Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sendang Kun Gerit, Wisata Hidden Gem di Ujung Sragen

Aprilia Dwi Az Zahro oleh Aprilia Dwi Az Zahro
22 November 2025
A A
Sendang Kun Gerit, Wisata Hidden Gem di Ujung Sragen

Sendang Kun Gerit, Wisata Hidden Gem di Ujung Sragen (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Orang sering bilang wisata bagus itu pasti jauh. Harus mendaki dulu, atau minimal menembus kemacetan kota. Tapi Sendang Kun Gerit Sragen membantah teori itu. Lokasinya cuma di pelosok Desa Jatibatur, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Tempat yang kalau disebut namanya saja banyak orang harus buka Google Maps dulu. Saya pun awalnya cuma manggut-manggut, “Oh, Jatibatur itu yang mana, ya?”

Sendang Kun Gerit Sragen, surga yang terpelosok

Begitu memasuki Sendang Kun Gerit, atmosfernya langsung berubah. Tempatnya rapi dan lengkap. Ada kolam pemandian, resto, waterboom, live music, dan gazebo yang muncul di mana-mana. Rasanya seperti wisata keluarga versi paket lengkap. Tidak terlalu mewah, tapi fungsional. Tidak terlalu luas, tapi nyaman. Dan yang paling penting, tidak bikin dompet merintih.

Yang bikin lucu, tempat sebagus ini berdiri di lokasi yang tidak pernah saya pikirkan sama sekali. Daerahnya terpencil dan jauh dari hiruk pikuk Sragen kota. Banyak orang Sragen pun cuma lewat kalau mau ke Gunung Kemukus. Karena itu Sendang Kun Gerit sering disebut sebagai “hidden gem” Sragen.

Saya bahkan nyeletuk sendiri waktu itu, “Nggak nyangka ya Jatibatur bisa punya kayak gini.” Rasanya seperti menemukan kado yang tidak pernah diminta, tapi senang waktu dapat.

Liburan adem, dompet kalem

Harga tiket masuk Sendang Kun Gerit Sragen juga bikin hati adem. Cuma lima ribu rupiah. Iya, lima ribu. Harga yang sama dengan es teh di warung. Cocok untuk yang ingin liburan tapi tanggal sudah masuk zona merah.

Banyak keluarga datang tanpa strategi khusus ke sini. Tinggal bayar lima ribu, masuk, terus bebas happy. Wisata murah kadang menyembuhkan lebih cepat daripada motivasi panjang di media sosial.

Restonya juga lumayan menggoda. Menunya bervariasi dari ayam sampai sambal tumpeng. Tempat makannya menghadap kolam, jadi anginnya masuk dari segala arah. Kadang saya merasa seperti sedang healing, padahal cuma makan ayam goreng sambil melihat orang berenang. Sederhana, tapi kok ya bahagia.

Kolam pemandian di Sendang Kun Gerit Sragen ini juga tidak pelit ukuran. Ada dua tipe kedalaman, mulai dari satu meter sampai dua meter. Tinggal pilih sesuai kemampuan renang.

Baca Juga:

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Untuk anak-anak, ada waterboom dengan prosotan warna-warni. Ada juga mandi busa dan air terjun mini yang jadi favorit emak-emak pecinta foto. Suasananya selalu ramai tapi tetap aman.

Sejuknya Sendang Kun Gerit Sragen melekat di hati

Airnya? Wah, ini bagian paling juara. Kolam diisi langsung dari sumber mata air alami. Warga bilang sumbernya tidak pernah kering. Airnya jernih dan dinginnya pas. Rasanya seperti mandi sambil dicubit angin sepoi-sepoi. Banyak yang percaya air alami bisa mengusir penat. Saya sih tidak tahu teori ilmiahnya. Yang penting segar.

Fasilitas vila di Sendang Kun Gerit Sragen juga tersedia untuk yang ingin menginap. Harganya mulai dari 250 ribu per malam. Cara booking-nya mudah. Bisa datang langsung atau lewat web. Banyak yang menginap untuk acara keluarga atau sekadar cari suasana baru. Lokasinya tenang dan jauh dari suara kendaraan. Cocok untuk orang yang ingin kabur sebentar dari rutinitas.

Sayangnya, saya punya dilema sendiri soal vila itu. Jarak rumah saya cuma 15 sampai 20 menit dari lokasi. Saya sampai pernah ngomel sendiri, “Pengin nginep di situ tapi buat apa? Sama aja kayak tidur di rumah.” Rasanya absurd kalau bayar 250 ribu hanya untuk memindahkan tidur dari kamar ke vila yang jaraknya masih bisa dijangkau naik sepeda.

