Mendengar nama Tegal, reaksi orang-orang yang belum pernah ke sana begitu mudah ditebak. Sebagian besar akan langsung teringat warteg. Sebagian lagi akan teringat logat bicara yang khas dan sering dijadikan bahan candaan. Dan, hampir tidak ada yang akan spontan bilang, “Oh, Tegal! Kota yang menarik.”
Itu masalahnya.
Kota Bahari sudah terlalu lama dinilai sebatas warteg dan logatnya oleh orang-orang luar. Dan, karena tidak ada yang merasa perlu meluruskan, stereotip itu terus berjalan tanpa ada yang menghentikannya.
Saya bukan orang Tegal. Tapi, saya pernah tinggal di sana untuk tahu bahwa penilaian orang luar tentang kota ini hampir semuanya keliru. Ini enam alasannya.
Baca juga 5 Ciri Warteg yang Masakannya Sudah Pasti Enak, Nggak Bikin Kapok Pembeli.
#1 Tegal jauh dari sekadar warteg
Warteg (Warung Tegal) adalah salah satu institusi kuliner paling demokratis di Indonesia. Ada di mana-mana, harganya terjangkau, dan menyelamatkan jutaan perut lapar setiap harinya. Tegal layak bangga dengan itu.
Akan tetapi, yang terjadi kemudian, Tegal sepenuhnya tenggelam di balik identitas warteg. Orang tahu warteg ada di mana-mana, tapi tidak tahu atau tidak peduli dari mana asalnya dan seperti apa kotanya.
Padahal Tegal adalah kota pesisir dengan sejarah yang panjang. Daerah ini punya Pelabuhan Tegal yang sudah aktif sejak lama sebagai jalur perdagangan. Tegal punya industri yang tidak kecil dari pengolahan ikan sampai manufaktur.
Dan, Tegal punya identitas budaya yang khas, berbeda dari kota-kota Jawa Tengah lainnya. Posisinya sebagai kota pesisir yang sejak dulu terbiasa berinteraksi dengan banyak pengaruh dari luar.
Jadi nilai sebuah kota tidak bisa diringkas dalam satu jenis warung makan, sebesar apapun warisan itu.
#2 Logat ngapak Tegal sering jadi bahan lelucon, padahal itu identitas yang kuat
Saya tidak akan pura-pura ini tidak terjadi. Logat Tegal dan Banyumasan pada umumnya sudah lama jadi bahan candaan di media hiburan Indonesia. Dibuat-buat untuk efek komedi, dilebih-lebihkan di sinetron, dan di kehidupan nyata sering membuat penuturnya dianggap kurang terdidik atau kampungan oleh orang yang belum pernah keluar dari Jakarta.
Ironisnya, justru kekhasan logat ini adalah salah satu aset terbesar yang dimiliki Tegal.
Logat Tegal berbeda dari Ngapak Banyumas atau Purwokerto ada nuansa pesisir di dalamnya, lebih tegas, lebih cepat, mencerminkan karakter kota pelabuhan yang tidak banyak basa-basi. Dan, justru karena berbeda itulah ia punya nilai sebagai penanda identitas yang tidak bisa dipalsukan dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Orang yang menertawakan logat Tegal sebetulnya sedang menertawakan sesuatu yang mereka tidak punya.
#3 Dianggap kota yang tidak berkembang, padahal ekonominya terus bergerak
Ini kesalahpahaman yang paling merugikan Tegal dalam jangka panjang. Tegal sering diasumsikan sebagai kota yang stagnan karena tidak ada yang benar-benar menonjol di sana. Banyak hal dianggap stagnan dari dahulu hingga sekarang, bahkan mungkin tidak banyak berubah ke depan.
Kenyataannya, Tegal adalah salah satu kota perdagangan yang cukup aktif di jalur pantura. Aktivitas ekonominya ditopang oleh sektor perikanan, industri kecil dan menengah, serta perdagangan yang sudah berjalan turun-temurun. Pasar Pagi Tegal yang legendaris bukan sekadar pasar biasa itu adalah denyut ekonomi kota yang berjalan sejak subuh dan tidak berhenti sampai tengah hari.
