Dalam hidup ini, kita pasti punya angan-angan. Misalnya, ingin tinggal di lingkungan yang tenang, ayem, jauh dari polusi udara dan kemacetan. Tujuannya, supaya bisa menjalani hidup yang tidak memburu, tidak pula diburu. Dan jawaban dari semua itu adalah hidup di desa. Biasanya yang sudah pensiun atau punya financial freedom nih yang punya keinginan seperti ini.
Selain bisa menepi dari hiruk pikuk dunia, hidup di desa juga tampak menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah. Nggak ada ceritanya tuh nasi goreng seharga 45 ribu ataupun es teh seharga 30 ribu di desa. Itu sebabnya, banyak orang ingin menghabiskan masa pensiun mereka di desa. Referensi desa yang enak buat pensiun ataupun slow living, sudah banyak di-spill di Terminal Mojok. Tinggal pilih mana yang cocok.
Meski demikian, ada satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk hidup di desa. Yaitu, soal ongkos sosialnya. Percayalah, ongkos sosial di desa itu pating tritil, alias banyak banget macamnya. Besarannya memang nggak seberapa, tapi, kalau diakumulasikan ternyata lumayan juga.
Daftar iuran wajib di desa
Mari kita breakdown bareng-bareng, apa saja sih yang termasuk dalam ongkos sosial hidup di desa. Tapi, berhubung orang-orang yang saya tanya menyebutkan nominal yang berbeda, saya ambil rata-rata saja.
Kas RT : 5.000
Dansos RT : 5.000
Kas dasawisma : 5.000
Kas RW : 5.000
Snack pengajian : 7.000
Arisan ibu-ibu : 50.000
Arisan bapak-bapak : 25.000
Sampah : 30.000
Jimpitan : 5.000
Iuran kematian : 2.000
Iuran keamanan/ronda : 2.000/hari (60 ribu/bulan)
Dihitung-hitung, ada pengeluaran sebesar 199.000/bulan. Kalau gajimu UMR Jateng, yang berada di kisaran 2,3 juta rupiah, maka iuran wajib hidup di desa ini sudah menghabiskan sekitar 8,5% dari gaji imutmu.
Kelihatannya sih kecil. Tapi, itu baru iuran wajibnya ya, Bolo. Yang ngeri-ngeri sedap adalah iuran lain yang insidental, katanya tidak wajib, tapi kalau nggak ngasih bisa jadi bahan gibah tetangga.
Ongkos sosial lain yang tidak terduga ketika hidup di desa
Ongkos sosial lain ketika kamu hidup di desa misalnya saat harus tilik tetangga sakit, melahirkan, ataupun meninggal. Memang sih, tiap bulannya warga sudah ditarik iuran dansos dan iuran kematian. Tapi, hal tersebut tidak lantas membuat warga bisa lenggang kangkung. Secara pribadi, mereka tetap harus bawa sesuatu, entah uang atau bingkisan agar elok dipandang.
Belum lagi kalau bicara soal hajat tetangga yang macamnya banyak sekali. Yang kecil-kecilan, ada acara anak ulang tahun dan tilik haji. Yang gedean, ada nyunati hingga pesta pernikahan. Dan kalau kamu tinggal di Jawa, rentetan tradisi komunalnya jauh lebih panjang dan lebih memicu ongkos sosial. Untuk prosesi dari masa kehamilan hingga bayi diberi nama saja, kamu bakal diundang ke acara empat bulanan, tujuh bulanan (mitoni), puputan, hingga tradisi tedhak siten saat anak mulai belajar berjalan.
Siklus ini pun masih berlanjut bahkan ketika seseorang sudah tiada. Ada tahlilan 7 hari, peringatan seratus hari (nyatus), hingga haul tahunan (mendak). Jujur, saya sampai bingung ngitung ongkos sosialnya, saking terlalu banyak. Tapi, karena momen-momen tersebut jarang tumplek blek di bulan yang sama, maka, mari kita anggap rata-rata untuk ongkos sosial tak terduga ini sebesar 100 ribu/bulan. Sehingga, totalnya menjadi 299.000/bulan.
Dan itu belum selesai.
Baca halaman selanjutnya













