Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
29 Mei 2026
A A
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja terlalu sering menjual dirinya sebagai kota yang beradab. Saya tumbuh dan besar dengan romantisme itu. Sampai kemudian saya mengikuti kasus korupsi Stadion Mandala Krida. 

Dan saya sadar, Jogja ternyata bisa sama busuknya dengan kota-kota lain ketika uang mulai bicara. Kasus korupsi Mandala Krida bukan cuma soal proyek stadion yang bermasalah. Ia adalah tamparan keras terhadap marwah kota yang selama ini merasa dirinya lebih santun dan berbudaya. Sebab, di balik beton stadion yang mangkrak, ada kebohongan kolektif yang perlahan runtuh.

BACA JUGA: KPK Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Stadion Mandala Krida, Sultan Persilakan Proses Hukum

Korupsi Mandala Krida meruntuhkan makna budaya

Kita selama ini terlalu percaya bahwa budaya, secara otomatis membuat orang bermoral. Padahal, korupsi tetap tumbuh subur bahkan di kota yang setiap sudutnya penuh jargon tata krama. 

Yang membuat saya semakin sedih, Mandala Krida bukan sekadar stadion biasa. Ia denyut kecil yang membuat Jogja tetap terasa hidup di tengah gempuran coffee shop estetik, hotel baru, apartemen, dan turis yang semakin memenuhi kota ini. 

Di sana orang-orang tumbuh bersama PSIM. Ada bapak-bapak yang dulu digendong ayahnya ke tribun dan kini gantian mengajak anaknya menonton. Pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari keramaian pertandingan. Suara drum, flare, peluh, makian wasit, pelukan setelah gol, dan rasa pulang yang tak tergantikan

Lalu, semuanya mendadak terasa menyakitkan, runtuh, hanya karena korupsi Mandala Krida. Orang jahat memainkan uang miliaran sampai stadion terbengkalai. Dan PSIM, klub yang begitu melekat dengan identitas Jogja, justru harus jadi pengungsi di kotanya sendiri.

Jogja gagal menjadi rumah bagi PSIM

Ironis sekali. Jogja yang katanya istimewa, bahkan gagal menjaga rumah bagi klub sepak bolanya sendiri. Belakangan, gelombang protes mulai bermunculan. Spanduk bertuliskan “#UsutTuntasKorupsiMandalaKrida” tersebar. 

Baca Juga:

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Suporter mulai terang-terangan menyuarakan kemarahan mereka. Dan saya rasa itu sangat wajar. Orang-orang jahat itu tidak hanya mencuri uang negara, tapi juga rasa memiliki. 

Sebagian orang mungkin akan berkata, “Ya sudah toh PSIM masih bisa main di Bantul.” Nah, justru kalimat semacam itu menunjukkan betapa banyak orang gagal memahami makna rumah dalam sepak bola.

Home base bukan sekadar lapangan dengan rumput dan tribun. Stadion adalah identitas geografis dan emosional. Mandala Krida bukan cuma bangunan. Ia bagian dari romantisme Jogja. 

Maka, ketika PSIM tidak bisa pulang ke Mandala Krida, yang hilang bukan cuma venue pertandingan. Yang hilang adalah ritual kota. Warung-warung kecil kehilangan pembeli. Tukang parkir kehilangan penghasilan. Pedagang jersey kehilangan momentum. Anak-anak muda kehilangan ruang bertemu. Dan Jogja kehilangan salah satu denyut sosialnya.

Baca halaman selanjutnya: Kejahatan yang merusak nama baik Kota Pelajar. Busuk!

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2026 oleh

Tags: Jogjakasus korupsi Mandala Kridakorupsi Mandala KridaKota Jogjamandala kridaStadion Mandala Krida
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Tips Cari Rumah Kontrakan untuk Pasutri Muda Terminal Mojok

5 Alasan Tinggal di Kontrakan Jauh Lebih Enak ketimbang Ngekos di Jogja

29 Oktober 2022
3 Rekomendasi Penginapan di Jogja dengan Sensasi Menginap bak di Tengah Hutan

3 Rekomendasi Penginapan di Jogja dengan Sensasi Menginap bak di Tengah Hutan

11 April 2023
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Upah Kerja Rendah di Yogyakarta, Siapa yang Paling Menderita?

22 November 2020
Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

30 November 2022
LDR Tingkat Kabupaten Bantul-Sleman Pelosok Itu Tak Mudah dan Bikin Bokong Kebas, tapi Opo Wae Tak Tabrak yang Menjadi Penghalang

LDR Tingkat Kabupaten Bantul-Sleman Pelosok Itu Tak Mudah dan Bikin Bokong Kebas, tapi Opo Wae Tak Tabrak yang Menjadi Penghalang

15 Agustus 2025
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Membandingkan Biaya Hidup di Jogja dengan Malang

11 September 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Bali bisa kehabisan air, tapi tenang, kolam vila masih penuh (Unsplash)

Bali bisa kehabisan air, tapi tenang, kolam vila masih penuh

16 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.