunya sebagai “Sendang Berjuta Tarif”, saya selalu bertanya-tanya, ke mana sebenarnya mengalir uang hasil pungutan yang ditarik bertubi-tubi dari pengunjung? Apakah sengaja disimpan rapat-rapat sampai seluruh fasilitas tempat wisata legendaris ini benar-benar hancur total?
Sudah saatnya berbenah
Akumulasi dari seluruh benang kusut ini akhirnya bermuara pada satu kesimpulan logis. Sentimen negatif warga di Facebook yang merindukan Senjoyo masa lalu bukanlah omong kosong. Banyak orang di media sosial mulai membanding-bandingkan Senjoyo dengan wisata air lain yang jauh lebih masuk akal.
“Mending ke Kali Odo, lebih realistis, masuk 5 ribu parkir 3 ribu, udah bisa nikmatin semuanya,” ungkap salah satu warga Facebook.
Banyak netizen pun membagikan rentetan pengalaman nggak menyenangkan mereka di Sendang Senjoyo. Bahkan, kawan-kawan saya ikut menyatakan kapok dan nggak sudi lagi buat ke sana. Selain itu, warga Facebook kini juga mulai memprovokasi massa untuk secara massal “membuat sepi” sendang ini dengan cara nggak usah berkunjung ke sana lagi.
Sebagai warga lokal, saya pun miris mendengar adanya konflik kepentingan internal di dalam Bumdes serta perselisihan antar-desa yang meributkan pengelolaan lahan parkir. Sungguh pemandangan yang memuakkan. Kualitas pelayanan hancur lebur, tetapi para pengelola di belakang layar justru sibuk bertengkar berebut keuntungan. Kritik, olok-olok, dan boikot massal yang bergulir di jagat maya harusnya disadari sebagai hantaman telak bagi pengelola untuk segera sadar dan berbenah total.
Sebagai langkah konkret dan solutif, Bumdes Senjoyo harus bertindak tegas meredam konflik dengan membuka ruang diskusi demi pengadaan lahan parkir satu pintu yang aman dan memadai.
Selain itu, uang melimpah dari rantai tarif yang masif itu harus dialokasikan secara transparan untuk membenahi fasilitas dasar dan membersihkan pencemaran sampah. Jika pengelola masih keras kepala, memelihara konflik internal, dan tetap membiarkan pungli merajalela, jangan kaget jika gerakan memboikot Sendang Senjoyo ini benar-benar terwujud nyata.
Sumber gambar: Nefrit Lazurit via Wikimedia
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sendang Kun Gerit, Wisata Hidden Gem di Ujung Sragen
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