Kunjungan saya ke tempat ini sudah seperti agenda wajib. Setiap minggu pasti ada pesan masuk dari teman. “Heh, ayo renang neng Kun Gerit.” Ajakannya sederhana tapi ampuh. Kami biasanya datang pagi-pagi. Renang sebentar. Makan siang. Lalu pulang dengan hati lebih enteng. Ritual kecil yang menyenangkan tanpa harus ribet.

Kesan pertama saya pada tempat ini tidak pernah hilang. Rasanya seperti melihat Jatibatur dari kacamata baru. Dulu saya pikir daerah itu cuma tempat lewat. Tidak ada yang perlu dilihat. Tidak ada yang perlu disinggahi. Ternyata saya keliru. Sendang Kun Gerit Sragen membuktikan bahwa tempat kecil pun bisa punya pesona. Asal dirawat dan diberi kesempatan.

Liburan tidak selalu mahal

Wisata ini juga mengajarkan bahwa hiburan tidak harus mahal. Tidak harus viral. Tidak harus glamor. Kadang, tempat yang kita butuhkan hanya kolam, pohon, gazebo, dan makanan enak. Sisanya tinggal kita nikmati pelan-pelan. Tidak perlu gengsi. Tidak perlu membandingkan.

Bagi warga Sragen, tempat ini seperti ruang istirahat bersama. Dekat, murah, dan lengkap. Banyak yang datang berulang kali seperti saya. Ada kepuasan tersendiri saat menemukan tempat yang sederhana tapi membahagiakan. Tidak butuh drama. Tidak butuh caption panjang.

Pada akhirnya, Sendang Kun Gerit Sragen adalah cara Jatibatur bilang, “Hei, kami juga punya sesuatu.” Dan memang punya. Bahkan lebih dari yang saya kira. Jadi kalau suatu hari kamu lelah tapi malas jauh-jauh, cobalah datang ke sini. Siapa tahu, kamu juga akan bilang, “Lho, kok bisa bagus begini?”

Penulis: Aprilia Dwi Az Zahro
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 November 2025 oleh

Tags: hidden gemkabupaten sragenkehidupan di sragenSendang Kun Geritsragenwisata Sragen
Aprilia Dwi Az Zahro

Aprilia Dwi Az Zahro

Mahasiswa semester 1 Universitas Sebelas Maret. Menaruh perhatian atas wisata di daerah yang tidak diduga banyak orang.

ArtikelTerkait

Solo Gerus Mental, Sragen Memberi Ketenangan bagi Mahasiswa (Unsplash)

Pengalaman Saya Kuliah di Solo yang Bikin Bingung dan Menyiksa Mental “Anak Rantau” dari Sragen

13 Desember 2025
Perjalanan Sragen-Madiun Lebih Nyaman Menggunakan KA Bias daripada Bus yang Bikin Jantung Nggak Aman!

Perjalanan Sragen-Madiun Lebih Nyaman Menggunakan KA Bias daripada Bus yang Bikin Jantung Nggak Aman!

23 Oktober 2025
Gemolong, Kecamatan Terbesar Kedua di Sragen yang Kini Menjelma Menjadi Kota yang Proper

Gemolong, Kecamatan Terbesar Kedua di Sragen yang Kini Menjelma Menjadi Kota yang Proper

2 Oktober 2023
Keresahan Saya Selama Tinggal di Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen

Keresahan Saya Selama Tinggal di Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen

28 Oktober 2023
Boyolali Utara , Bagian Boyolali yang Sama Sekali Nggak Mirip Boyolali, Malah Mirip Sragen

Boyolali Utara, Bagian Boyolali yang Sama Sekali Nggak Mirip Boyolali, Malah Mirip Sragen

8 Februari 2024
Jalan Gabugan-Sumberlawang, Jalan Paling Dibutuhkan Sekaligus Meresahkan di Sragen Mojok.co

Jalan Gabugan-Sumberlawang, Jalan Paling Dibutuhkan Sekaligus Meresahkan di Sragen

17 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan Terminal

Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan

31 Mei 2026
Kesamaan Prinsip From Doubter to Believer Liverpool & Tekkadan (Unsplash)

Liverpool dan Tekkadan Punya Kesamaan, Sama-sama Memegang Prinsip: From Doubter to Believer

3 Juni 2026
Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

2 Juni 2026
Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.