Coba saja tanya warlok Semarang, di mana tempat yang pas untuk menghabiskan akhir pekan. Mayoritas pasti akan menjawab mal. Di Semarang, mal perlahan jadi pilihan warga untuk hiburan dan menghabiskan waktu luang.
Tidak melulu belanja barang, di sana pengunjung juga bisa kulineran, nonton film, hingga momong anak di area playground. Rasa-rasanya mal jadi tempat paling aman bagi warlok untuk menghabiskan akhir pekan.
Asal tahu saja, ada banyak pilihan mal di Semarang. Tak sekadar bangunan megah, tiap mal punya konsep masing-masing yang unik. Sebut saja, Pollux Mall Paragon, Mall Ciputra di kawasan Simpang Lima, DP Mall, Java Supermall, Tentrem Mall, Queen City Mall, The Park Semarang, hingga Uptown Mall BSB City.
Seolah tak cukup dengan mal yang sudah berdiri. Mal-mal lain masih dibangun di Kota Atlas ini. Belum lama ini misalnya, Semarang membuka 3 Semarang Shopping Center yang digadang-gadang sebagai salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jawa Tengah.
Tolong, Semarang tidak butuh mal baru
Tidak sampai di situ, saat ini, Pakuwon Mal Semarang tengah dipersiapkan di kawasan Gombel sebagai bagian dari proyek superblok bernilai triliunan rupiah, membuat saya menepuk jidat dan menggumam, “Mall meneh…”
Mal-mal yang saya sebutkan sebelumnya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk warga Semarang dengan UMR yang tidak terlalu besar itu. Lagipula, sudah rahasia umum bahwa makanan, minuman, dan produk lain yang dijual di mal harganya kurang terjangkau untuk gaji UMR Semarang.
“Lho, kan nggak semua orang Semarang gajinya mentok UMR!”
Memang. Saya tidak bilang bahwa semua orang Semarang kesulitan merogoh kocek demi membeli minuman overprice di mal. Banyak juga golongan orang yang suka menghabiskan waktu di mall dan benar-benar membeli barang-barang di sana lengkap dengan paperbag-nya yang terlihat prestisius itu.
Saya sering membaca keluhan ibu-ibu di media sosial tentang betapa borosnya mereka saat jalan-jalan ke mal bersama keluarga. Menurut mereka, minimal jumlah uang yang dikeluarkan untuk sekali jalan adalah Rp500 ribu. Jumlah itu tentu akan makin membengkak, tergantung jumlah anggota keluarganya.
Apalagi in this economy, banyak yang beranggapan bahwa jalan-jalan di mal adalah sebuah pemborosan, kecuali kalau cuma berdiri di iBox selama dua jam dan setelah itu pulang.
Semakin banyak mal, semakin sedikit pilihan
Sebagai warga biasa, saya tentu tidak punya kapasitas untuk menilai apakah proyek-proyek mal tersebut akan sukses secara bisnis atau tidak. Namun, saya rasa, terlalu banyak membangun mal bukanlah solusi bagi masyarakat yang mendambakan tempat aman dan nyaman selain di dalam ruangan ber-AC.
Saya sering membayangkan bagaimana jika Semarang memiliki lebih banyak taman kota yang sejuk. Ada ruang terbuka hijau yang benar-benar terawat, jalur pejalan kaki yang nyaman, atau kawasan wisata keluarga yang mudah diakses.
Entah saya yang mainnya kurang jauh atau bagaimana, setiap mencari informasi tentang tempat wisata keluarga selain mal, saya dihadapkan pada pilihan yang jaraknya cukup jauh dari Kota Semarang.
Kita tidak sedang membicarakan tempat wisata sejuta umat seperti Lawang Sewu, Kota Lama, atau Klenteng Sam Poo Kong ya. Di sini, yang saya highlight adalah tempat rekreasi ramah anak seperti theme park, water park, atau minimal ruang terbuka hijau deh.
Untuk menikmati wisata semacam itu, warga Kota Semarang harus menempuh jarak yang lumayan. Pilihannya ada di Kabupaten Semarang, Bawen, bahkan Salatiga. Bagi orang yang punya kendaraan roda empat, menempuh perjalanan satu hingga dua jam di mungkin bukan masalah. Namun, bagi keluarga yang ke mana-mana naik roda dua, hal itu tentu merepotkan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak pergi.
Mal bukanlah solusi
Sebagai konsumen sekaligus warga setempat yang mengamati geliat pertumbuhan Kota Semarang, saya khawatir adalah munculnya kesan bahwa mal menjadi solusi atas hampir semua kebutuhan hiburan masyarakat. Lama-lama, kita seperti tidak punya pilihan lain selain menjadi pengunjung pusat perbelanjaan.
Semarang adalah kota besar dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Anak-anak yang digadang-gadang sebagai generasi emas membutuhkan ruang bermain yang aman dan nyaman, lebih bagus lagi kalau terjangkau.
Penulis: Dini Sukmaningtyas
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













