Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Potensi Besar Gudeg Jogja Mati karena Branding Makanan Khas Jogja yang Cuma Dikenal Sebagai Makanan Serba Manis

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
23 Januari 2026
A A
Potensi Sebenarnya Gudeg Jogja Dibunuh oleh Branding Wisata (Unsplash)

Potensi Sebenarnya Gudeg Jogja Dibunuh oleh Branding Wisata (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa hari yang lalu, Iqbal AR menulis bahwa wisatawan luar lebih cocok makan bakmi Jawa ketimbang gudeg Jogja. Tulisan tersebut mendapat sambutan hangat dari pembaca Terminal Mojok. Sepertinya, banyak yang setuju dengan opini Mas Iqbal dari Batu, Malang.

Sebagai asli Jogja, saya tidak bisa membantah opini tersebut. Pasalnya, banyak orang di sekitar saya berasal dari Jawa Timur dan mereka rasa menjaga jarak dengan gudeg Jogja. Apakah mereka lebih suka makan bakmi Jawa? Nah, itu saya tidak tahu. Kebanyakan dari mereka adalah penikmat masakan pedas dan ayam geprek jadi pilihan utama.

Iklan

Salah satu alasan kuat yang membuat Iqbal AR bilang wisatawan lebih cocok dengan bakmi Jawa ketimbang gudeg Jogja adalah soal rasa. Gudeg, seperti yang pembaca ketahui, dominan manis. Soal ini, saya tidak perlu menjelaskan panjang dan lebarnya. Kita sama-sama tahu kenapa-nya.

Sekali lagi, saya tidak mau dan sepertinya tidak bisa membantah opini Iqbal. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah soal branding wisata kuliner atau makanan khas yang berbahaya. Menurut saya, banyak yang “menjauhi” gudeg Jogja karena di dalam benak wisatawan, gudeg itu hanya punya satu spektrum rasa, yaitu manis.

Baca juga Selain Terlalu Manis, Gudeg Jogja Dijauhi karena Mahal, Padahal (Seharusnya) Murah dan Masih Makanan Rakyat

Branding dan merek terkenal

Jogja, sebagai tujuan apa saja, punya branding sangat kuat. Mulai dari kota pendidikan, wisata budaya, sampai wisata kuliner. Status ini bisa menjadi investasi yang besar bagi beberapa pelaku ekonomi. Khususnya merek-merek besar yang mampu menciptakan branding sendiri sehingga wisatawan pasti tertarik.

Maksudnya, campaign tersebut seakan-akan menarik wisatawan ke satu titik. Misalnya, dengan menambahkan istilah “khas Jogja”. Dengan begitu, mereka menciptakan dikotomi yang tegas. Bahwa mereka adalah wakil dari lidah asli orang lokal. Keaslian ini sangat menjual dan menjadi daya tarik.

Nah, merek-merek besar dalam khazanah gudeg Jogja ini berhasil menciptakan branding yang kuat. Sampai di sini saya perlu menegaskan bahwa yang mereka lakukan selama bertahun-tahun adalah fair. Tidak ada yang salah. Namun, yang lahir adalah pemaknaan tunggal bahwa gudeg Jogja itu manis. 

Rasa manis memang rasa favorit untuk banyak orang. Tergantung dia berasal dari mana dan selera pribadi. Makanya, bakmi Jawa menjadi pilihan karena menyediakan alternatif rasa bernama “gurih”. Sebuah rasa yang, bagi banyak orang, lebih menyenangkan. 

Rasa manis yang terlalu legit kadang bikin eneg dan orang malas untuk kembali mencobanya lagi. Itulah yang membuat opini Iqbal AR terjustifikasi. 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Rasanya gitu-gitu aja, ya dominan manis aja seperti nggak terlalu ditopang rasa yang lain. Gurihnya nggak kelihatan, menjadikan gudeg serasa cukup untuk dimakan sekali saja, tanpa perlu dibaleni kalau kata orang Jawa,” tulis Iqbal di dalam artikelnya.

Baca halaman selanjutnya: Branding yang berdampak buruk buat gudeg.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2026 oleh

Tags: Bakmi Jawagudeggudeg bu ahmadGudeg Jogjagudeg manisGudeg Yu DjumJogjakhas jogjakuliner khas jogjaMakanan khas Jogjarekomendasi gudeg Jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)
Pojokan

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.