Di tengah kota metropolitan semacam Surabaya, banyak hal modernitas bertumbuh dan menjamur ke mana-mana. Seperti gedung-gedung pencakar langit, hotel bintang lima, hingga mal mewah dengan lapisan lantainya. Semuanya menampakan diri untuk menjadi identitas wajib bagi kota dengan jumlah warga hampir 3 juta ini. Tak terkecuali kafe kekinian yang berlomba muncul di tiap sudut kawasan Ngagel. Rentetan coffee shop ini menghadirkan ciri khasnya masing-masing.
Daerah ini memang lagi hype terkenal dengan banyaknya pilihan kafe ala-ala Gen Z atau cangkrukan kalcer. Ibaratnya Senopatinya Jakarta, tapi ini lebih ke nyel Suroboyoan.
Cuman banyaknya coffee shop menurutku bisa dibaca sebagai tanda bahwa warga membutuhkan ruang untuk berkumpul, tetapi kota menyerahkan pemenuhan kebutuhan itu ke sektor komersial. Ruang-ruang publik gratis memang masih kurang dikembangkan, padahal sangat potensial.
Ngagel Surabaya, coffee shop, dan kebutuhan kita untuk berkumpul
Sebagai orang yang beberapa kali singgah ke coffee shop di kawasan Ngagel Surabaya untuk meredakan mumet setelah seharian bekerja. Aku melihat ada keunggulan di konsep kafenya. Ada yang aesthetic dengan spot foto pinterest, ada kedai suasana homey dan banyak juga yang semi-industrial.
Selain itu cukup sering beberapa kafe mengadakan aktivasi beragam event, termasuk berkolaborasi dengan komunitas dan mereka terbuka bila diajak kerja sama.
Tapi ada satu hal yang mungkin luput dari pandangan kita. Untuk mendapatkan ruang sosial di Ngagel Surabaya (dan mungkin tempat lain juga begitu), kita harus jadi konsumen dulu. Merogoh uang, untuk mendapatkan hak-hak yang sebenarnya bisa didapat gratis.
Menurutku masih wajar ketika coffee shop menetapkan harga, jam operasional, kapasitas, bahkan aturan siapa yang boleh menggunakan ruangnya, ya karena mereka adalah bisnis. Coffee shop melihat peluang dan menjawab kebutuhan ruang sosial dengan fasilitas memadai. Justru keberhasilan kafe-kafe ini, menunjukkan adanya kebutuhan ruang sosial yang besar dan belum sepenuhnya dijawab oleh ruang publik kota Surabaya.
Belajar dari Jakarta: kota yang memberi ruang untuk warganya
Lucunya, sebagai sesama kota metropolitan, Jakarta justru lebih berhasil menjawab kebutuhan ruang untuk warganya, padahal secara kepadatan, tentu saja Jakarta jauh lebih padat. Surabaya, yang secara angka kepadatan jauh di bawah Jakarta, malah gagal menjawab kebutuhan ruang.
Di Jakarta, Semua warga bisa nongkrong menikmati kotanya, tanpa harus menjadi konsumen. Identitas ruang publik teramat nyata di sana. Banyak ruang disediakan untuk mengakomodir kebutuhan sosial warga, berinteraksi atau sekadar melamun.
Kemudahan mencari ruang publik gratis dan nyaman inilah yang seharusnya menjadi concern Pemerintah Kota Surabaya. Karena di kota metropolitan, kebutuhan tempat melepas penat sungguh sangat dibutuhkan. Rasanya menyebalkan jika misalkan aku tinggal di daerah Ngagel Surabaya, lalu pilihan ruang sosialnya terbatas di kafe saja atau aku harus perjalanan jauh ke tengah kota untuk menikmati ruang publik secara nyaman.
Jakarta bisa menjadi contoh, tapi bukan standar yang harus ditiru mentah-mentah. Tidak berarti semua ruang publik Jakarta sudah sempurna, dan bukan berarti berhasil juga. Tapi ada contoh kemauan aktif dari pemerintah setempat untuk menunjukan kepedulian menyediakan kebutuhan warganya.
Baca halaman selanjutnya