Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ingin Lihat Indonesia Emas Sekaligus Indonesia Gelap? Datang Ke Pogung Jogja!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
16 Agustus 2025
A A
Jalanan Pogung Sleman Nggak Menyesatkan dan Membingungkan, asal Mengikuti Panduan Saya Ini Mojok.co

Jalanan Pogung Sleman Nggak Menyesatkan dan Membingungkan, asal Mengikuti Panduan Saya Ini (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya selalu menghindar untuk berkunjung atau sekadar lewat daerah Pogung. Bukan karena ada sentimen personal, tapi karena malas! Dari jalanan rusak sampai labirin yang menyesatkan ada di daerah ini. Belum lagi keriuhan dan macet menyebalkan di sekitar Jembatan Tirta Marta.

Tapi sesekali saya melintasi daerah yang unik dan macet ini. Bukan untuk ngopi yang harganya tidak ramah UMR Jogja, tapi menjadi pengamat. Melihat betapa mengerikan ketimpangan di daerah ini. Membayangkan Indonesia di masa depan yang sudah tercermin di Pogung.

Si kaya raya berebut ruang dengan miskin papa. Coffee shop estetik berhadapan dengan warung rames sederhana. Mahasiswa menenteng IPad beradu pandang dengan pencari rumput liar.

Pogung adalah rangkuman wajah Indonesia Emas sekaligus Gelap. Ketika pembangunan dan perputaran ekonomi bersandingan dengan kemiskinan dan rumah hampir roboh. Mimpi kemajuan yang mencerdaskan bangsa duduk bersama masyarakat yang tidak mampu kuliah. Semua tumpah ruah dalam satu tempat yang penuh sesak.

Kasultanan Pogung yang kaya raya

Saya selalu menyebut Pogung, terutama area sekitar Jalan Pandega Marta, sebagai kasultanan. Bukan karena berdaulat, tapi dihuni oleh para ‘sultan’. Sebagai area akomodasi mahasiswa, perputaran ekonomi di Pogung dikuasai kos-kosan dan FnB. Apalagi mayoritas penghuni Pogung adalah mahasiswa dari fakultas ‘berkelas’ UGM: Kedokteran, teknik, MIPA, dan Magister Manajemen.

Jadi jangan kagetan ketika Jogja jadi tidak murah ketika Anda jajan di Pogung. Terutama saat nongkrong di coffee shop kekinian yang seperti rumah belum jadi itu. Karena Pogung hadir bukan untuk dompet kalian yang mengenaskan, tapi mereka yang hanya tahu satu kata: konsumtif.

Pertumbuhan ekonomi di Pogung jelas mendatangkan pemodal. Investor berebut lahan strategis untuk kos-kosan, kafe, laundry, sampai minimarket. Makin banyak investasi yang berputar, makin tinggi nilai propertinya.

Jangan kagum dulu dengan Pogung. Saya baru bahas perkara enaknya saja. Di balik pujian dan hujan emas, ada yang tidak kebagian percikannya. Mimpi hidup ikut lebih baik ketika daerahnya maju hanya isapan jempol belaka. Di antara kos eksklusif dan kafe estetik, ada rumah-rumah reot yang dijejali beberapa keluarga.

Baca Juga:

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

Wajah ketimpangan di depan mahasiswa

Mari kita sapu dulu ceceran kekayaan di Pogung. Sekarang waktunya melihat sisi paling pengap dan sesak. Bangkitnya ekonomi Pogung memang mendatangkan rupiah. Tapi tidak untuk semua warganya. Mereka yang terhimpit bangunan megah tetap melarat. Atau setidaknya hidup hampir layak.

Tapi di antara kopi tiga puluh ribuan, ada nasi rames murah serba sepuluh ribu. Kos-kosan mewah berdampingan dengan rumah tipe 35 yang dihuni 10 orang. Ketika kafe dipenuhi diskusi filsafat ndakik-ndakik, di luar ada warga yang mengumpulkan sampah plastik.

Mungkin tidak mudah melihat wajah ketimpangan Pogung. Apalagi jika kalian mengamati dari kursi di depan bar. Tapi kalian hanya perlu masuk ke labirin untuk melihat rumah reot yang terhalangi kost penuh mobil.

Tidak perlu kaget sampai mengelus dada. Ini wajah pembangunan yang paling lugas. Perputaran ekonomi yang jadi laporan menteri tidak pernah nyata di tangan masyarakat. Ketimpangan di Pogung adalah cerminan pembangunan di Indonesia.

Masalah ketimpangan di Pogung

Jangan mengira ketimpangan di Pogung hanya perkara kost mewah dan rumah sesak. Karena urusan ekonomi dan pembangunan hanya bagian dari rusaknya kehidupan yang berimbang. Ketimpangan di Pogung juga merasuk sampai ke dalam kehidupan paling dasar.

Mahasiswa dan warga lokal berjalan secara paralel. Beriringan, tapi tidak pernah beririsan. Seolah-olah ada dua dunia yang dijejalkan dalam satu kubangan. Satu-satunya momen bertemu mereka adalah transaksional. Itu saja berebutan dengan investor yang memonopoli perputaran uang.

