Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
29 Januari 2026
A A
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Merantau jadi salah satu fenomena lumrah yang sudah membudaya di masyarakat NTT. Alasan merantau ya karena ingin mencari kerja atau mencari ilmu, bisa sekolah atau kuliah. Tentu sebaran untuk daerah tujuan merantau bisa sangat luas, tapi khusus untuk pendidikan, dalam hal ini adalah kuliah, Jogja jadi kota favorit yang dipilih.

Tiap tahun ajaran baru, orang dari NTT yang datang ke Jogja untuk kuliah jumlahnya bisa ratusan orang. Entah itu yang statusnya sudah diterima di kampus tertentu atau masih proses mencari kampus tujuan. Pada intinya, Jogja memang jadi primadona. Ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil menginjakan kaki di kota tersebut.

Kalau dibedah, ada beberapa alasan mengapa Jogja jadi pilihan utama ketimbang kota lain seperti Malang, Semarang, Surabaya, Bandung, atau Jakarta. Saya coba ulas satu per satu ya:

#1 Branding Jogja sebagai Kota Pendidikan

Kita bisa saja berdebat soal kota mana yang sebenarnya dianggap sebagai Kota Pendidikan. Tapi, bagi orang NTT, kota pendidikan itu ya Jogja. Sebab, bagi mereka, ekosistem pendidikannya begitu jelas. Kampusnya banyak, budaya belajar terlihat kuat, memang punya historis sebagai ruang para pelajar dan intelektual itu tumbuh.

Misalnya dalam konteks kampus, ketika seseorang gagal di UGM, pilihan untuk tetap bisa berkuliah masih terbuka lebar. Sebab masih banyak pilihan kampus berkualitas lainnya yang bisa dijajaki di Jogja. 

Tentu label sebagai Kota Pendidikan ini juga sering digunakan seseorang untuk meyakinkan orang tuanya bahwa dia memang pergi untuk kuliah. Sehingga orang tuanya yang melepas pun jadi rela dan meyakini bahwa anaknya merantau untuk belajar. Meski pada kenyataannya gak selamanya seperti itu.

Baca juga Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri.

#2 Daya tarik UGM

Nggak bisa dikesampingkan, UGM memang jadi daya tarik mengapa orang NTT ingin kuliah di Jogja. Banyak keluarga di NTT mengenal UGM bahkan sebelum mengetahui nama kampus-kampus lain. Pokoknya daftar UGM dulu yang secara otomatis menjadikan Jogja sebagai kota pilihan.

Baca Juga:

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

UGM jadi semacam label yang mengangkat reputasi dari Jogja itu sendiri. Kuliah di Jogja berarti kuliah di UGM. Ya meski sekali lagi, nggak selalu orang-orang NTT beneran semuanya kuliah di UGM.

#3 Budaya Jawa masih kental, tapi nggak kaku

Jogja dengan kultur budayanya yang halus dan nggak kaku menjadi daya tarik tersendiri bagi orang NTT. Orang NTT memang punya nada bicara agak keras, tapi sama sekali tidak kasar. Hal itu membuat warga setempat jadi lebih mudah menerimanya. 

Budaya mahasiswa yang cair tumbuh dari banyaknya komunitas, organisasi, diskusi, dan warung yang begitu membaur dan plural. Selain itu, suasana Jogja yang ritmenya pelan membuat orang-orang NTT bisa beradaptasi secara bertahap. Terlebih bagi orang NTT yang terbiasa dengan cara bicara yang lugas, ekspresif, dan sering langsung ke inti.

#4 Nilai gotong royong

Satu nilai di Jogja yang sama dengan nilai yang ada di NTT atau orang timur adalah gotong royong dan solidaritas. Bagi mereka, orang Jawa di Jogja itu ramah sehingga gak sungkan untuk saling membantu dan gotong royong.

Mahasiswa perantau dari NTT yang datang dengan nilai komunal dan sosial menjadikan mereka makin lengket dengan pola atau kultur dari masyarakat atau mahasiswa asli Jogja yang juga terbiasa hidup kolektif. Semua Itu tercermin dari banyaknya organisasi, komunitas, sampai kultur nongkrong yang panjang. Semua itu membuat perantau mahasiswa dari NTT seperti menemukan versi baru dari rumah.

Baca juga Jogja Makin Bebas, Mahasiswa Baru Muslim Lebih Baik Tinggal di Pondok daripada Ngekos.

