Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
13 Agustus 2026
A A
Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Generasi sekarang bukannya malas dan manja cari kerja …

Setelah dua tahun nggak berjumpa dengan kawan-kawan saya semasa sekolah dan kuliah, kini hampir setiap pekan saya agendakan untuk bertemu mereka. Saya makan siang, ngopi, atau sekadar duduk santai sambil ngobrol, update kabar terbaru.

ADVERTISEMENT

Teman-teman saya ini seumuran dengan saya. Kami secara statistik masuk ke kelompok usia kerja awal. Namun, di kondisi seperti sekarang, kami punya kekhawatiran yang sama, what’s next? apa selanjutnya?

Kami sama-sama lulus dengan gelar sarjana dari salah satu kampus ternama. Beberapa dari kami bahkan sudah atau sedang menyelesaikan jenjang S2. Saya pun tahu betul teman-teman saya ini nggak ada yang “kupu-kupu” semasa S1 alias nggak ada yang kuliah pulang-kuliah pulang. 

Mereka bergabung di satu-dua organisasi, punya skill yang relevan dengan kebutuhan yang dicari perusahaan, dan saat lulus pun sebagian besar dikalungi samir cumlaude. Namun, hingga detik ini kami masih diliputi kekhawatiran akan pekerjaan.

Saya jadi ingat sewaktu mengantar bapak saya bertemu teman masa sekolahnya. Mereka nostalgia masa muda ketika masih menjadi guru.

Di suatu waktu, bapak dan temannya saling bercerita tentang teman mereka, yang sekarang menjadi pejabat di suatu kementerian. Beliau berhasil dapat pekerjaan dari kenalan orang tuanya segera setelah lulus, dan kini bisa merangkak naik di struktur organisasi kementerian.

Saingan semakin banyak

Saya yang mendengar itu tentu saja kaget. Ternyata mencari kerja yang mapan di zaman dulu nggak perlu bermodal pengalaman magang dan organisasi, sertifikat bootcamp, atau nilai TKP, TIU, dan TWK all-kill. Bahkan, di X ada warganet yang mengatakan bahwa cari kerja zaman dulu bisa bermodalkan rajin, jujur, dan hoki saja.

Baca Juga:

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

Coba kita lihat datanya.

Sebuah kajian tentang pendidikan Indonesia mencatat jumlah mahasiswa perguruan tinggi meningkat dari sekitar 156.000 orang pada 1968 menjadi 2,3 juta pada 1995, lalu menjadi sekitar 2,69 juta pada 2006. Sementara itu, World Bank mencatat bahwa pada awal 2010-an sudah hampir 4 juta mahasiswa terdaftar di pendidikan tinggi Indonesia.

Artinya, gelar sarjana yang dulu relatif eksklusif sekarang dimiliki oleh lebih banyak orang. Ditambah, dulu generasi muda yang mencari pekerjaan nggak sebanyak sekarang. Sekarang jutaan orang masuk ke pasar kerja pada waktu yang berdekatan. 

Pada 2022 saja penduduk yang masuk usia ketenagakerjaan muda berumur 15-24 tahun sudah 44,65 juta sendiri. Sementara itu, di 1990, misalnya, penduduk dengan kelompok usia yang sama ada sekitar 35 juta. Jadi, jumlah penduduk yang masuk usia ketenagakerjaan muda sekarang memang jauh lebih besar secara absolut dibanding beberapa dekade lalu.

Pekerjaan formal masih terbatas

Dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi dan penduduk usia ketenagakerjaan muda di negeri ini, apakah pemerintah sudah menyiapkan lapangan pekerjaan formal yang cukup?

Bappenas menyebutkan bahwa sebenarnya tingkat pengangguran menurun. Hanya saja dominasi pekerjaan informal, meningkatnya pekerjaan tidak penuh waktu, serta stagnasi pekerjaan formal menunjukkan penciptaan kerja belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas dan produktivitas. 

Bahkan, Bappenas juga menyebut bahwa tantangan Indonesia sudah bergeser dari yang sekadar job creation menjadi job upgrading. Jadi alih-alih sekadar bikin 19 juta lapangan pekerjaan, kualitas pekerjaan tersebut harus dinaikkan biar bukan berbentuk pekerjaan informal dan paruh waktu.

Miris banget kan?. Indonesia nggak kekurangan orang pintar. Buktinya, jumlah orang berpendidikan tinggi meningkat pesat. Tapi, struktur pekerjaan Indonesia belum sepenuhnya berubah jadi pekerjaan formal dan produktif yang mampu menyerap mereka. Tekanan struktural ini terasa banget di generasi kita.

Ijazah nggak lagi cukup untuk daftar kerja

Sudah saingannya banyak, pekerjaan formal pun terbatas, akibatnya masyarakat harus rebutan untuk dapat pekerjaan.

Teman bapak yang saya sebutkan di atas bisa dapat pekerjaan begitu lulus. Coba bandingkan dengan nasib kita. Ijazah yang mati-matian kita perjuangkan sering kali cuma menjadi tiket masuk ke antrean. Kita masih harus mencari cara agar diri kita terlihat beda dibanding pelamar kerja yang lain dan membuktikan ke HRD bahwa kita layak mendapatkan pekerjaan tersebut.

Zaman dulu, gelar S1 sudah menjadi sesuatu yang spesial dan membedakan diri dari pesaing yang lain. Namun, di masa sekarang, selain menunjukkan bukti gelar, kita harus ikut melampirkan sertifikat magang, sertifikat bootcamp, skor TOEFL, portofolio, dan berbagai hard maupun soft skills lainnya. Di saat yang sama kita juga perlu mencari koneksi yang bisa membantu merekomendasikan kita ke perusahaan.

Dengan kata lain, sekarang karena lulusan semakin banyak, perusahaan punya lebih banyak kandidat untuk dipilih sehingga seleksi jadi lebih berat dan kompetensi tambahan jadi semakin penting.

Dulu pintu masuk ke dunia kerja mungkin lebih sederhana. Jadi kalau orang tua bilang zaman dulu cari kerja lebih gampang, mereka nggak sepenuhnya salah. Bukan karena dulu semua orang langsung dapat kerja, tapi karena kita sekarang harus membawa jauh lebih banyak bekal untuk sekadar mendapatkan kesempatan dipertimbangkan.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2026 oleh

Tags: Bapakcari kerjagenerasi bapakgenerasi dulukerjaloker
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure

LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure

16 Agustus 2022
bapak

Bapak

4 Juni 2019
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026
gaji

Biaya Kuliah Itu Mahal, Wajar dong Jika Fresh Graduate Menolak Tawaran Gaji 8 Juta

26 Juli 2019
Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

30 Oktober 2025
Kuliah S2 Jadi Asyik dan Nggak Menyeramkan Asalkan Tiga Syarat Ini Terpenuhi

Kuliah S2 vs Langsung Kerja, Analisis Untung Rugi untuk Masa Depan

21 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Guru ekstrakurikuler: tulang punggung prestasi sekolah yang sialnya jarang dapat apresiasi

Guru ekstrakurikuler: tulang punggung prestasi sekolah yang sialnya jarang dapat apresiasi

11 Agustus 2026
4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian Mojok.co

4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.