Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Warteg Jakarta dan Surabaya Terlihat Serupa, tapi Aslinya Tak Sama

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
23 Juni 2025
A A
Warteg Jakarta dan Surabaya Terlihat Serupa, tapi Aslinya Tak Sama Mojok.co

Warteg Jakarta dan Surabaya Terlihat Serupa, tapi Aslinya Tak Sama (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Warung Tegal adalah sahabat saya. Baik saat di Jakarta maupun di Surabaya, warteg adalah jawaban ketika saya ingin menikmati makanan rumahan. Walau kadang tampilan makanannya kurang menarik dan tidak fresh alias hasil diangetin berkali-kali, warteg tetaplah penyelamat mereka yang ingin mengisi perut dengan harga lumayan miring. 

Saya merasa ada perbedaan antara warteg di Jakarta dan Surabaya. Keduanya tampak mirip, mengangkat konsep warung yang menyajikan makanan rumahan dengan harga terjangkau. Namun, kalau diteliti lebih jauh dari segi bisnis, warteg Jakarta dan Surabaya jauh berbeda. Terutama perihal manajemen, marketing, dan budaya kerjanya.

Saya tertarik ngulik warteg di dua kota besar itu dengan pendekatan POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). Berhubung saya memang mempelajari ilmu tersebut dan ingin menerapkannya. Sebagai informasi, POAC umumnya digunakan untuk menyusun sekaligus melakukan asesmen terhadap pola manajemen di sebuah entitas bisnis.

Perencanaan warung Tegal di Jakarta lebih all out

Pertama, dari sisi planning atau perencanaan, di Jakarta warteg di sana umumnya punya perencanaan bisnis yang matang. Saya nilai begitu dilihat dari modal yang mereka sediakan nggak setengah-setengah. Lokasi yang dipilih oleh pemilik warteg pun sangat strategis. Misal, di dekat kantor, kampus, perkomplekan rumah yang digunakan sebagai kantor, dan kawasan padat penduduk.

Banyak dari mereka punya perhitungan juga mengenai apa saja menu yang laris, jam ramai, hingga pola konsumsi konsumen urban. Itu mengapa, warteg Bahari yang punya cabang di kawasan Jaksel dan Jakbar itu punya menu yang berbeda-beda. Warung Tegal mengikuti pola perilaku konsumen di kawasan setempat. 

Sedikit berbeda dengan warung Tegal di Surabaya. Mereka memang punya perencanaan bisnis, tapi bersifat mengalir saja. Mereka lebih berfokus pada menyediakan makanan murah untuk mahasiswa dan pekerja. Tidak banyak riset yang mendalam karena segmentasi pasarnya terbatas hanya pada dua golongan tersebut.

Warteg Jakarta punya pembagian kerja lebih jelas

Kedua dari segi organizing atau pengorganisasian, warung Tegal di Jakarta biasanya punya tupoksi yang rapi dan jelas untuk tiap karyawannya. Terutama, warteg yang sudah berskala atau jaringan luas dari keluarga atau koperasi perantau. Ada pembagian tugas seperti siapa yang masak, melayani pelanggan, kasir, dan bersih-bersih.

Sementara di Surabaya, biasanya dijalankan dengan sistem yang lebih fleksibel di mana satu pekerja bisa bertanggung jawab terhadap beberapa tugas. Hal itu karena jumlah karyawannya yang terbatas atau nggak sebanyak warteg-warteg di Jakarta. Tidak banyak pembagian kerja atau sistem shift. Jika ada pegawai, biasanya masih kerabat. Kalau ada warteg di Surabaya yang baru buka, kebanyakan sistem pembayarannya pun berubah-ubah, misalnya awal makan dulu baru bayar, kemudian bisa beralih ke bayar dulu baru makan.

Baca Juga:

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

Cara mempertahankan pelanggan yang berbeda

Ketiga adalah proses actuating atau pelaksanaan. Demi menjaga kesetiaan pelanggan, warung Tegal di Jakarta cenderung memerhatikan aspek profesionalitas. Misal, pelayanan cepat dan efisien, tempat yang rapi dan bersih. 

Warteg di Surabaya sebenarnya nggak jauh beda. Hanya saja, dalam menarik dan mempertahankan pelanggan, pemilik, pengelola, atau karyawan biasanya mengutamakan kedekatan personal dengan pelanggan. Kelonggaran seperti praktik perutangan masih ditemukan, meski benar-benar tersembunyi.

