Korupsi Mandala Krida jalan di tempat
Korupsi memang sering terasa abstrak sampai dampaknya menyentuh hal-hal yang emosional. Dan korupsi Mandala Krida menyentuh itu semua.
Yang membuat saya semakin geram, kasus korupsi Mandala Krida ini seperti berjalan di tempat. Memang sudah ada tersangka dan vonis. Tapi, stadionnya tetap limbung. Status hukumnya masih seperti kabut.
Pemerintah bicara kajian teknis. KPK bicara prosedur. DPRD bicara tahapan. Semua terdengar administratif sekali. Sementara suporter cuma ingin satu hal sederhana, PSIM pulang dan korupsi Mandala Krida diusut tuntas.
Lucunya, Jogja adalah kota yang sangat pintar menjual nostalgia. Kita menjual angkringan sebagai romantisme. Menjual Malioboro sebagai kenangan. Bahkan menjual hujan di Tugu sebagai puisi.
Namun, ketika kasus korupsi Mandala Krida berlarut-larut, semua mendadak dingin dan birokratis. Tidak ada romantisme di hadapan anggaran, apalagi budaya di hadapan bancakan proyek.
Dan mungkin di situ letak luka paling menyedihkan dari kasus korupsi Mandala Krida. Ia membuka kenyataan bahwa Jogja tidak seistimewa yang selama ini kita bayangkan. Kota ini ternyata juga bisa tega pada warganya sendiri. Kita hidup di kota yang terlalu sibuk terlihat syahdu sampai lupa membereskan kebusukan di belakang panggungnya.
BACA JUGA: Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta
Orang Jogja berhak marah melihat kasus korupsi Mandala Krida
Saya percaya suporter PSIM marah bukan semata karena stadion. Mereka marah karena merasa dikhianati oleh kotanya sendiri. Karena bagi banyak orang Jogja, PSIM bukan cuma klub bola. Ia identitas kultural dan representasi wong cilik.
Maka, ketika kasus korupsi Mandala Krida seret, rasanya seperti melihat seseorang mencuri ruang tamu rumah sendiri lalu meminta kita tetap tersenyum karena “proses hukum sedang berjalan”. Dan kita semua tahu, di negeri ini, kalimat “proses masih berjalan” sering kali cuma cara yang lebih sopan untuk bilang “sabar saja, lupakan pelan-pelan.”
Saya kira justru di titik ini masyarakat Jogja harus terus ribut dan bersuara. Karena kalau tidak, kasus korupsi Mandala Krida ini akan selesai hanya sebagai arsip berita dan angka kerugian negara. Padahal, dampaknya jauh lebih panjang dari itu.
Pemerintah akan mewariskan kasus korupsi Mandala Krida sebagai rasa sinis generasi muda terhadap kotanya sendiri. Bahwa bahkan di kota budaya sekalipun, korupsi tetap bisa mengusir sebuah klub dari rumahnya.
Suatu hari nanti, ketika PSIM benar-benar kembali ke Mandala Krida, kita akan tetap bersorak dan bernyanyi. Namun, ada satu hal yang tidak akan benar-benar kembali seperti dulu, yaitu kepercayaan bahwa Jogja selalu lebih baik dari kota lain.
Sebab, kasus korupsi Mandala Krida sudah mengajarkan kita satu hal penting. Budaya tidak otomatis membuat manusia bermoral. Dan kota yang gagal menjaga rumah sepak bolanya sendiri seharusnya berhenti terlalu sibuk menyebut dirinya istimewa.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













