Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Haris Wahyudin oleh Haris Wahyudin
28 Juli 2026
A A
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak jarang saya menemukan narasi-narasi kegagalan hidup datang dari orang-orang yang DO kuliah hingga yang sudah lulus tapi belum sukses. Sukses dan gagal yang dimaksud biasanya berkaitan dengan isi dompet dan jenjang karir. Narasi-narasi itu hadir seakan pertanda bahwa mereka adalah manusia gagal.

Kasus-kasus tersebut, seakan memunculkan persepsi bahwa kuliah itu percuma. Terlebih jika tidak mendatangkan pundi-pundi emas setelah lulus.

ADVERTISEMENT

Saya adalah seorang homeless sebatang kara, memutuskan untuk bertaruh pada kuliah secara nekat tanpa kepastian tidur di mana, besok makan apa. Kini, saya terancam DO kuliah. Dilihat dari sudut pandang manapun, pertaruhan yang saya lakukan lebih dekat dengan kegagalan dan seharusnya tahu diri untuk cari kerja.

Tetapi, saya akan tetap menyebutkan kuliah adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Terserah ada yang menyebut 6 tahun waktu saya habis sia-sia.

Narasi kuliah yang tidak relevan

Berbicara soal perkuliahan duniawi, narasi-narasi yang saya dapatkan seakan berputar dalam pembahasan kalangan menengah ke atas. Sebutlah keterkaitan kuliah dengan ROI, membanggakan orang tua, pekerjaan yang mapan, dan karier. Manakala keterkaitan tersebut tidak tercapai maka anggapan gagal adalah keniscayaan.

Jujur bagi saya, pembahasan-pembahasan seperti itu tidak relevan. Lebih jauh, hal itu malah menjadi narasi bising yang memuakkan. Tidak relevan karena sebagaimana tunawisma pada umumnya, besok makan apa jauh lebih penting dibanding mau berkarier di mana. Muak karena dipaksa mengerti permasalahan kelas menengah.

Barangkali kelas menengah lupa bahwa metrik kesuksesan tidak pernah tunggal. Bagi mereka, sukses berarti ratusan juta di rekening setelah lulus. Bagi saya, kuliah itu sendiri adalah bentuk dari kesuksesan. Kampus menjadi arena untuk menabrak batas-batas kelas sosial, sesuatu hal yang mustahil jika saya tetap berada di jalanan.

Dari Skor TOEFL hingga ke luar negeri

Saya tidak pernah tahu dengan pasti bagaimana caranya saya bisa mendapatkan skor TOEFL 560. Saya tidak pernah kursus bahasa Inggris karena, ya ngapain?

Baca Juga:

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

Meskipun ada kursus bahasa Inggris yang katanya murah seharga 100.000, hitungannya tetap rugi jika dibandingkan dengan mengorbankan 10 kali jatah makan. Bisa kursus tapi setiap malam kelaparan dengan posisi tidur mirip trenggiling, itu jelas tidak lucu.

Punya kolega bule? Jelas tidak ada. Faktor lingkungan boro-boro. Sejauh saya hidup, mentalitas “gak bisa bahasa enggres” di masyarakat masih besar, apalagi di lingkungan masyarakat bawah.

Yang saya tahu, saya mendapatkan skor itu ketika kuliah, lebih tepatnya konsekuensi atas perkuliahan. Tuntutan-tuntutan tugas kuliah, diskursus mahasiswa hingga lika-liku berorganisasi menghadapkan saya pada referensi-referensi berbahasa Inggris. Saya harus membaca jurnal Scopus untuk membuat makalah, perlu tahu Peaky Blinders itu apa, dan wajib paham apa itu Kolb Learning Cycle gara-gara disuruh ngurus kaderisasi.

Kemampuan berbahasa ini kemudian mengantarkan saya untuk dipilih sebagai delegasi dalam agenda Youth Exchange dan bisa merasakan repotnya musim dingin di negara Jepang. Saya memiliki kesempatan mempresentasikan gagasan di hadapan orang kedutaan besar Jepang dan Indonesia, punya kenalan di Hiroshima, dan yang menggelitik: punya paspor. Saya punya teman anak haji dan dosen, dan dia tidak punya paspor, hahaha.

ADVERTISEMENT

Kemampuan berbahasa ini pun mengantarkan saya untuk memampangkan foto dan pendapat saya di majalah ASEAN. Entahlah saya tidak tahu, pertimbangannya apa sampai-sampai dikirim pesan oleh pihak ASEAN. Yang jelas saya masuk majalah. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan meski suka mengkhayal di kamar mandi.

Saya pun terlibat beberapa kali dalam forum bersifat internasional. Dari diskusi langsung soal Laut Cina Selatan bersama rekan-rekan mahasiswa ASEAN hingga membahas kesulitan regional Tohoku untuk menerapkan energi terbarukan karena salju bersama salah satu CEO perusahaan Jepang, saya merasakan dan masih mutualan di LinkedIn. 

Jika dipikirkan secara jernih, apa mungkin seorang tunawisma tanpa jalur kuliah mampu mendapatkan pencapaian-pencapaian seperti ini?

Perubahan sosial dan kognitif

Dari kemampuan bahasa hingga urusan luar negeri, hal itu hanyalah puncak gunung es. Aspek paling fundamental yang saya dapat adalah bagaimana perkuliahan mendobrak ketidaktahuan sekaligus mengikis kebodohan.

Saya berasal dari Kabupaten Majalengka, dari daerah pinggiran yang sangat minim informasi. Saking minimnya informasi, banyak hal dan fase normal yang terlewat dalam hidup.

