Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

Rina Widowati oleh Rina Widowati
21 Juli 2026
A A
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Lahir dan tinggal di Surabaya, saya bisa merasakan perkembangan Surabaya dari waktu ke waktu. Kota Surabaya mengalami kemajuan yang pesat di banyak bidang, termasuk juga cara masyarakatnya menjaga kota. Surabaya dipuji karena tata kota dan kebersihannya. Terbukti lagi-lagi Surabaya meraih predikat kota dengan pengelolaan sampah terbaik se-Indonesia di tahun 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup. 

Soal keindahan dan kebersihan, beberapa kali saya juga mendengar apresiasi dari teman-teman luar kota yang berkunjung atau bahkan mudik ke Surabaya. Jujur saja saya merasa bangga menjadi bagian dari Kota Surabaya.

ADVERTISEMENT

Namun kadang-kadang, rasa bangga yang berlebihan bisa membuat seseorang kehilangan rasa peka dan pemikiran yang kritis. Dan itu yang mungkin sedang terjadi pada sebagian warga Surabaya yang terusik saat kotanya dikritik di medsos oleh sesama warga.         

Cara mencintai kota

Saya akui saya cinta kota saya, apalagi pelayanan publiknya sudah jauh lebih baik dibandingkan 10 atau 15 tahun yang lalu. Kemajuan Surabaya bisa saya rasakan saat mengurus KTP hilang, perpanjangan SIM, dan periksa ke Puskesmas. Fasilitas ruang publik yang terawat, seperti taman dan lapangan juga bisa saya nikmati. 

Tapi mencintai kota semestinya tidak berhenti pada mengakui keberhasilannya saja, tidak perlu defensif saat kota tercinta menunjukkan kekurangannya atau bahkan mengalami kemunduran. 

Mencintai kota seharusnya sama seperti mencintai kekasih dengan tulus, yaitu memberi dukungan agar ia menjadi pribadi yang lebih baik, dan berani menegur saat kekasih hati melakukan kesalahan. Sebab, mencintai kekasih apa adanya tak akan membawa sepasang kekasih menuju kualitas hidup yang lebih baik. 

Kota yang sudah tertata baik pun masih memiliki kekurangan, dan yang paling bisa merasakan kekurangan kota adalah warganya. Berpendapat dan bersuara termasuk salah satu cara mencintai Kota Surabaya. Lagipula masa iya warga yang mencintai kotanya tidak ingin mengupayakan tempat tinggal yang lebih baik dan melihat kotanya terus bertumbuh. 

Kritik warga dianggap menjelekkan kota oleh sesama warga

Bicara soal warga yang mencintai kotanya, di ruang digital saya menemukan dua bentuk cinta dari warga, yang pertama warga yang mengkritik Kota Surabaya, kedua warga yang menganggap para pengkritik sedang menjelek-jelekkan kotanya sendiri. 

Baca Juga:

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Ada seorang warga Surabaya menulis utas di Thread, isinya tentang kritik transportasi umum di Surabaya. Saya akui memang transportasi umum di Surabaya belum bisa menjangkau seluruh wilayah kota, apalagi menyelesaikan kemacetan kota. Postingan tersebut mendapat balasan dari warga lain dengan menulis “Ngelek-ngelek kuthone dewe” (Menjelekkan kotanya sendiri). Ada juga yang mereply, “Sing nulis mesti duduk arek Suroboyo asli” (Yang menulis bukan orang Surabaya asli). Ada pula netizen yang merespon, “Sudah disediakan nomor pengaduan, kenapa nggak disampaikan langsung”.

Memang benar, pemkot membuka kanal pengaduan yang bisa diakses semua warga Surabaya. Tapi tak bisa dimungkiri medsos adalah alat paling mudah untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Masalahnya bukan di tersedianya ruang aduan, tapi lebih ke soal kesediaan masyarakat Surabaya menerima kritik. 

Di kota yang memiliki Budaya Arek, yang dikenal punya solidaritas kuat, terbuka dan blak-blakan, seharusnya kritik mendapat tempat terhormat di depan publik. Arek Suroboyo mestinya bisa memandang kritik sebagai cara untuk mencintai kotanya, bukan dianggap cara menjelekkan kotanya. 

Menjadi warga, bukan penggemar Surabaya

Saya bangga menjadi warga Surabaya. Tetapi saya juga tetap merasa kesal saat jalanan di tempat tinggal saya banjir atau saat juru parkir tidak mau dibayar memakai QRIS. Sekedar info, Pemkot sudah menerapkan parkir QRIS sebagai solusi mengatasi Jukir liar. Sebagai warga Surabaya yang mencintai kotanya dan taat pajak, saya punya hak untuk untuk merasa kesal dan berpendapat, tapi saya juga bisa merasa bangga jika Pemkot bisa mengatasi permasalahan.

Menjadi warga kota tak sama dengan menjadi fandom yang cenderung punya rasa memiliki yang tinggi, tidak suka jika idolanya dikritik dan bahkan membela saat idolanya melakukan kesalahan. Fandom dan warga kota mungkin sama-sama mencintai sesuatu. Bedanya, fandom hanya membela yang ia cintai. Sedangkan warga kota punya keinginan agar apa yang ia cintai terus bertumbuh menjadi lebih baik.  

Saya jadi berpikir, apa iya Surabaya terlalu sering dipuji sampai membuat sebagian warganya jadi defensif terhadap kritik? Semoga Surabaya terus berkembang menjadi kota metropolitan yang nyaman untuk ditinggali, tanpa membuat warganya overproud.

Penulis: Rina Widowati
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Liburan ke Surabaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: kekurangan surabayakritik pada surabayaSurabaya
Rina Widowati

Rina Widowati

Ibu rumah tangga, mantan pengajar di sekolah swasta yang masih mengamati dunia pendidikan. Pedagang yang peduli soal isu sosial dan politik. Hobi naik gunung dan bercita-cita mendaki ke Cartenz.

ArtikelTerkait

Sudah Saatnya Jember Punya Jalan Tol, agar Kabupaten Ini Nggak Semakin Tertinggal

Sudah Saatnya Jember Punya Jalan Tol, agar Kabupaten Ini Nggak Semakin Tertinggal

19 Juli 2024
Bus Sugeng Rahayu, Si Lumba-lumba Jalanan Andalan Warga Nganjuk Utara yang Merantau ke Surabaya

Bus Sugeng Rahayu, “Si Lumba-lumba Jalanan” Andalan Warga Nganjuk Utara yang Merantau ke Surabaya

24 November 2023
Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok

Alasan Kota Pekalongan Layak Jadi Kota Bisnis

30 Desember 2020
Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal Mojok.co

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

26 Mei 2026

6 Rekomendasi Kuliner Ngetop di Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel Surabaya

23 April 2022
Lucunya Harga Tiket Pesawat Domestik: Bagaimana Bisa Jakarta ke Singapura Lebih Murah ketimbang ke Surabaya? Nggak Masuk Akal!

Lucunya Harga Tiket Pesawat di Indonesia: Bagaimana Bisa Jakarta ke Singapura Lebih Murah ketimbang ke Surabaya? Nggak Masuk Akal!

20 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang Mojok.co

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.