Akhir-akhir ini cuaca di Solo sedang labil hingga menguras emosi. Siang hari bisa begitu panas hingga 32 derajat. Tapi, begitu masuk sore, langit bisa langsung-langsung gelap dan turun hujan.
Seperti biasa, saat Solo sering hujan, algoritma Instagram saya pasti banyak bermunculan konten yang meromantisasi keindahan sudut-sudut kota ini. Mulai dari estetikanya aspal basah di Jalan Slamet Riyadi. Sampai siluet syahdu bangunan di sekitar Pasar Gede dan Tugu Gladak.
Sebagai perantau, saya akui, Solo sehabis hujan memang secantik itu!
Akan tetapi, khayalan indah di media sosial itu hanya sementara. Kalau kalian benar-benar turun ke jalanan, percayalah, yang ada hanya akan muak dan emosi.
Magisnya keindahan Jalanan Solo seketika runtuh oleh kelakuan para pengendaranya. Baik yang roda dua maupun roda empat, kelakuannya sama aja. Beneran minus, egois, dan sukses merusak segala visual indah yang diagungkan netizen.
Baca juga 4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata.
Sindrom ugal-ugalan pemotor dari Kleco sampai Slamet Riyadi
Begitu gerimis mulai turun, suasana syahdu Solo langsung berubah jadi arena survival. Entah sekring apa yang putus di otak para pemotor. Hujan seolah jadi tombol pemicu panik massal yang melegalkan segala bentuk kebodohan di jalanan. Aspal yang semula tenang mendadak dipenuhi oleh lautan roda dua yang berkendara dengan grusa-grusu dan ugal-ugalan.
Saya sendiri pernah jadi korban apes dari kegoblokan ini pas lewat daerah Pasar Kleco. Waktu itu, ada pemotor yang kebelet mau pakai mantol. Tanpa repot-repot nyalain lampu sen, dia mendadak ngebut, nyalip, dan langsung motong jalan saya buat menepi sembarangan.
Lucunya, begitu hampir tabrakan, malah saya yang disemprot dan dituduh ugal-ugalan. Hebat betul logikanya, padahal saya udah tau diri dengan menurunkan kecepatan dan berjalan manis di lajur kiri.
Kekacauan ini juga merembet sampai ke pusat kota. Jalan Slamet Riyadi yang dipuja netizen sebagai jalanan paling estetik, seketika berubah jadi arena balap versi sirkuit basah.
Alih-alih menurunkan ego karena aspal licin rawan slip, para pemotor malah memanfaatkan momen hujan reda buat tancap gas sedalam-dalamnya. Mungkin prinsip mereka “mumpung terang, ngebut ah biar cepet sampai tanpa perlu neduh lagi” ya. Akhirnya memilih ugal-ugalan, tanpa pernah punya kapasitas otak yang cukup untuk memikirkan keselamatan pengendara lain di sekitarnya.
Pengendara mobil sama saja, egois dan cuma bikin macet persimpangan
Kalau di jalan lurus pemotor yang hobi bikin stres, beda cerita kalau udah masuk persimpangan. Di sini, giliran para pengendara mobil yang berulah.
Contoh persimpangan Solo yang paling menyiksa ya Tugu Manahan. Dalam kondisi sehabis hujan, perempatan di sini hampir selalu berubah jadi titik macet total yang bikin tensi darah naik.
Biang kerok utamanya jelas deretan mobil yang ogah mengalah. Mereka nekat menerobos lampu merah dan memaksa masuk bundaran demi ego pribadi biar cepat sampai.
Kelakuan pengendara mobil ini juga bisa ditemui di bangjo depan Hotel Sala View. Persimpangan yang menghubungkan Jalan Hasanudin, Slamet Riyadi, dan Perintis Kemerdekaan ini aslinya emang udah padat.
Akan tetapi, begitu hujan turun, macetnya langsung naik level ke tahap menjengkelkan. Banyak mobil egois yang nekat memakai jalur kiri, padahal jalur itu harusnya jalan terus ke arah Jalan Hasanudin.
Belum lagi yang nekat menerobos lampu merah cuma buat putar balik ke arah flyover. Padahal jelas-jelas ada rambu dilarang putar arah lho. Lucu ya, kalian kan naik mobil dan nggak bakal kehujanan, tapi kok paniknya melebihi pemotor.
Sialnya, di saat-saat krusial seperti ini, batang hidung petugas lalu lintas hampir pasti nggak kelihatan. Tanpa adanya petugas di lapangan, hukum rimba akhirnya berlaku.
Arus kendaraan dari berbagai sisi langsung saling mengunci karena mobil-mobil ini hobi saling serobot. Alhasil, persimpangan yang kudunya melancarkan arus malah macet total. Semrawut banget, jauh dari kata estetik yang sering dipamerkan di Instagram.
Baca juga Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal.
Pengendara di Solo hobi banget terabas genangan air
Ini adalah hal yang paling bikin saya emosi. Apalagi, beberapa titik di Solo sekarang udah jadi langganan banjir. Jadi, nggak jarang genangan setinggi mata kaki akan kita temui disini.
Nah sebagai pengendara yang waras, saya selalu bijak kalau ketemu genangan. Sebelum roda menyentuh air, saya pasti langsung menurunkan gas dan pelan-pelan. Kenapa? Ya saya takut cipratannya mengenai pengendara lain di samping atau belakang saya.
Akan tetapi, kocaknya, alih-alih dibalas dengan tenggang rasa yang sama, saya malah ngerasa pengendara lain nggak ada kasihan-kasihannya sama saya. Sering banget, pas saya lagi berkendara pelan dan hati-hati, mak byurr…! Badan saya basah kuyup kena cipratan air kotor dari genangan yang dihantam sembarangan oleh pemotor.
Mobil pun sama aja, sering lewat genangan tanpa ngerem. Alhasil menciptakan ombak buatan setinggi dada. Puncaknya, saya pernah apes maksimal pas lewat underpass Makam Haji yang lagi banjir. Muka saya sukses dihantam cipratan air keruh dari mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi tanpa mikir.
Rencana ngopi ganteng saya sore itu pun langsung bubar jalan. Terpaksa saya pulang ke kos dengan kondisi badan basah kuyup kena air.
Solo indah, tapi nggak bisa menghargai buat apa
Sepertinya, romantisasi Solo sehabis hujan yang estetik itu cuma berlaku buat segelintir orang saja. Mungkin, mereka menikmatinya dari balik kemudi mobil atau dari balik jendela kafe sambil ngopi cantik.
Bagi saya, kaum komuter yang harus membelah jalanan sore, hujan di Solo adalah mimpi buruk. Saya harus pasrah diserempet di Kleco, terjebak ruwetnya persimpangan, dan mandi air genangan. Hujan di kota ini adalah ujian kesabaran menghadapi hilangnya tenggang rasa para penggunanya.
Solo emang selalu menawan, saya setuju itu. Tapi, keindahan sebuah kota itu nggak cuma dibangun dari arsitektur estetik dan aspalnya yang basah.
Estetika sejati malah lahir dari rasa saling menghargai orang-orangnya. Lha, kita ini sama-sama di jalan, sama-sama lelah, jadi mari saling menghargai, sisi egoisnya mbok tolong dikondisikan.
Katanya Solo kan kota budaya yang mengedepankan sopan santun. “Solo kota yang ramah” selalu populer lo di mana-mana. Tapi ya lucu aja, masa begitu kena air hujan sedikit, sopan santunnya langsung luntur. Slogan ramah-tamah itu kayaknya cuma dimulut aja deh, nggak berlaku kalau pas lagi turun ke jalanan.
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













