Setidaknya Jalan Ir H Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan ini memiliki kesamaan, yaitu membuat saya sadar bahwa takdir mengabarkan pelajaran berharga dalam balutan sabar di sebuah perjalanan
Jalanan perbatasan antara kota besar kerap menjadi pusat berkumpul volume kendaraan yang akan memulai aktivitas atau justru setelah melakukan aktivitas. Sebut saja Jalan Juanda Ciputat atau yang lebih akrab disebut jalan depan UIN Jakarta yang kerap menjadi sumber kemacetan karena mobilitas kendaraan dari arah Tangerang Selatan, Bogor, dan Depok bertemu di sana menuju Jakarta.
Dari Flyover Pasar Ciputat ke Lebak Bulus sejatinya kurang lebih sekitar 6 KM. Seharusnya dengan kendaraan motor bisa ditempuh paling lama sekitar 15 menit. Tapi kenyataannya Jalan Juanda Ciputat ini kadang bisa lebih lama daripada google map tertera. Apalagi saat pagi hari, menjelang masuknya anak-anak sekolah dan berbarengan dengan pekerja, maka jalanan akan serupa semut-semut yang berbaris rapih jika dilihat dari kejauhan.
Penyebab kemacetan Jalan Juanda Ciputat
Usut punya usut, kemacetan jalur neraka ini disebabkan banyaknya puteran balik di sana. Beberapa kali dinas perhubungan sudah merekayasa lalu lintas di , dan terakhir menutup beberapa putaran balik. Tidak sepenuhnya, tetapi menyisakan beberapa saja seperti menutup putaran balik tepat di depan UIN Jakarta, dan menyisakan putaran balik di depan komplek dosen UI yang jaraknya beberapa ratus meter di depannya.
Meskipun sedikit lebih lancar, karena orang-orang yang mau puter balik hanya berada di satu titik saja ini semacam menghela nafas panjang sebelum menyelam. Masalahnya tidak jauh dari puteran balik itu juga terdapat lampu merah Gintung yang kerap macet juga. Jadi hanya sedikit bernafas lega, sebelum kembali bermacet ria.
Sebab lain kemacetan di Jalan Juanda Ciputat ini juga disebabkan banyaknya mahasiswa atau orang berlalu-lalang yang menyebrang jalan ke kampus UIN. Terutama saat pagi hari dan kemudian dibuatkannya lampu merah untuk pejalan kaki atau pelican crossing yang berfungsi untuk mengatur orang yang lalu-lalang dari sebrang jalan ke kampus UIN. Masalah lainnya justru para penyebrang bisa ada hampir ada di setiap menit sekali, otomatis lampu merah dan hijau itu berjarak terlalu dekat.
Saya pernah mengalaminya sendiri, benar-benar tidak bergerak bahkan saat kendaraan roda dua masih di atas Flyover, dan itu bukan karena ada kecelakaan atau truk pasir yang mogok, tapi kemacetan itu karena lampu merah penyebrangan ini.
Sebetulnya ada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat sana, tapi posisinya bukan tepat di depan kampus UIN di mana mobilitas padat justru terjadi di sana. Entah seperti apa konsep awal ide pembuatan JPO ini. Soalnya posisinya agak bergeser jauh sedikit, kadang terlalu rimbun dengan banner iklan atau poster-poster yang entah kapan dipasangnya dan itu jarang sekali terlihat ada orang yang mau naik JPO sana. Apalagi kalau sudah terburu-buru. Tidak akan ada yang mau melewati naik turun JPO ini.
Jarang Melewati Jalanan UIN, tapi malah Ketemu Jalan Raya Sawangan
Rupanya takdir membawa saya agak menjauh dari Jalan Juanda Ciputat. Pekerjaan membawa saya menjauh dari arah Jakarta ke kota tetangganya. Sehingga saya sebagai warga Tangerang Selatan mulai jarang melewati kemacetan di depan UIN.
Tapi tunggu dulu! Rasanya jalanan yang kali ini lebih sering saya lewati ke tempat kerja juga tidak jauh beda dengan Jalan Juanda Ciputat. Namanya adalah Jalan Raya Sawangan.
Sebetulnya sudah lama saya sedikit mendengar cerita soal kemacetan di Jalan Raya Sawangan. Ditambah beberapa kali saya terjebak kemacetan juga saat melewati jalan ini. Tapi saya tak pernah menduga kalau saya akan terus-terusan terjebak di jalan ini.
Jalan Raya Sawangan ini membentang sekitar 4,7 KM dari area simpang Pancoran Mas. Sialnya jalanan yang sangat padat ini tidak terlalu lebar. Padahal ini menjadi salah satu jalan penghubung paling sibuk yang ada di Jabodetabek.
Kabarnya Pemkot Depok melalui dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) tengah melakukan pelebaran jalan alternatif Sawangan. Guna meningkatkan kualitas infrastruktur jalan untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Semoga saja ini menjadi sedikit angin segar bagi pengendara yang setiap hari harus melewati jalan ini. Toh mau sambat berkali-kali pun tetap saja esok harinya akan melewati jalanan ini lagi karena sebuah kewajiban dan tuntutan.
Sebaik-baiknya pelajaran
Kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang terbaik. Termasuk pengalaman dalam melewati jalur kemacetan di Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan. Bisa jadi pengalaman itu memang menebalkan sisi sabar atau justru memandang kemacetan sebagai teman yang sering dijumpai di keseharian.
Ada banyak sekali jalur neraka kemacetan di sekitar Jabodetabek untuk membuat kita lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setidaknya Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan ini memiliki kesamaan, yaitu membuat saya sadar bahwa takdir mengabarkan pelajaran berharga dalam balutan sabar di sebuah perjalanan.
Satu dua hari mungkin akan terasa berat, tetapi lama kelamaan semuanya akan terbiasa. Baik itu terbiasa mengeluh atau terbiasa melihat orang-orang yang juga sama dalam kemacetan.
Penulis: Wisnu Adi Pratama
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













