Jogja terlalu sering menjual dirinya sebagai kota yang beradab. Saya tumbuh dan besar dengan romantisme itu. Sampai kemudian saya mengikuti kasus korupsi Stadion Mandala Krida.
Dan saya sadar, Jogja ternyata bisa sama busuknya dengan kota-kota lain ketika uang mulai bicara. Kasus korupsi Mandala Krida bukan cuma soal proyek stadion yang bermasalah. Ia adalah tamparan keras terhadap marwah kota yang selama ini merasa dirinya lebih santun dan berbudaya. Sebab, di balik beton stadion yang mangkrak, ada kebohongan kolektif yang perlahan runtuh.
BACA JUGA: KPK Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Stadion Mandala Krida, Sultan Persilakan Proses Hukum
Korupsi Mandala Krida meruntuhkan makna budaya
Kita selama ini terlalu percaya bahwa budaya, secara otomatis membuat orang bermoral. Padahal, korupsi tetap tumbuh subur bahkan di kota yang setiap sudutnya penuh jargon tata krama.
Yang membuat saya semakin sedih, Mandala Krida bukan sekadar stadion biasa. Ia denyut kecil yang membuat Jogja tetap terasa hidup di tengah gempuran coffee shop estetik, hotel baru, apartemen, dan turis yang semakin memenuhi kota ini.
Di sana orang-orang tumbuh bersama PSIM. Ada bapak-bapak yang dulu digendong ayahnya ke tribun dan kini gantian mengajak anaknya menonton. Pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari keramaian pertandingan. Suara drum, flare, peluh, makian wasit, pelukan setelah gol, dan rasa pulang yang tak tergantikan
Lalu, semuanya mendadak terasa menyakitkan, runtuh, hanya karena korupsi Mandala Krida. Orang jahat memainkan uang miliaran sampai stadion terbengkalai. Dan PSIM, klub yang begitu melekat dengan identitas Jogja, justru harus jadi pengungsi di kotanya sendiri.
Jogja gagal menjadi rumah bagi PSIM
Ironis sekali. Jogja yang katanya istimewa, bahkan gagal menjaga rumah bagi klub sepak bolanya sendiri. Belakangan, gelombang protes mulai bermunculan. Spanduk bertuliskan “#UsutTuntasKorupsiMandalaKrida” tersebar.
Suporter mulai terang-terangan menyuarakan kemarahan mereka. Dan saya rasa itu sangat wajar. Orang-orang jahat itu tidak hanya mencuri uang negara, tapi juga rasa memiliki.
Sebagian orang mungkin akan berkata, “Ya sudah toh PSIM masih bisa main di Bantul.” Nah, justru kalimat semacam itu menunjukkan betapa banyak orang gagal memahami makna rumah dalam sepak bola.
Home base bukan sekadar lapangan dengan rumput dan tribun. Stadion adalah identitas geografis dan emosional. Mandala Krida bukan cuma bangunan. Ia bagian dari romantisme Jogja.
Maka, ketika PSIM tidak bisa pulang ke Mandala Krida, yang hilang bukan cuma venue pertandingan. Yang hilang adalah ritual kota. Warung-warung kecil kehilangan pembeli. Tukang parkir kehilangan penghasilan. Pedagang jersey kehilangan momentum. Anak-anak muda kehilangan ruang bertemu. Dan Jogja kehilangan salah satu denyut sosialnya.
Baca halaman selanjutnya: Kejahatan yang merusak nama baik Kota Pelajar. Busuk!