Kota yang tidak berkembang tidak punya pasar yang seperti itu.
#4 Kuliner Tegal direduksi menjadi warteg saja, padahal masih banyak pilihan lain
Masih soal warteg, tapi dari sudut yang berbeda.
Orang luar tahu Tegal karena warteg. Tapi kalau ditanya makanan khas Tegal selain yang ada di warteg, sebagian besar akan diam. Dan, itu adalah kekosongan informasi yang merugikan.
Tegal punya sauto, sup berbumbu kacang yang tidak akan kamu temukan di kota lain dengan rasa yang sama. Kota ini juga punya kupat glabed, makanan berbahan dasar ketupat dengan kuah kuning kental yang jadi sarapan favorit warga lokal. Tegal juga punya olos, jajanan berbahan singkong dengan isian ebi yang eksistensinya hampir tidak diketahui orang luar sama sekali.
Semua itu bukan makanan yang lahir dari kebetulan. Itu produk dari identitas kuliner yang terbentuk selama ratusan tahun di kota pesisir yang punya akses ke rempah, ikan, dan pengaruh budaya yang beragam.
Mereduksi kuliner Tegal menjadi hanya warteg adalah seperti mereduksi Solo menjadi hanya nasi liwet. Tidak salah sih, tapi sangat tidak lengkap.
Baca juga 4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang.
#5 Tegal dianggap kota yang tidak layak dikunjungi karena tidak punya destinasi wisata terkenal
Ini logika yang sering saya dengar dan selalu membuat saya geleng-geleng kepala karena tidak ada di daftar destinasi wisata viral, Tegal dianggap tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepada pengunjung.
Logika itu hanya berlaku kalau definisi wisata kamu adalah datang ke tempat yang sudah ramai difoto orang lain.
Tegal punya pantai alam indah yang menghadap langsung ke Laut Jawa dengan suasana yang jauh lebih sepi dan lebih manusiawi dibanding pantai-pantai yang masuk daftar wisata hits. Tegal juga punya kawasan Guci di kaki Gunung Slamet sumber air panas alam dengan suasana pegunungan yang dingin dan segar, berjarak tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Dan, yang lebih penting dari destinasi mana pun, Tegal punya kehidupan kota yang terasa lebih otentik justru karena belum dikemas ulang untuk konsumsi wisatawan. Pasar-pasarnya masih pasar sungguhan. Warung-warungnya masih warung sungguhan. Orang-orangnya tidak sedang perform keramahan untuk konten mereka memang begitu adanya.
Bagi saya jauh lebih berharga dari destinasi wisata mana pun yang sudah punya papan informasi dan spot foto resmi.
#6 Warganya dianggap kasar, padahal itu cuma cara komunikasi yang berbeda
Ini yang paling sering bikin pendatang salah paham dan paling jarang dibicarakan secara jujur.
Orang Tegal berbicara dengan cara yang lebih langsung, lebih keras, dan lebih cepat dibanding orang Jawa Tengah pada umumnya. Tidak ada banyak basa-basi, tidak ada banyak penghalusan, dan nada bicaranya bisa terdengar tegas sampai ke titik yang bagi orang tertentu terasa seperti marah.
Pertama kali ngobrol panjang dengan warga Tegal, saya sempat salah membaca situasi. Saya kira ada ketegangan dalam percakapan itu. Ternyata tidak begitulah cara mereka berbicara, bahkan ketika sedang dalam suasana yang sangat santai sekalipun.
Karakter komunikasi itu lahir dari konteks kota pelabuhan yang sejak dulu terbiasa berinteraksi cepat, bernegosiasi langsung, dan tidak punya waktu untuk berputar-putar. Itu bukan kekasaran tapi efisiensi yang dibentuk oleh sejarah dan geografinya.
Dan, begitu saya paham itu, ngobrol dengan orang Tegal justru jadi salah satu pengalaman komunikasi paling menyegarkan yang pernah saya punya karena tidak ada yang perlu ditafsirkan dua kali.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













