Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

Syahrul oleh Syahrul
31 Juli 2026
A A
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi mahasiswa baru di UIN itu rasanya mirip seperti masuk ke pasar kaget di hari Minggu pagi. Baru saja melangkahkan kaki keluar dari gerbang kampus setelah selesai ospek—atau yang biasa kita kenal dengan PBAK—kita tidak hanya disambut oleh teriknya matahari, tapi juga oleh barisan senior yang berdiri gagah memegang brosur.

Ada yang berpenampilan klimis ala politisi masa depan, ada yang gayanya estetik ala aktivis literasi, hingga yang pembawaannya tenang dan adem khas anak LDK. Semuanya punya satu misi yang sama: menawari kita “tiket surga” berupa formulir pendaftaran organisasi.

Waktu awal masuk UIN, niat saya sangat sederhana. Sebagai mahasiswa baru yang belum punya banyak teman, saya cuma ingin nyebur ke salah satu organisasi. Yaa… minimal supaya ada teman ngopi, ada yang bisa diajak tukar catatan kuliah. Atau kalau beruntung, dapat info dosen yang hobinya ngasih nilai A tanpa banyak wacana.

Tapi ternyata, niat yang mulia dan sederhana itu langsung diuji oleh realitas. Masuk organisasi kampus di UIN itu syaratnya banyak banget. Kadang rasanya lebih rumit daripada syarat pengajuan pinjaman bank.

Birokrasi pengkaderan organisasi mahasiswa UIN yang menguji ketabahan

Coba bayangkan, kita baru saja resmi jadi mahasiswa UIN. Otak masih agak kaget membedakan mana mata kuliah Fiqih Jinayah dan mana Fiqih Muamalah. Eh, begitu mau daftar organisasi, kita sudah disodori berkas pendaftaran yang panjangnya menguji kesabaran.

Formulirnya tidak cuma menanyakan nama dan NIM, tapi juga visi-misi hidup lima tahun ke depan, motivasi berkontribusi untuk peradaban, sampai esai ringkas tentang pandangan kita terhadap kondisi geopolitik kampus di UIN. Padahal saat itu, pandangan geopolitik saya cuma sebatas: “Di mana warteg yang jualan es teh manis paling murah di dekat fakultas?”

Itu baru tahap berkas. Belum lagi tahap wawancara yang intensitasnya kadang mengalahkan seleksi kerja. Kita diajak duduk melingkar di bawah pohon rindang atau sudut perpustakaan, lalu diberondong pertanyaan ideologis oleh senior yang mukanya dibuat-buat serius.

“Mengapa kamu memilih organisasi kami ketimbang organisasi sebelah?”

“Bagaimana kamu melihat dialektika antara idealisme dan pragmatisme mahasiswa?”

Jujur, di dalam hati saya cuma mau menjawab, “Saya cuma mau cari teman nongkrong yang tidak hilang kalau diajak bayar kas, Kak.” Tapi demi kelancaran proses kaderisasi, jawaban itu terpaksa dibungkus dengan kalimat-kalimat bersayap yang dihafalkan semalaman dari Google.

Baca Juga:

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

Dari “Malam Bina Iman” Sampai “Latihan Kepemimpinan”

Syarat selanjutnya yang wajib hukumnya adalah mengikuti agenda pengkaderan dasar. Namanya beda-beda tiap organisasi di UIN, tapi polanya mirip: berangkat Jumat sore ke tempat penginapan atau vila di luar kota, lalu dipulangkan Minggu siang dalam kondisi mata panda dan suara serak.

Di sana, kita digembleng dengan materi berjam-jam dari malam hingga subuh. Dari materi keorganisasian, analisis diri, sampai sejarah pergerakan. Mulia? Tentu saja. Tapi untuk maba yang fisiknya belum terbiasa dengan ritme “tidur jam dua pagi, bangun jam empat subuh,” kegiatan ini lebih terasa seperti ujian fisik dan mental.

ADVERTISEMENT

Uniknya, di UIN itu organisasinya sangat beragam. Mau organisasi ekstra kampus yang kental dengan garis politik dan sejarah pergerakan panjang, ada. Lalu, Lembaga Semi Otonom (LSO) yang fokus pada seni, jurnalistik, atau pencak silat, ada. Mau kelompok studi keislaman yang fokus pada kajian kitab, juga melimpah. Tapi ajaibnya, hampir semuanya punya mekanisme masuk yang relatif sama: penuh tahapan, penuh tradisi, dan wajib punya daya tahan mental yang tinggi.

Tapi, apakah semua “kerumitan” ini worth it?

Setelah melewati rentetan proses yang melelahkan itu—mengisi formulir selebar sajadah, diwawancarai ala seleksi agen rahasia, dan begadang berjemaah saat pengkaderan—sebuah pertanyaan wajar muncul: Kenapa sih mau masuk organisasi di UIN aja rumitnya minta ampun?

Namun, setelah beberapa semester menjalani masa-masa kuliah, saya baru paham satu hal.

Segala kerumitan syarat “nyebur” organisasi itu ternyata punya seleksi alamnya sendiri. Filter yang ketat itu secara tidak langsung menyaring mana mahasiswa yang cuma sekadar ikutan-ikutan, dan mana yang benar-benar siap berkomitmen. Sebab, kehidupan di kampus UIN itu dinamisnya luar biasa. Kalau baru tahap pendaftaran saja sudah menyerah, bagaimana mau bertahan saat harus membagi waktu antara tugas kuliah yang menumpuk, rapat organisasi sampai larut malam, dan persiapan skripsi?

Lewat proses yang agak berbelit itulah, kita akhirnya menemukan teman-teman sefrekuensi. Mereka yang sama-sama pernah merasakan dinginnya lantai pengkaderan dan sama-sama bingung saat menjawab pertanyaan wawancara senior.

Jadi, buat adik-adik mahasiswa baru di UIN yang saat ini mungkin sedang pusing melihat tumpukan formulir pendaftaran organisasi: tenang saja. Jalani saja dulu prosesnya. Anggap saja ini simulasi pertama menghadapi rumitnya birokrasi dunia nyata.

Lagi pula, percaya deh, rasa lelah ngisi formulir dan begadang pengkaderan itu bakal terbayar tuntas saat kamu akhirnya dapat “keluarga baru” di kampus, tempat ngutang gorengan saat dompet tipis, dan teman penderitaan paling setia sampai hari wisuda tiba.

Penulis: Syahrul
Editor: Rizky Prasetya

ADVERTISEMENT

BACA JUGA Dekadensi Organisasi Eksternal Mahasiswa di UIN Jakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: kampus UINorganisasi mahasiswaorganisasi mahasiswa di UINUIN
Syahrul

Syahrul

Sukses selalu pejuang negara!

ArtikelTerkait

Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa: Niat Mencari Pengalaman Berharga, tapi yang Terjadi Malah Boncos Setiap Bulannya, Nggak Lagi!

2 Januari 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
mahasiswa ilmu falaq uin bintang teleskop langit bintang bulan mojok

Sisi Nggak Enak selama Menjadi Mahasiswa Ilmu Falak

10 Mei 2020
Dear Maba, Berikut Kalimat yang Nggak Perlu Kalian Percaya tentang Ormek Mojok.co

Dear Maba, Berikut Kalimat yang Nggak Perlu Kalian Percaya tentang Ormek

4 Agustus 2024
hmi vs pmii uin ciputat kaderisasi kelemahan kelebihan senioritas uin syarif hidayatullah fakultas adab dan humaniora mojok

Balasan untuk Tulisan tentang HMI vs PMII yang Terbit di Terminal Mojok

22 April 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

14 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.