ADVERTISEMENT

Pembeda signifikan warung Tegal di Jakarta dan Surabaya

Keempat atau terakhir adalah aspek controllingnya dalam hal ini adalah perihal pengawasan. Nah sejujurnya, aspek inilah yang tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antara Warteg di Jakarta dengan di Surabaya. Proses evaluasi penjualan, control kualitas makanan, dan pengelolaan stok bahan baku dilakukan tidak terlalu terstruktur, hanya berdasarkan feeling, pengalaman, dan volume kebutuhan yang dilihat dari penjualan sebelumnya.

Pencatatan keuangan pun belum tersistematis dengan baik. Karena terus terang, Beberapa pemilik warteg mengaku belum terbiasa membuat laporan keuangan atau mencatat arus kas secara detail.

Selain beberapa poin pembeda pada pendekatan POAC, perbedaan lebih detail juga bisa dilihat antara Warteg Jakarta dan Surabaya ketika dibedah menggunakan konsep marketing mix (bauran pemasaran) yang mengenal prinsip 7P: product, price, place, promotion, process, people, dan physical evidence. Tapi, saya akan bedah beberapa yang jadi pembeda saja.

Pembeda lainnya

Dari sisi product, makanan warteg di Jakarta itu menawarkan variasi menu dari aspek rasa yang beragam tapi konsisten dengan ciri khas Jawa Tengah yaitu manis dan gak terlalu pedas. Sementara di Surabaya, dari yang saya coba di beberapa warteg, rasanya cenderung lebih asin, gurih, dan pedas.

Selanjutnya dari price (harga), menu makanan di warteg Jakarta sangat kompetitif biasanya diselingi dengan beberapa paket makan. Misal, paket Sabar (sarapan Bar-Bar) atau paket Pemadam Kelaparan, yang sering saya jumpai di beberapa warteg di Jakarta. Di sisi lain, warteg di Surabaya punya harga yang relatif lebih murah, hal itu karena saingan mereka dengan warung-warung kecil lainnya juga gak main-main. Masih sering ditemukan, nasi, sayur, telur cuma 7 ribuan.

Kemudian dari segi people atau pelanggan, warteg Jakarta sangat bervariasi. Kalian bisa dnegan mudah menjumpai pekerja kantoran elit baik swasta atau pemerintahan, anak sekolah, anak kampus, pekerja kasar, pekerja agensi, dan penduduk kelas bawah. Sementara di Surabaya, dominasi pelanggannya datang dari para mahasiswa, pedagang pasar, pekerja kasar, dan kalangan kelas bawah. Jadi cakupan pelanggannya tidak seheterogen yang di Jakarta. Hal itu dikarenakan opsi tempat makanan yang lebih murah atau sama dengan Warteg di Surabaya itu banyak. Jadi warganya punya banyak pilihan.

Warung tegal, baik di Jakarta maupun Surabaya, semacam jadi simbol urbanisasi, solidaritas antar warga yang heterogen. Warteg juga jadi gambaran dari perjuangan untuk bertahan dari kerasnya hidup di kota besar macam Jakarta dan Surabaya. Pada akhirnya, warung Tegal akan tetap menjadi oase kuliner rakyat di manapun lokasinya. Dengan catatan, mereka mampu menjaga kualitas, memahami selera konsumen lokal, dan melakukan penyesuaian terhadap perubahan zaman.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

ADVERTISEMENT

BACA JUGA 3 Makanan yang Sekarang Jarang Ada di Warteg

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2025 oleh

Tags: Surabayategalwartegwarung makananwarung tegal
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Bulak, Kecamatan yang Paling Patut Dikasihani di Surabaya Mojok.co

Bulak, Kecamatan yang Paling Patut Dikasihani di Surabaya

17 November 2025
Pasar Dupak Magersari, Wujud Perjuangan Orang Surabaya (Unsplash)

Pasar Dupak Magersari: Potret Nyata Saat Kota Surabaya Tidak Menyediakan Ruang, Warga Pinggiran Membuat Ruangnya Sendiri

6 Januari 2026
Tegal Tempat Merantau Paling Cocok untuk Orang Jogja, Banyak Kemiripannya! Mojok.co

Tegal Tempat Merantau Paling Cocok untuk Orang Jogja, Banyak Kemiripannya!

2 Agustus 2024
Derita Tinggal di Bungurasih, Daerah Perbatasan Sidoarjo dan Surabaya yang Penuh Masalah

Derita Tinggal di Bungurasih, Daerah Perbatasan Sidoarjo dan Surabaya yang Penuh Masalah

11 Maret 2024
Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

17 Oktober 2023
Pembangunan Terowongan Jalan Joyoboyo Adalah Bukti kalau Pemkot Surabaya Suka Menghamburkan Uang

Pembangunan Terowongan Jalan Joyoboyo Adalah Bukti kalau Pemkot Surabaya Suka Menghamburkan Uang

27 Juni 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.