Perkara investor yang menguasai Pogung, warga lokal sering tidak dapat berkutik. Mereka bertahan di Pogung bukan karena ingin menikmati kekayaannya. Tapi satu-satunya pilihan. Menjual aset kepada investor belum tentu cukup untuk mencari tempat hidup baru. Belum lagi jika aset mereka tidak punya nilai jual yang menarik. Akhirnya mereka harus rela dihimpit pembangunan yang tidak pernah dirasakan nikmatnya.

Bertahan di Pogung juga berarti jadi bagian dalam ketimpangan yang makin kentara. Tidak hanya ekonomi, tapi juga hidup bermasyarakat. Seperti yang saya sebutkan, kehidupan warga lokal dan penggerak ekonomi utama berjalan paralel. Terpisah-pisah bahkan ketika dipaksa untuk beririsan. Entah lewat program kampung atau kegiatan ala filantropi.

Ruang ekspresi dan komunal juga harus berebut. Anak kecil asli Pogung harus berebut tempat menerbangkan layangan dengan mobil penghuni kost yang kebingungan cari parkir. Warung kecil tempat bertukar informasi antarwarga dihimpit kafe berisik yang sering membicarakan ketimpangan.

Gesekan ini tidak hanya di permukaan, tapi sampai urusan isi tanah. Dari krisis air sampai tumpukan sampah tidak pernah menemukan jalan tengah. Sering kali, warga lokal yang mengalah. Belum lagi masalah kriminalitas dari begal payudara sampai curanmor.

Pogung adalah rumah singgah yang nyaman bagi investor dan si kaya. Tapi rumah warisan yang makin berisik dan sesak bagi warga. Sekarang ganti nama ‘Pogung’ jadi ‘Indonesia’. Sama saja kan?

Indonesia Emas dan Gelap di dalam Pogung

Setiap saya mengamati Pogung dan sok jadi cendekiawan, saya membatin, “inilah maket Indonesia!” Wajah pembangunan yang serampangan dan berfokus pada balik modal jadi napas utama Indonesia. Dan napas ini juga diembuskan oleh daerah semrawut bernama Pogung.

Pogung adalah presentasi paling elok. Perputaran ekonomi begitu kencang dengan transaksi 24/7. Keran investor dibuka lebar agar dinding beton properti makin menjulang. Menyiapkan hidup nyaman bagi SDM unggul yang akan melanjutkan pembangunan menuju masa keemasan. Bukankah ini isi presentasi Indonesia Emas 2045 yang digaungkan?

Tapi setiap presentasi selalu dipoles sebaik mungkin. Salah satunya dengan memangkas data yang tidak sesuai. Kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi di Pogung adalah realitas. Berebut ruang hidup yang selalu dimenangkan investor jadi keseharian. Rusaknya tatanan komunal sampai tumpukan sampah sudah biasa. Tapi semua itu tidak dilaporkan dalam promosi Indonesia Emas 2045, sama seperti Pogung yang menyembunyikan nanah di balik kafe dan kos-kosan.

Jadi, selamat datang di daerah paling timpang se-Jogja. Sebuah maket dan konsep yang akan diadaptasi Indonesia ketika berulangtahun ke-100. Indonesia pasti menuju keemasan. Tapi emas itu dijadikan koleksi privat para pemodal dan penguasa. Kita, rakyat, tetap menikmati Indonesia Gelap. Seperti Pogung yang selalu gelap meskipun dipoles kemajuan pesat.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pogung Sleman Nggak Membingungkan dan Menyesatkan Selama Mengikuti Panduan Saya Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2025 oleh

Tags: indonesia emasJogjaPogungpogung barupogung lorSleman
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja

5 Agustus 2025
Jogja Istimewa, Harga Kosnya Bikin Pusing Kepala harga kos di jogja

Jogja Istimewa, Harga Kosnya Bikin Pusing Kepala

7 Maret 2025
Kabupaten Lamongan Bikin Warganya Cuma Bisa Gibah (Unsplash)

Susahnya Menjadi Anak Kabupaten Lamongan: Bikin Iri sama Anak Surabaya, Malang, dan Jogja

9 September 2023
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

10 Mei 2022
Jadi Karyawan Startup di Jogja Itu Mimpi Buruk, Apalagi saat Bulan Ramadan. Gaji Nggak Seberapa, Hampir Nggak Ada Waktu untuk Sahur dan Buka Mojok.co

Karyawan Startup di Jogja Tersiksa, Apalagi Saat Bulan Ramadan. Udah Gaji Nggak Seberapa, Kesempatan untuk Sahur dan Buka Hampir Nggak Ada

4 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan Mojok

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan

18 Juni 2026
Kota Minyak, Julukan yang Kini Jadi Derita Warga Balikpapan (Unsplash)

Kota Minyak, Julukan yang Tidak Bisa Lagi Dibanggakan Warga Balikpapan

14 Juni 2026
Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

18 Juni 2026
6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal Mojok.co

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

18 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.