#5 Makanan Jogja cocok di lidah mahasiswa perantau

Sejauh pengamatan saya, orang NTT itu nggak terlalu suka dengan makanan yang terlalu pedas, asin, dan gurih. Mereka suka dengan cita rasa makanan yang agak manis. Itu mengapa, lidah mereka tidak perlu susah payah menyesuaikan diri dengan kebanyakanan kuliner Jogja. Tidak semua memang, tapi cukup banyak kok makanan yang cocok. Misal, pecel, gudeg, kudapan, olahan ikan atau ayam, gorengnya, dan makanan lain yang di angkringan. 

Selain itu, akses dan pilihan makanan di Jogja sangat banyak sehingga nggak bikin cepat bosan. Terutama bagi mahasiswa perantau NTT yang nggak suka atau males masak.

#6 Pengaruh teman/ senior di sekolah

Semua aspek di atas menciptakan sebuah jalur informasi yang disebarluaskan secara masif dan terus menerus dari senior yang sudah kuliah di Jogja ke teman atau saudara mereka yang ada di NTT. Ketika ada saudara ada senior yang sudah lebih dulu hidup di Jogja, kota itu jadi tidak terasa asing dan berisiko lagi.

Ada yang bisa jadi sumber informasi seputar cara daftar kuliah, kampus rekomendasi, cari kos-kosan, daerah mana yang aman dan nyaman, tempat makan yang murah, rute naik kendaraan, sampai hal remeh tapi penting seperti kalau sakit harus minta tolong ke siapa atau kalau uang bulanan habis, harus pergi ke siapa.

Keberadaan senior jadi semacam pemandu yang membuat perantau tidak merasa seperti masuk ke hutan belantara tanpa tahu harus ke arah mana. Inilah yang membuat Jogja jadi yang paling diprioritaskan, bukan karena paling modern tapi dirasa paling ramah dan jelas.

7 Komunitas NTT/Timur di Jogja sudah mapan

Karena banyak senior dan saudara yang sama-sama dari NTT atau Timur, membuat komunitas NTT atau Timur pun jadi masif dan mapan. Banyak organisasi daerah atau paguyuban yang bisa menjadi keluarga ketika berada di Jogja. Hal itu membuat perantau mahasiswa dari NTT jadi nggak mulai dari nol lagi.

Setidaknya ketika tiba di Jogja, ada semacam wadah yang membantu mereka mengetahui banyak hal selain dari senior atau saudara.

Itulah beberapa alasan yang menjadikan Jogja dilirik sebagai kota tujuan belajar bagi orang-orang NTT. Tentu banyak kota lain yang mungkin punya daya tawar yang serupa, tapi sekali lagi, Jogja memang punya sesuatu yang berbeda dari yang lain. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Saya Tidak Pernah Merasa Bangga Kuliah di UIN Jogja, tapi Kampus Ini Sama Sekali Tidak Layak Dicela.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: JogjaKota pelajarKuliahMahasiswamahasiswa jogjaNTTperantauperguruan tinggi Jogjatimuruniversitas Jogja
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Alasan Orang Tua Melarang Keinginan Anaknya untuk Ngekos anak kos terminal mojok.co

Alasan Orang Tua Melarang Keinginan Anaknya untuk Ngekos

2 November 2020
3 Coffee Shop Bergaya Jepang di Jogja Terminal Mojok

3 Coffee Shop Bergaya Jepang di Jogja

5 Juli 2022
Mie Sapi Gajahan: Viral, tapi Nggak Bisa Disebut Spesial

Mie Sapi Gajahan: Viral, tapi Nggak Bisa Disebut Spesial

3 April 2023
Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja-Solo (Unsplash)

Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja dan Solo

24 September 2024
Anak Magang atau PKL Bukan Babu dan Betapa Bahayanya Menormalisasi Itu terminal mojok.co

Balada Anak Magang di Perkantoran

17 Juni 2019
4 Cara Pintar Naik KRL Jogja-Solo supaya Dapat Tempat Duduk Nyaman Mojok.co

4 Cara Pintar Naik KRL Jogja-Solo supaya Dapat Tempat Duduk Nyaman

29 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menyesal Beli Motor Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Nambah Beban Hidup Mojok.co astrea bulus

Astrea Bulus 1991 yang Saya Beli Lima Juta, Dibilang Teman “Ora Jaman”, Ternyata Malah Jadi Motor Paling Masuk Akal Buat Saya

5 Mei 2026
Nasihat Penting untuk Gen Z yang Pengin Banget Jadi ASN

Daripada ASN Day, Kami para ASN Lebih Butuh Serikat Pekerja!

5 Mei 2026
Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri Mojok.co

Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri

5 Mei 2026
Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang Mojok.co

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang

7 Mei 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

7 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.