Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
24 Juli 2026
A A
Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman Mojok.co

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini saya terus menerus melihat satu pertanyaan yang serupa di aplikasi Threads. Banyak orang bertanya rekomendasi tempat yang enak untuk nongkrong di rumput atau bawa anak main di Jogja.

Ketika saya baca komentar, kebanyakan jawabannya adalah tempat-tempat yang berada di luar Kota Jogja, seperti Wisdom Park UGM, Ledok Sambi, dan Lapangan Denggung di Kabupaten Sleman; Laguna Depok dan Potrobayan River Camp di Bantul; serta Taman Bambu Air Waduk Sermo di Kulon Progo.

Alun-alun Kidul menjadi rekomendasi satu-satunya dari Kota Jogja, yang bahkan lebih cocok dibilang berpasir dibandingkan berumput. Dan, tempat ini nggak bisa dibilang sebagai tempat healing, melainkan tempat jajan atau pacaran.

Sebelum pulang ke Jogja, saya tinggal di sebuah kota kecil di Turki. Meskipun kota yang saya tinggali berkali-kali lipat lebih kecil dibandingkan Jogja, ruang terbuka hijau (RTH)-nya melimpah. Bahkan asrama saya saja dikelilingi taman yang berbeda-beda di keempat sisinya. Ada taman berupa rumput dan pohon tertata, ada pula yang dilengkapi playground dan alat-alat olahraga outdoor, juga kursi-kursi taman.

Saya sering menghabiskan waktu duduk di atas rumput di taman sambil baca buku atau sekadar mendengarkan musik. Rasanya tenteram sekali karena bisa berganti-ganti suasana saat baca buku, bukan sekadar di dalam kamar atau perpustakaan. Lokasi taman-taman ini juga nggak jauh. Tinggal jalan dikit, nggak sampai 5 menit sudah sampai ke taman.

Jogja minim ruang terbuka hijau

Akan tetapi, ketika sampai di Jogja, saya mengalami reverse culture shock. Alasannya pun tampak sepele, saya kebingungan mencari tempat untuk baca buku di atas rumput. Tempat nongkrong berumput yang paling dekat dengan rumah saya adalah Wisdom Park UGM, yang mana butuh waktu 20 menit naik motor.

Ketersediaan RTH di Jogja memang masih jauh dari kata cukup. Standar minimal RTH itu sebenarnya sudah diregulasi secara resmi lewat Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Rinciannya adalah RTH untuk wilayah perkotaan minimal 30 persen dari total luas wilayah.

Dari hasil penelitian, RTH di Kota Jogja baru punya luasan 18,6 persen dari luas keseluruhan kota ini. Detailnya, RTH pekarangan di Jogja seluas 14,33 persen; RTH taman dan hutan kota seluas 1,24 persen; RTH sepanjang jalan seluas 1,54 persen; dan RTH dengan fungsi tertentu seluas 1,59 persen.

Baca Juga:

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Dari angka ini kita bisa ambil kesimpulan bahwa Jogja kekurangan RTH. Persentasenya masih jauh di bawah standar. Pantas saja kita kesulitan cari tempat nongkrong dan harus melipir ke kabupaten lain. Kita nggak bisa jalan kaki untuk mampir ke RTH terdekat karena memang nggak sangat sedikit RTH di kanan-kiri tempat tinggal kita.

Harapan warga

Jujur saya sedih karena fasilitas publik berupa green space di Jogja belum memadai. Kita sebagai warga Jogja kesulitan mencari sepetak rumput yang asri tanpa harus berebut tempat di tengah lautan beton. Harapan saya tentu saja Pemerintah Kota Yogyakarta bisa membenahi permasalahan ini.

Saya nggak muluk-muluk meminta pemerintah bikin alun-alun raksasa baru. Toh, itu hampir mustahil terwujud. Pemerintah bisa memanfaatkan lahan-lahan sisa yang mangkrak di tengah perkampungan padat untuk disulap jadi taman kecil yang nyaman pun saya sudah senang. Nggak harus besar, seukuran dua atau tiga petak rumah sudah cukup, asalkan tersebar merata di setiap RW atau kelurahan.

Luas wilayah Kota Jogja yang sudah kecil dan makin menyempit karena lahannya dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan memang bakal jadi tantangan buat pemerintah. Tapi, ini bukan hal yang mustahil, asalkan ada kemauan dari pemerintah untuk memprioritaskan warganya. Asal kreatif pasti jadi, kok.

Keresahan ini sepertinya sudah ditangkap pemerintahan maupun instansi setempat, mengutip berbagai pemberitaan, Kota Jogja memang sedang gencar menambah RTH baru sejak awal tahun ini. Namun, sepertinya, dampaknya belum benar-benar terasa. 

Semoga berbagai upaya demi kenyamanan ini dampaknya bisa  dirasakan warlok segera ya. 

Penulis:  Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2026 oleh

Tags: JogjaKota JogjaRTHruang terbuka hijau jogjaruangterbuka hijau Jogjataman Jogja
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Derita Mahasiswa Manado yang Tersiksa Kuliah di Kota Jogja (Unsplash)

Derita Mahasiswa Manado Penghuni Kosan Tanpa AC di Tengah Panasnya Kota Jogja yang Menusuk Sampai Lapisan Kulit Paling Dalam

20 April 2024
Derita Masyarakat Solo Purwodadi Menghadapi Bus Rela (Unsplash)

Derita Masyarakat Solo Purwodadi Menghadapi Bus Rela karena Nggak Punya Pilihan

6 Mei 2023
Karen Chicken by Olive Chicken Dari Jogja untuk Surabaya (Mojok.co:Agung Purwandono)

Karen Chicken by Olive Chicken Disambut Hangat Warga Surabaya, Masterpiece Ayam Goreng Asal Jogja yang Jadi Primadona

29 Mei 2024
Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

9 April 2023
4 Menu Red Flag dari Warmindo yang Perlu Diberi Perhatian Khusus, Hindari Boleh, Nggak Juga Nggak Apa-apa, asal Waspada! jogja

4 Menu Red Flag dari Warmindo yang Perlu Banget Diwaspadai, Hati-hati!

7 Januari 2024
5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.