Generasi sekarang bukannya malas dan manja cari kerja …
Setelah dua tahun nggak berjumpa dengan kawan-kawan saya semasa sekolah dan kuliah, kini hampir setiap pekan saya agendakan untuk bertemu mereka. Saya makan siang, ngopi, atau sekadar duduk santai sambil ngobrol, update kabar terbaru.
Teman-teman saya ini seumuran dengan saya. Kami secara statistik masuk ke kelompok usia kerja awal. Namun, di kondisi seperti sekarang, kami punya kekhawatiran yang sama, what’s next? apa selanjutnya?
Kami sama-sama lulus dengan gelar sarjana dari salah satu kampus ternama. Beberapa dari kami bahkan sudah atau sedang menyelesaikan jenjang S2. Saya pun tahu betul teman-teman saya ini nggak ada yang “kupu-kupu” semasa S1 alias nggak ada yang kuliah pulang-kuliah pulang.
Mereka bergabung di satu-dua organisasi, punya skill yang relevan dengan kebutuhan yang dicari perusahaan, dan saat lulus pun sebagian besar dikalungi samir cumlaude. Namun, hingga detik ini kami masih diliputi kekhawatiran akan pekerjaan.
Saya jadi ingat sewaktu mengantar bapak saya bertemu teman masa sekolahnya. Mereka nostalgia masa muda ketika masih menjadi guru.
Di suatu waktu, bapak dan temannya saling bercerita tentang teman mereka, yang sekarang menjadi pejabat di suatu kementerian. Beliau berhasil dapat pekerjaan dari kenalan orang tuanya segera setelah lulus, dan kini bisa merangkak naik di struktur organisasi kementerian.
Saingan semakin banyak
Saya yang mendengar itu tentu saja kaget. Ternyata mencari kerja yang mapan di zaman dulu nggak perlu bermodal pengalaman magang dan organisasi, sertifikat bootcamp, atau nilai TKP, TIU, dan TWK all-kill. Bahkan, di X ada warganet yang mengatakan bahwa cari kerja zaman dulu bisa bermodalkan rajin, jujur, dan hoki saja.
Coba kita lihat datanya.
Sebuah kajian tentang pendidikan Indonesia mencatat jumlah mahasiswa perguruan tinggi meningkat dari sekitar 156.000 orang pada 1968 menjadi 2,3 juta pada 1995, lalu menjadi sekitar 2,69 juta pada 2006. Sementara itu, World Bank mencatat bahwa pada awal 2010-an sudah hampir 4 juta mahasiswa terdaftar di pendidikan tinggi Indonesia.
Artinya, gelar sarjana yang dulu relatif eksklusif sekarang dimiliki oleh lebih banyak orang. Ditambah, dulu generasi muda yang mencari pekerjaan nggak sebanyak sekarang. Sekarang jutaan orang masuk ke pasar kerja pada waktu yang berdekatan.
Pada 2022 saja penduduk yang masuk usia ketenagakerjaan muda berumur 15-24 tahun sudah 44,65 juta sendiri. Sementara itu, di 1990, misalnya, penduduk dengan kelompok usia yang sama ada sekitar 35 juta. Jadi, jumlah penduduk yang masuk usia ketenagakerjaan muda sekarang memang jauh lebih besar secara absolut dibanding beberapa dekade lalu.
Pekerjaan formal masih terbatas
Dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi dan penduduk usia ketenagakerjaan muda di negeri ini, apakah pemerintah sudah menyiapkan lapangan pekerjaan formal yang cukup?
Bappenas menyebutkan bahwa sebenarnya tingkat pengangguran menurun. Hanya saja dominasi pekerjaan informal, meningkatnya pekerjaan tidak penuh waktu, serta stagnasi pekerjaan formal menunjukkan penciptaan kerja belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas dan produktivitas.
Bahkan, Bappenas juga menyebut bahwa tantangan Indonesia sudah bergeser dari yang sekadar job creation menjadi job upgrading. Jadi alih-alih sekadar bikin 19 juta lapangan pekerjaan, kualitas pekerjaan tersebut harus dinaikkan biar bukan berbentuk pekerjaan informal dan paruh waktu.
Miris banget kan?. Indonesia nggak kekurangan orang pintar. Buktinya, jumlah orang berpendidikan tinggi meningkat pesat. Tapi, struktur pekerjaan Indonesia belum sepenuhnya berubah jadi pekerjaan formal dan produktif yang mampu menyerap mereka. Tekanan struktural ini terasa banget di generasi kita.
Ijazah nggak lagi cukup untuk daftar kerja
Sudah saingannya banyak, pekerjaan formal pun terbatas, akibatnya masyarakat harus rebutan untuk dapat pekerjaan.
Teman bapak yang saya sebutkan di atas bisa dapat pekerjaan begitu lulus. Coba bandingkan dengan nasib kita. Ijazah yang mati-matian kita perjuangkan sering kali cuma menjadi tiket masuk ke antrean. Kita masih harus mencari cara agar diri kita terlihat beda dibanding pelamar kerja yang lain dan membuktikan ke HRD bahwa kita layak mendapatkan pekerjaan tersebut.
Zaman dulu, gelar S1 sudah menjadi sesuatu yang spesial dan membedakan diri dari pesaing yang lain. Namun, di masa sekarang, selain menunjukkan bukti gelar, kita harus ikut melampirkan sertifikat magang, sertifikat bootcamp, skor TOEFL, portofolio, dan berbagai hard maupun soft skills lainnya. Di saat yang sama kita juga perlu mencari koneksi yang bisa membantu merekomendasikan kita ke perusahaan.
Dengan kata lain, sekarang karena lulusan semakin banyak, perusahaan punya lebih banyak kandidat untuk dipilih sehingga seleksi jadi lebih berat dan kompetensi tambahan jadi semakin penting.
Dulu pintu masuk ke dunia kerja mungkin lebih sederhana. Jadi kalau orang tua bilang zaman dulu cari kerja lebih gampang, mereka nggak sepenuhnya salah. Bukan karena dulu semua orang langsung dapat kerja, tapi karena kita sekarang harus membawa jauh lebih banyak bekal untuk sekadar mendapatkan kesempatan dipertimbangkan.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













