Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
27 Juli 2026
A A
Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi Mojok.co

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kebiasaan di kampung saya, Lembata NTT, yang saya lihat dari kecil tetap lestari hingga sekarang, yaitu dagel atau perayaan. Saya akrab melihat tenda didirikan, kursi-kursi ditata, puluhan hewan dipotong, dan orang ramai berdatangan untuk membantu.

Umumnya, dagel tidak selesai dalam sehari. Seringkali bisa seminggu, kemudian bisa dilanjutkan dengan rangkaian acara lain yang membuat rumah penyelenggara selalu ramai.

ADVERTISEMENT

Sewaktu kecil, saya menyukai suasana itu. Dagel, artinya banyak makanan enak, terutama daging. Di saat ini pula saya bisa bertemu banyak anak-anak seumuran yang ikut bapak atau ibunya. Kami bermain, kemudian mengikuti segala proses dagel, dan bahkan bisa menginap. Tidur bareng dengan anak-anak sepantaran tentu menyenangkan.

Saat itu, saya belum memahami bahwa di balik semua kemeriahan itu, ada kelelahan yang terus menerus berusaha ditutup-tutupi oleh para orang dewasa. Bayangkan, pagi hingga sore sibuk dengan persiapan dan kelangsungan acara. Malamnya akan dilanjut dengan obrolan panjang. Beberapa hal yang membuat mereka jeda ya hanya salat (bagi muslim) dan mengurus pakan ternak.

Di sisi lain, ada pula keluarga dari pihak penyelenggara yang boleh jadi harus menguras keuangannya, mencari pinjaman sana-sini, supaya kebutuhan dagel bisa terpenuhi atau setidaknya bisa dianggap layak di hadapan keluarga besar atau masyarakat kampung.

Dalam kacamata masyarakat Lamaholot, dagel bisa berupa pesta, hajatan, atau perayaan yang melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar. Bentuknya bisa beragam, mulai dari pesta pernikahan, sambut baru, syukuran, ritual adat, hingga perayaan keluarga lainnya.

Bahkan, dalam konteks ada yang meninggal, keluarga besar dan masyarakat akan berkumpul dan membahas rangkaian kegiatan. Semua itu menelan banyak tenaga, waktu, dan biaya secara materi. Dari aspek budaya, kebiasaan di Lembata NTT ini tumbuh dari nilai kekeluargaan, gotong royong, dan hubungan timbal balik yang menjadi pondasi dalam kehidupan masyarakat adat.

Dagel awalnya wadah bagi warga agar tetap solid

Secara sosial, dagel menjadi wadah untuk menguatkan hubungan antarsuku dan kampung. Kemudian menjadi gambaran solidaritas agar sebuah keluarga tidak menghadapi peristiwa penting sendirian. Misalnya pada pesta pernikahan atau sambut baru, dagel adalah cara untuk membagikan kebahagian. Sementara dalam konteks duka, dagel merupakan bentuk dukungan bagi mereka yang kehilangan.

Baca Juga:

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Akan tetapi, makin ke sini, kebiasaan dagel di Lembata yang awalnya punya tujuan untuk meringankan, perlahan menjadi memberatkan. Tanpa banyak yang sadar, nilai dagel yang mulanya soal kebersamaan, bergeser menjadi perayaan glamor yang menguras habis tenaga, waktu, dan materi.

Menurut saya, semua itu membuat dagel melahirkan tiga jenis beban sekaligus. 

Pertama, beban fisik yang terlihat bagaimana persiapan yang dilakukan. Mulai dari pra acara, saat dagel, dan setelahnya di mana keluarga harus menyiapkan tempat, memasak, menerima tamu, mengurus banyak perlengkapan, dan membereskan semuanya setelah dagel berakhir.

Kedua, beban psikis yang tergambar dari tekanan yang tanpa sadar menuntut dagel harus hadir dengan glamor, meriah, sehingga tidak mengecewakan keluarga besar. Banyak syarat dan keharusan yang ditempel dengan nilai kesakralan sehingga jadi wajib. Harus sembelih kambing, harus pakai kain ini. Harus dilangsungkan hari ini. Dan segala persyaratan yang kadang terdengar gak masuk akal.

ADVERTISEMENT

Ketiga adalah beban materi. Kebutuhan dagel mulai dari makanan dan minuman, perlengkapan, dan berbagai keperluan lain menelan banyak biaya. Masih bagus kalau punya tabungan atau punya anak yang merantau sehingga bisa dimintai. Sayangnya kalau gak punya keduanya, jalan satu-satunya ya berutang.

Tidak hanya penyelenggara, semua warga terbebani

Beban materi yang saya soroti sebenarnya nggak hanya ditanggung oleh keluarga, tapi juga orang yang datang. Sebab, mereka harus membawa uang, beras, gula, hewan, minuman, atau hasil bumi lainnya. Pemberian itu jadi wujud solidaritas. Yang jadi persoalan, kalau dagel-nya berkali-kali, bahkan ada musim dagel yang isinya tiap hari dagel, maka yang ada malah jadi tagihan sosial, kan?

Semua kebiasaan ini membuat saya jadi kecewa karena nilainya telah bergeser. Harusnya dagel adalah simbol solidaritas yang meringankan bukan membebankan.

Kalau terus seperti ini, ya siap-siap kalau dagel hanya jadi kebiasaan di Lembata NTT yang akan ditinggalkan karena kenyataannya membuat banyak pemuda asal sendiri malas pulang kampung karena hal-hal yang terlalu menuntut dari dagel itu sendiri.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 6 Fakta Tentang Nusa Tenggara Timur yang Harus Kalian Tahu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2026 oleh

Tags: budaya NTTDagellembatalembata NTTNTTpesta
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

rakat NTT indonesia timur terminal mojok

Rakat, Perekat Solidaritas Mahasiswa Perantau dari Indonesia Timur

14 Januari 2021
Suzuki Spin 125 SR: Tenaganya Kuat Abis, Konsumsi BBM Bikin Meringis suzuki carry futura

Suzuki Carry Futura, Teman Perjalanan Masa Kecil yang Ngangenin dan Nggak Perlu Diragukan Ketangguhannya

24 Juli 2023
Djoko Tjandra Jokowi MOJOK.CO

Jokowi Cuma Peduli Sama Gimmick Pakaian Adat, Bukan Masyarakat Adatnya

21 Agustus 2020
pesta ramah anak

Merancang Pesta Ramah Anak

13 Agustus 2019
Bemo NTT: Diskotek Berjalan yang Siap Memberi Penumpang Kegembiraan

Bemo NTT: Diskotek Berjalan yang Siap Memberi Penumpang Kegembiraan

7 Maret 2023
Jangan Ajari Warga NTT Bersyukur, tapi Ajari Pemda NTT Berpikir terminal mojok

Bantuan ‘Sederhana’ Datang, Tolong Jangan Ajari Warga NTT Bersyukur, melainkan Ajari Pemda NTT Berpikir

23 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

11 Agustus 2026
Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

13 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.