Hingga usia 22 tahun, saya berstatus sebagai warga negara ilegal karena nggak punya KTP. Alasannya sesederhana saya memang tidak tahu soal itu. Lalu, syarat membuat KTP pun harus punya KK. Sebagai manusia yang hubungan keluarganya terpisah oleh alam yang berbeda, saya sangat berharap jurus Edo Tensei beneran ada.

Jika syarat diakui negara adalah punya keluarga, saya berpikir seumur hidup akan menjadi warga ilegal. Namun, di usia 22, akhirnya saya punya KTP setelah saya tahu bahwa kita bisa numpang KK orang lain. Meski statusnya famili lain, yang penting diakui negara.

Keabsahan status kewarganegaraan ini didapatkan ketika saya memutuskan untuk kuliah. Pendidikan terakhir saya SMP. Sedangkan untuk masuk perguruan tinggi, dibutuhkan ijazah SMA. Karena tidak mampu mengenyam bangku SMA, maka cara lainnya adalah ikut Paket C. Salah satu syaratnya adalah punya KTP.

Perkuliahan memang tidak berkontribusi secara langsung terhadap kepemilikan status kewarganegaraan. Namun, jika tidak ada niat kuliah, mungkin status saya sekarang masih setara dengan ganja.

Setelah lulus paket C

Setelah lulus Paket C dan berada di semester 1, saya masih ingat betapa kagetnya saat pertama kali mendengar kata “beasiswa”. Rupanya di dunia ini ada sebuah skema yang memungkinkan kita sekolah pake uang orang lain. Selain beasiswa, saya juga baru tahu bahwa di dunia ini ada sebuah tempat untuk menampung anak-anak terlantar, namanya panti asuhan.

Sial sekali rasanya karena saya baru tahu itu ketika masuk kuliah. Andai saja tahu lebih dini, saya mungkin bisa merasakan duduk di bangku SMA dan kuliah tanpa memikirkan biaya, tak perlu tidur seperti trenggiling, dan yang lebih seru: punya cerita hidup seperti lagu Taylor Swift yang berjudul “22”.

Tuntutan perkuliahan tidak hanya menjadikan saya lebih terinformasi, tetapi juga memaksa saya untuk berpikir secara kritis. Dan hal itu adalah yang paling saya syukuri: kapabilitas untuk berpikir.

Kapabilitas ini jelas bukan hal yang remeh. Kapabilitas inilah yang mampu menelanjangi kemiskinan yang menimpa saya dan keluarga dulu. Lebih penting lagi, kapabilitas inilah yang menjadi alasan untuk memaafkan kelakuan ninja bapak saya.

Keputusan beliau di saat menghilang meninggalkan keluarga bukan hanya karena tak punya tanggung jawab, melainkan akumulasi dari kebijakan buruk negara, lingkungan sosial yang kelewat kejam, dan minimnya akses ekonomi.

Bagi saya, itu jauh lebih penting daripada pergi ke luar negeri atau nonton Peaky Blinders tanpa subtitle. Karena perkuliahan, saya mampu menuntaskan masalah keluarga, sekaligus memahami kemiskinan sebagai modal untuk melakukan perlawanan.

Kuliah bikin saya menjadi lebih baik meski belum kaya

Saat ini saya terancam DO kuliah dan cukup mampu menerimanya tanpa menafikan kesulitan pasca DO. Saya kuliah bermodalkan nekat dan mengandalkan siasat, resiliensi serta modal sosial untuk bertahan. Pun andai kata DO kuliah, hal itu hanyalah konsekuensi inheren yang perlu diterima atas pertaruhan yang telah dibuat. 

Lagi pula, saya sudah mendapatkan kemenangan-kemenangan yang relatif besar. Dari pengetahuan dan kemampuan yang dibangun, saya pikir itu menjadi modal yang cukup untuk berikhtiar mencari jalan keluar. 

Oleh karena itulah, terlepas dari ancaman DO kuliah, saya akan selalu menyebutkan bahwa bertaruh untuk kuliah bermodalkan nekat adalah keputusan paling bijak yang pernah diambil. Lagi pula, bukankah hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan?

Penulis: Haris Wahyudin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Berprestasi di UNY malah Di-DO, Pindah Kampus untuk Ngulang Kuliah dari Awal malah Difitnah hingga Batal Lulus

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2026 oleh

Tags: DO kuliahKuliahtoefl
Haris Wahyudin

Haris Wahyudin

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung. Perhatian akan isu sosial, ekonomi, teknologi, politik dan geopolitik. Ngopi adalah rukun hidup.

ArtikelTerkait

Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Jadi Mahasiswa Jurusan Informatika, Jangan Sampai Nyesel Mojok.co

Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Jadi Mahasiswa Jurusan Informatika, Jangan Sampai Nyesel

14 November 2023
Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan

Kuliah di Mana pun Itu Sama Saja Adalah Omong Kosong yang Terus Dipertahankan

15 Agustus 2024
Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah: Ekonomi Sulit, Gaya Selangit Mojok.co

Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah: Ekonomi Sulit, Gaya Selangit

9 April 2024
Universitas Terbuka Bukan Hanya Kampusnya para Orang Tua

Universitas Terbuka Bukan Hanya Kampusnya para Orang Tua

6 Juni 2023
Alasan Saya Nggak Pernah Jadi Bagian Mahasiswa yang Ngerjain Skripsi di McD terminal mojok.co skripsi mendikbudristek

Memangnya Kenapa kalau Skripsi Dihapus? Nggak Ada Efeknya Juga kan?

30 Agustus 2023
Nasib Sarjana Musik di Situbondo: Jadi Tukang Sayur, Bukan Beethoven

Nasib Sarjana Musik di Situbondo: Jadi Tukang Sayur, Bukan Beethoven

17 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya Mojok.co

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

19 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya Mojok.co

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

12 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.